Saya tidak tahu sejak kapan, dalam beberapa tahun terakhir dua jenis manusia ini selalu muncul tiap menjelang Ramadan: manusia yang memaksakan ibadah puasanya dihormati, dan manusia yang juga minta dihormati meski tidak berpuasa.

Tipe manusia pertama, sebagaimana yang sudah sering kita ketahui bersama, adalah mereka yang mudah sekali di/terprovokasi lewat berita-berita viral yang tak jelas keabsahan datanya atau karena kelewat serius menanggapi ocehan para “ustadz cyber” di media sosial terkini, hanya karena mereka menganggap berita-berita tersebut menodai bulan suci Ramadan—dan tidak menghormati orang yang sedang puasa. Ciri-ciri manusia jenis ini mudah sekali diidentifikasi: suka menyerang, baik secara fisik mau pun tekstual, sibuk mendamprat, gemar mengkafirkan, dan amat mudah mengancam atas nama Tuhan.

Bagi mereka, kesucian ibadah Ramadan akan lebih bermakna jika kaum yang berbeda keyakinan dipaksa menghormatinya. Bagaimana bentuk pemaksaan tersebut? Salah satunya adalah dengan merengek kepada pemerintah agar menutup paksa warung-warung penjual makanan hingga tempat hiburan malam. Jika pemerintah tak menanggapi, mereka sendiri yang akan turun tangan menutup paksa. Pokoknya segala hal yang dapat mengganggu ibadah puasa harus digebuk. Tak usah heran jika suatu saat nanti salah satu manusia tipe ini ada yang akan mengkafirkan Shizuka karena menganggap roknya kelewat pendek sebagai bintang film kartun.

Tipe kedua, sebagaimana yang sudah ditulis di atas, adalah mereka yang tidak berpuasa, tetapi juga minta dihormati. Hingga derajat tertentu, permintaan mereka cukup masuk akal. Pasalnya, mereka adalah “korban” dari dominasi mayoritas yang kelewat batas. Merekalah para penjaja makanan pada siang hari di bulan Ramadan atau para pelaku industri hiburan malam. Oleh para “fundamentalis” Ramadan, mereka dicap sebagai biang kerok yang menyebabkan ibadah puasa menjadi tidak khusyuk.

BACA JUGA:  Pelajaran Nahwu-Sharaf untuk Kak Hafidz Ary yang Cerdas

Akan tetapi, dengan hantu demokrasi yang tengah bergentayangan di negeri ini, para “scapegoat” ini pelan-pelan dapat menghela napas. Banyak aktivis “liberal” yang sangat demokratis itu menganggap mereka hanyalah menjalankan rutinitasnya, dan oleh karenanya, patut pula dihormati. Gejala ingin dihormati itu pun mulai menjangkiti mereka. Lama kelamaan, kedua tipe manusia ini pun mulai bersaing demi rasa hormat. Menggelikan.

Bagi saya, yang pengetahuan agamanya tidak sedahsyat Hafidz Ary atau Ulil Abshar Abdala ini, rasanya sangat mengherankan melihat sikap kedua tipe manusia tersebut. Perseteruan mereka rasanya seperti dialektika omong kosong yang terus berputar dalam spiral kedunguan tak berujung. Lingkaran setan.

Kebanggaan macam apa memangnya yang Anda rasakan, jika orang menghormati kepercayaan Anda karena terpaksa atau sekadar merasa kasihan? Apa yang hebat, suci, tegak, dari pola keimanan dan kehormatan macam itu?

Muak dengan kedua tipe manusia tadi, saya lalu merangkai imaji Ramadan versi sendiri. Saya membayangkan, alangkah menyenangkan jika tiap orang menyambut Ramadan dengan menautkan romantisme masa kecilnya masing-masing: menyantap sahur dengan kantuk yang tak tertahan, bergegas salat subuh di masjid karena teman-teman sepermainan sudah ramai menunggu, pergi istirahat di masjid ketika siang tengah terik, berburu jajanan di pasar atau mengolah kolak sendiri untuk menu berbuka, lalu dituntasi dengan bermain petasan sesaat setelah selesai Tarawih di masjid.

Tak ada praduga, tak ada tendensi, tak ada kedegilan untuk memaksakan rasa hormat kepada pihak lain. Tak ada upaya memantik belas kasih, juga perasaan berhak dihormati. Ramadan jadi menyenangkan, menenteramkan. Situasi semacam itulah yang saya kira membuat Ramadan dimaknai sebagai bulan yang selalu ditunggu hadirnya. Seperti menanti tanggal merah yang dilingkari di kalender. Dengan kata lain: Ramadan semestinya adalah liburan, kegembiraan, kebersahajaan. Bukan peperangan, bukan upaya mendominasi pihak lain dengan sikap pengecut yang gemar keroyokan khas mayoritas.

BACA JUGA:  Wayang yang Memuji Diri Sendiri

Saya tak mengerti sejak kapan tren memaksa dan memelas meminta dihormati itu mulai ramai dirayakan. Hidup kok cuma berebut penghormatan. Situ manusia atau bendera?

No more articles