Kepada setiap orang yang bertanya apakah tujuan Mojok sebenarnya, saya selalu bilang: Mojok berusaha menjadi kanal demokrasi (digital) yang lugas bagi setiap gagasan. Tentu saja saya sedang sok belaka. Dalam hati saya cekikikan:

“Demokrasi ndasmu….”

Saya justru senang Mojok tidak menjadikan dirinya situs web yang hendak mengubah dunia. Cita-cita macam itu, bagi saya, selalu menjadi narasi paling banal dan menggelikan sepanjang sejarah peradaban. Terlebih di zaman sekarang, ketika impian macam itu kian menggelora di dada banyak orang. Padahal, mengutip cuitan salah satu akun Twitter favorit saya, @XilitpitiX:

Karo tanggane dhewe wae ra ngaruhke….”

Mojok, sejauh yang saya pahami, hadir “hanya” sekadar untuk menyegarkan pikiran pembaca. Bahwa kemudian ia perlahan dianggap serius sekian khalayak, itu bisa jadi nasib baik, juga bisa buruk. Baik karena ternyata kami “ada”. Buruk karena ternyata “ke-ada-an” itu tak melulu menyenangkan bagi sebagian orang.

Hal lumrah belaka yang kadang diberat-beratkan tafsirannya.

* * *

Semua bermula pada hari itu—seperti biasa saya lupa tanggal tepatnya. Puthut EA menghubungi saya via telepon seluler. Dengan santainya ia menawari saya untuk mengisi posisi lowong di Mojok sekaligus mendampingi Arlian Buana.

Terus terang saja, ini momen menyenangkan sekaligus kelewat menyebalkan. Saya belum lama meninggalkan Jogja dan belum lama pula bekerja di sebuah media gaya hidup di Ibu Kota. Kok ya mendadak dapat tawaran begini. Terlebih dulu saya juga sudah membuat status perpisahan di Facebook dengan sesentimentil mungkin. Asu.

Ditawari pekerjaan di kota yang sangat saya cintai, oleh orang yang sudah cukup saya pahami kualitas pribadinya (juga sikap kerjanya), membuat saya tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakan tersebut. Akhirnya cukup kurang lebih dua bulan saja di Jakarta, saya pun kembali lagi ke Jogja.

Menyenangkan betul, meski lagi-lagi saya harus menenangkan dan meyakinkan ibu di rumah bahwa saya kelak akan kembali serta mengenalkan calon istri kepadanya. Uhuk.

Bekerja bersama Puthut bukan pertama kali ini saya alami. Bertahun sebelumnya, oleh rekomendasi Nuran Wibisono, saya juga terlibat proyek pembuatan buku biografi Slank—salah satu proyek paling membahagiakan yang pernah saya jalani karena saya sendiri memang seorang slankers.

Sejak itu saya mulai mengenali Puthut EA dalam tiga dimensi sekaligus: sebagai atasan, rekan kerja, kawan tongkrongan.

Sejauh saya coba mengerti, Puthut bukan jenis atasan yang mesti kamu hormati dengan cara membungkuk-bungkukkan punggung. Kamu akan tahu dengan sendirinya waktu yang tepat untuk memosisikan Puthut sebagai bos, kawan, atau rekan kerja. Saya pribadi lebih sering mengenalnya sebagai kawan. Dalam beberapa momen, ia juga saya anggap sebagai kakak. Tapi tak perlulah kita mendramatisir bab ini.

Jika ada yang kurang dari Puthut, ia nyaris tak pernah memberi wejangan soal rumus menulis.

Ketika kamu memiliki atasan seorang cerpenis ternama, tentu menyebalkan jika kamu hanya mendapat sedikit ilmu tentang itu semua. Saya ingin sekali berguru soal itu kepada Puthut sebenarnya. Tapi, entah kenapa, ia selalu tampak (memosisikan diri) seperti cerpenis pensiunan yang ogah kembali berurusan dengan hal-hal elementer macam itu. Saya segan betul dibuatnya.

Di Mojok saya ditugasi Puthut untuk berpartner dengan Arlian Buana di redaksi. Inilah kali pertama saya bekerja sama dengan pemuda tampan penggemar klub bola medioker di London dan pengidap obsesi absurd menjadi Ariel Noah itu.

BACA JUGA:  Catatan Pinggiran untuk Mojok dan Goenawan Mohamad

Bana, begitu ia biasa dipanggil, dalam persepsi saya adalah pria yang begitu cerdas. Kecuali sikapnya yang sesekali individualis dan moody (ini menyebalkan karena mirip dengan karakter saya), ia rekan kerja yang menyenangkan.

Beberapa kali, tentu saja, kami berselisih paham. Tapi itu jenis konflik yang diperlukan. Semacam necessary evil agar kami saling memahami satu sama lain. Darinya saya kemudian tahu siapa saja monyet-monyet yang patut didakwa sebagai haters abadi Mojok. Kepada mereka saya ingin menyitir perkataan Subcomandante Marcos:

We are sorry for the inconvenience, but fuck you.”

Berbulan-bulan kami menjadi rekan, dengan segala keasyikan dan perseteruan, hingga kemudian Bana pindah ke Jakarta untuk bekerja di salah satu media besar di negeri ini: Tirto.id.

Ketika Bana pindah, saya gantian mengisi tempatnya. Puthut lalu menjadikan posisi lowong saya sebagai sayembara. Ia juga turut menyeleksi beberapa pendaftar, pun menawari mereka yang dianggap potensial.

Dea Anugrah, seseorang yang selalu saya bilang ke siapa pun sebagai penulis terbaik di generasi saya, juga sempat diajak berbincang. Kala itu, pada sebuah sore yang gerimis di bangku pojok Angkringan Mojok, Dea tampak malu-malu luwak. Imut betul, jadi pengen ngiloin.

Pilihan akhirnya jatuh kepada monster ini: Agus Mulyadi Antoni. (P.S.: sekarang ia lebih nyaman dipanggil Alex, singkatan dari Agus Young Lex).

Ada perbedaan cukup jauh ketika berpartner dengan Bana dan Agus. Bana memberi saya kenyamanan secara intelektualitas dan kejelian dalam mencari naskah. Sementara Agus lebih kerap memosisikan dirinya sebagai “rekan kultural” ketimbang “partner struktural”. Tentu saja keduanya memiliki atmosfer positif dan negatifnya masing-masing yang tak perlu-perlu amatlah untuk saya ceritakan di sini dengan detail.

Agus adalah pribadi yang spontan, jenaka, dan, dalam beberapa momen, sangat menyebalkan. Seperti yang saya tulis tempo hari di awal #PekanTeman Mojok, kebiasaan bernyanyi Agus adalah salah satunya. Ini serius.

Agus saya kira adalah satu-satunya makhluk di alam semesta ini yang setiap baru bangun tidur, dengan mata yang masih penuh belek, mulut yang masih berserakan liur kering, dan kesadaran yang belum sempurna sepenuhnya, bisa langsung bernyanyi. Kencang dan fals, tentu saja. Seperti burung beo yang tak tahu diri. Dan yang mengerikan, semua terjadi seperti otomatis begitu saja. Bangke.

Yang merepotkan dari Agus, ia orang yang selebor, juga kurang peka detail. Lagi-lagi, ini hal aneh mengingat Agus adalah juga seorang desainer grafis yang notabene wajib mengamati hal-hal kecil. Tapi apa boleh bikin. Jika saja lelucon dan celetukan-celetukannya tak lucu, saya pasti akan menghipnotis Agus agar percaya bahwa ia sesungguhnya memang serigala, bukan manusia.

Di luar kerja redaksi, ada Aditya Rizki yang memimpin kami semua di Mojok lewat divisinya sendiri: divisi webmaster. Pria pendiam yang playboy bukan main ini bertugas mengatur semua kerja teknis situs web. Mengapa kemudian Mojok dapat hadir dan menggedor-gedor Anda sekalian, kepada Adit-lah sumpah serapah sekaligus terima kasih pertama-tama perlu diaturkan.

Lalu kemudian Nody Arizona. Memiliki kepribadian yang agak mirip seperti Adit—pendiam namun jelalatan, Nody adalah bank Mojok. Darinya perputaran uang diatur, dirincikan, termasuk soal honorarium penulis.

Jika Puthut adalah Don Corleone, Nody merupakan Tom Hagen. Di luar keintiman satu sama lain, keduanya telah diberkahi insting saling memahami tanpa perlu terlibat pembicaraan intens.

BACA JUGA:  [MOVI EPS 8] Tutorial Hijab Simple Ala Mojok

Di separuh masa kerja saya, ada rekan baru, namanya Ziza, yang hadir ke dalam tim Mojok. Ia bertugas sebagai admin sosial media, pengatur serangan di linimasa Twitter, sekaligus desainer meme-meme menyebalkan untuk Anda semua. Ada satu hal yang membuat saya terkejut ketika mengenal Ziza: pria jenaka ini ternyata sempat mendaku sebagai murid Ali Antoni (idola Agus Mulyadi juga).

Ealah, mesakke tenan uripmu, Za….

* * *

Saya menikmati ritme bekerja di Mojok dan unit KBEA lain secara keseluruhan. Tak ada jam kantor, bekerja bisa di mana saja, dan selalu ada tenggang waktu untuk rapat. Sejujurnya, memang seperti inilah yang saya harapkan. Kamu tak perlu bangun tidur pagi-pagi dan pergi terburu-buru, lalu pulang dengan tergesa agar tak kelewat larut.

Kamu tak perlu “Menjadi Tua di Jakarta” seperti yang ditulis Seno Gumira.

Hanya saja, sudah bertahun-tahun saya hidup dan menghidupi diri dengan cara seperti itu. Hasilnya: badan kian bergelambir lemak, napas mudah sesak—meski saya masih sanggup main futsal satu jam nonstop, dan amat sering bolak-balik rumah sakit.

Selain itu, Bung dan Nona sekalian, Jogja merupakan tempat yang terlalu nyaman untuk terus-menerus ditinggali. Hidup di Jogja seperti berkubang di genangan gulali: kamu akan selalu dibuat lengket olehnya. Entah kenapa.

Kawan baik saya, Nuran, pernah bilang bahwa kamu harus pergi dari kota ini sekian lama agar bisa kembali membawa rindu yang lebih tebal. Nasihat yang tentu saja klise. Tapi apalah yang tidak klise tentang cinta?

Maka, kali ini, saya pun memilih pergi. Dengan dada yang lebih lapang, detak jantung yang lebih wajar, dan perasaan yang tidak kelewat dramatis. Semoga semua bisa disudahi dengan biasa-biasa saja. Halah.

Saya pasti akan merindukan rumah di Dusun Drono itu: kantor Mojok sekaligus tempat tinggal.

Rindu Nody yang selalu menjadi partner in crime saya selama ini, rindu Kang Eko yang konon punya Pukulan Matahari dan Kapak Naga Geni 212, rindu ngecekin isi WhatsApp-nya Agus tanpa ia ketahui, rindu ruang kerja, komputer apel growak, dan bangkunya itu, rindu suara jangkrik dan bunyi kaki-kaki kucing yang berlarian di atap, rindu tukang sampah yang saban pagi suka dateng tiba-tiba, rindu pager di depan pekarangan, rindu ketiduran di sofa ruang tamu, rindu bangku beton di samping taman, rindu dapur tempat masak mi tengah malam, rindu kasur empuk tanpa seprai dan tumpukan bantal yang apek, rindu apa aja deh yang penting mashoookkk….

Saya yakin, Mojok akan tambah berkibar dengan segala daya gedornya. Terlebih kini sudah ada Prima Sulistya dan ke depan, Ayos Purwoaji akan kian meluangkan waktunya untuk menggarap konten audiovisual yang memang selama ini sudah direncanakan. Agus pun, meski masih tertatih, sudah mulai memahami hidup selayaknya manusia—minimal ia makan sudah menggunakan tangan, tak lagi langsung pakai mulut.

Kelak, ketika usia uzur dan keringat sudah bau tanah, saya akan melihat generasi cucu saya menjadikan Mojok sebagai situs web rujukan untuk bersenang-senang. Harapan ini, tentu saja, lebay bukan main. Tapi saya tak peduli.

Terima kasih, Mojok Dot Co. Mati kau, Jakarta!

Komentar
Add Friend
No more articles