Meski lidah Anda sangat agraris (baca: ndeso), saya tahu bahwa Anda pasti juga doyan pizza. Mungkin pada mulanya Anda memaksakan diri doyan agar bisa bertahan dalam rimba kehidupan modern. Tapi lidah, sebagaimana kelamin, juga lihai bernegosiasi. Maka lambat laun marwah aktualisasi diri mulai terlupakan, terganti dengan keajegan yang sederhana: kebutuhan perut.

Pizza memang enak dan, kerennya lagi, makanan itu sangatlah mencerminkan semangat komunal. Lihatlah bagaimana bentuk pizza dan perhatikan pula bagaimana penyajiannya; ditaruh dalam loyang besar dan dimakan dengan bebrayan.

Tapi itu bukan fakta yang mengejutkan, sebab foccasia–nenek moyang pizza, sejenis roti panggang berbentuk datar–memang dikenal sebagai kudapan khas rakyat jelata di Naples sebelum ratu Margerita di Savoia turut mencicipinya. Sejak itu, strata sosial pizza pun naik level.

Dengan identitas yang demikian, saya kira rasanya sah-sah saja jika ada yang menganggap pizza sejatinya turut mencerminkan semangat “indonesiawi”. Nggak percaya?

Pertama, apalagi jika bukan karena pizza, sebagaimana yang sudah ditulis di atas, merupakan kudapan yang terasa begitu komunal.

Bangsa ini, Anda tahu, ditatah oleh perilaku komunal yang begitu intens di setiap penjurunya, bahkan hingga titik ekstrim. Maka tak usah jika ada istilah “korupsi berjamaah” atau kebiasaan tawuran massal di Indonesia. Sebab kita memang sangat gemar beramai-ramai ketimbang unjuk nyali sendirian. Pizza melengkapi perilaku khas tersebut.

Kedua, peralihan status sosial pizza sebagai kudapan.

Pada mulanya pizza dianggap sebagai makanan kelas atas di Indonesia. Hanya orang-orang kaya saja–itu pun wabilkhusus hanya mereka yang berada di wilayah urban–yang mampu mengunyah pizza awalnya. Jika kamu tajir tapi tinggal di pedalaman Sulawesi sana, ya jangan harap bisa merasakan enaknya pizza.

Tapi itu dulu. Kini, setelah kian tereksplor, beragam bentuk pizza terus dimodifikasi oleh para pebisnis kuliner dengan harga yang juga ditekan mahalnya. Sebut saja: pizza tempe, pizza rendang, atau pizza jagung. Tinggal tunggu waktu saja ada orang yang cukup waras memasukkan buah surga bernama petai ke dalam olahan pizza.

Bisa Anda bayangkan betapa eksotisnya pizza petai tersebut? Aroma semriwing khas petai dari barat Nusantara dengan cara memanggang ala Mediterania. Oh, betapa ajaibnya. Cocok dimakan dengan nasi hangat dan sayur lodeh.

BACA JUGA:  Benarkah Wartawan Tempo Boleh Merokok Ganja?

Persebaran pizza pun kini lebih luas. Jika dulu hanya mereka yang berada di kota yang bisa merasakannya, kini pizza ada di mana-mana. Bahkan membuatnya sendiri pun cukup mudah. Pizza, entah disadari atau tidak, telah terintegrasi ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Belakangan, tepatnya beberapa hari lalu, isu soal pizza kembali ramai. Sebuah majalah legendaris di negara ini–sebut saja namanya Bunga, eh Tempo–menerbitkan sebuah liputan investigasi mengenai bahan-bahan yang diduga kadaluwarsa oleh dua resto ternama, di mana salah satunya adalah restoran pizza waralaba.

Masyarakat gempar–sebenernya sih ya nggak, biar lebay aja ini mah–terutama yang di jagat maya. Tagar #AdaApaDenganPizza berseliweran di Twitter sampai Friendster (iya saya tahu yang satunya udah nggak ada, cerewet lu). Banyak orang merasa kenikmatan mereka dalam memakan pizza tengah terancam. Ini pelik, tuan dan nyonya.

Ironisnya, liputan Tempo tersebut tak direspon melulu secara positif. Barisan akun (sok) investigatif yang memang bertebaran di Twitter ramai-ramai melancarkan serangan.

Pertama-tama, mereka meragukan liputan Tempo yang didasari pada sumber anonim–ini memang persoalan serius Tempo yang belakangan kerap disinggung oleh khalayak dan cukup mengganggu kredibilitas Tempo sendiri.

Tempo menyebut liputan ini dilakukan mula-mula berdasarkan informasi dari sekian informan–tidak jelas informan macam apa yang dimaksud–yang berkolaborasi dengan beberapa wartawan Tempo dan BBC. Dari penelusuran tersebut terungkap bahwa kedua restoran waralaba yang dimaksud, Pizza Hut dan Marugame Udon, diduga kuat menggunakan bahan makanan yang kedaluwarsa.

Bahan makanan tersebut sering melebihi 1, 2, 3 sampai 6 bulan setelah penetapan masa expired. Hal ini diklaim Tempo sudah sangat sering dilakukan oleh Pizza Hut dan Marugame Udon dan sudah berlangsung selama 3 tahun lebih hingga kini. Lebih jauh Tempo menyebutkan hal tersebut juga banyak dilakukan oleh resto besar lainnya di beberapa kota besar Indonesia.

Tapi gugatan akun-akun tadi mengenai sumber anonim Tempo sebetulnya juga lucu. Lha, mereka sendiri kebanyakan akun anonim juga. Anonim mendamprat anonim. Rasanya saya pengen menempelkan stiker “sesama Mayasari Bakti tak boleh saling mendahului” ke jidat mereka masing-masing.

BACA JUGA:  Persetankan Pizza Kedaluwarsa, Mie Ayam dan Saos Abal-Abal adalah Harga Mati!

Kedua, akun-akun tadi juga mempertanyakan mengapa dua resto waralaba itu yang mendadak kena sasaran investigasi Tempo?

Khusus poin kedua, ada satu akun yang cukup genial menafsirkan liputan Tempo tersebut. Menurutnya, jika yang dipersoalkan Tempo adalah bahan baku pembuatan, yang mana adalah tepung, maka publik harus menilik lebih jauh siapa produsennya.

Jawabannya: kedua resto tadi menggunakan tepung dari produsen yang sama dari PT. Sriboga Raturaya. Dengan kata lain, masih menurut akun tersebut, Tempo sebetulnya mengincar PT. Sriboga Raturaya dalam liputan investigasi mereka, bukan resto terkait.

Maka pertanyaannya bisa dikembangkan lebih jauh lagi: ada apa dengan PT. Sriboga Raturaya? Siapa yang diuntungkan dalam hal ini?

Direktur Utama PT Sriboga Raturaya, Alwin Arifin, dalam berita yang diturunkan Tempo, Senin (5/9/2016) sudah membantah dugaan penggunaan produk kedaluwarsa di restoran waralabanya. “Pokoknya enggak benar. Itu fitnah!”

Hal lain yang juga turut dipersoalkan adalah kulit muka Tempo yang dinilai merusak gambar khas biskuit Khong Guan. Tapi ini persoalan hak cipta, tak usahlah kita bahas lebih jauh. Mojok saja sering dijiplak artikelnya berkali-kali ya biasa saja kok…

Bagi saya pribadi, liputan Tempo sebetulnya cukup nyentrik. Dari sekian kemungkinan bahan baku (kadaluwarsa) yang digunakan banyak restoran waralaba lainnya, Tempo dengan cihuy memilih tepung. Bisalah kita sebut ini jenis liputan “hipster investigation” karena kecenderungannya yang bertolak belakang dengan arus utama yang tengah marak.

Sudah, Anda tak perlu ikut-ikutan belagak jadi Sherlock untuk memecahkan kasus ini. Anda tak secerdas itu, jadi nikmati saja lika-liku liputan ini semampunya kinerja otak Anda, jangan dipaksakan. Tak perlu pula lebay karena adanya kasus ini Anda merasa tak bisa lagi menikmati pizza.

Anda mungkin lupa bahwa negeri kita tercinta ini juga punya kudapan lain yang sejatinya lebih menggugah ketimbang pizza.

Namanya: martabak telor.

No more articles