Rubrik: Susul

Suara Hati Crossdresser yang Penuh Cinta Pada Tubuh Cantik Prianya

Mereka terlihat anggun. Bahkan cantik layaknya selebgram yang banjir endorsement. Senyum bibir bergincu mereka akan membuat hati kaum adam berdesir. Dan terbukti dari banyaknya ajakan kenalan melalui DM Instagram mereka. Crossdresser, itu sebutan untuk mereka.

Crossdresser bisa diterjemahkan sebagai pengguna pakaian yang bersilang. Silang disini maksudnya silang antargender biner (laki-laki dan perempuan). Artinya, mereka adalah orang yang memakai pakaian dan bersolek layaknya lawan jenis mereka. Pria bersolek ala wanita, dan wanita bersolek ala pria. Tentu kita akan lebih mudah memahami crossdresser ini dalam ranah gender biner tadi.

Tapi crossdress berbeda dengan konsep androgini. Konsep busana androgini berusaha untuk menghilangkan sekat antara busana laki-laki dan perempuan. Busana androgini tidak bisa diidentifikasikan menurut gender biner. Bisa dibilang, busana androgini adalah buffer dari dua kultur busana berbasis gender.

Sedangkan crossdresser benar-benar menyeberang dari kultur budaya gender ini. Laki-laki akan mengenakan wig, hijab, sabrina, rok, gamis, highheels, dan segala pakaian yang ditujukan untuk perempuan. Mereka juga berdandan layaknya perempuan, dari bedak sampai gincu. Penampilan mereka benar-benar menyeberang dari kelaki-lakian yang menjadi status sosial mereka.

Begitu pula dengan crossdresser perempuan yang akan berpenampilan menjadi laki-laki. Bahkan sampai menekan area dada demi mendapat dada bidang layaknya laki-laki. Karena tujuan mereka adalah sebisa mungkin menjadi laki-laki.

Apakah crossdresser ini punya kecenderungan homoseksual? Apakah crossdresser bisa disamakan dengan waria? Apakah crossdresser sudah lepas dari status gender biner mereka dan ingin menjadi gender lain? Untuk itu saya menggali kehidupan mereka. Dari alasan mereka menjadi crossdresser, sampai bagaimana mereka menunjukkan jati diri mereka ke masyarakat.

Aku mencintai tubuh wanitaku

Pertama ada Kak Yovanna (22), seorang crossdresser yang kini tinggal di salah satu kota kecil di Jawa Barat. Kak Yovanna bisa dibilang veteran sebagai crossdresser. “Dari SMP sih, tapi kelas 1 SMA aku berhenti. Lama banget. Sampai 2018 awal gitu. Baru pertengahan 2018 mulai lagi,” ungkap Kak Yovanna mengenang perjalanan sebagai crossdresser.

“Kalau pertama dulu kenapa bisa pengen crossdress gitu,” tanya saya

“Ya aku suka aja sama pernak pernik cewek. Bisa dibilang dari kecil aku udah condong jadi cewek sih,” ujar Kak Yovanna dari balik layar smartphone saya. Dan ketika saya wawancarai, Kak Yovanna juga berdandan layaknya perempuan. Lengkap dengan make up casual dan kaos warna pink cerah.

Dengan penampilan seperti itu, saya merasa sedang mewawancarai perempuan. Apalagi suara Kak Yovanna memang cenderung kecil layaknya perempuan.

“Penampilan seperti itu apa jadi keseharian?” Tanya saya penasaran.

“Ya gitu deh. Aku biasa kayak gini kalau lagi di kos. Tapi kalau di luar sih jarang-jarang. Kalau niat outting, ya aku dandan dulu di luar,” jawab Kak Yovanna.

“Outting?” tanya saya kembali. Tidak paham apa yang dimaksud Kak Yovanna.

“Hahaha, maksudnya keluar sambil crossdress. Yah keluar kos emang belum dandan. Ntar cari tempat buat dandan. Jadi bawa make up set sama baju gitu di tas,” jawab Kak Yovanna sambil terkekeh.

“Dimana kak biasanya kalau dandan buat outting tadi,” tanya saya menelisik.

“Ada deh hahahaha. Pokoknya cari toilet aja. Gausah kepo deh dimana,” jawab Kak Yovanna sambil terkekeh. Yah saya pikir urusan lokasi memang harus disimpan demi kenyamanan Kak Yovanna.

“Ga takut gitu kalau crossdressing di luar kak? Takut ketahuan atau gimana gitu,” tanya saya kembali.

“Yah awal sih deg-degan. Apalagi gestur aku masih cowok banget. Jalan aja dulu bener-bener cowok. Kadang panik juga kalau diliatin apalagi disapa orang di jalan. Tapi makin lama aku pede aja sih. Cara jalan juga udah natural aja,” ungkap Kak Yovanna.

“Pernah ketahuan orang yang dikenal gitu? Maksudnya orang yang tidak tahu kakak ini crossdresser,” tanya saya.

“Untungnya ga pernah. Aku kalau outting juga ga sembarangan pilih tempat kok. Pokoknya cari tempat yang kecil kemungkinan ketemu teman. Lagian aku pakai masker terus kalau outting,” jawab Kak Yovanna

“Tapi kenapa sih kakak outting? Apakah ada alasan tertentu selain pengen aja,” tanya saya kembali.

“Yah aku seneng aja nunjukin diri sebagai cewek. Meskipun aku belum sempurna dandannya, aku tetap pengen nunjukin diri. Meskipun ya masih takut ketahuan itu. Puas aja sih. Ibarat cewek umumnya, masak dandan Cuma buat di kamar, pasti buat jalan lah hahaha,” ujar Kak Yovanna sambil tertawa.

“Apalagi kalau sama temen sesama crossdresser. Rugi aja kita udah dandan bareng tapi ga ditunjukin. Biasanya habis dandan kita jalan-jalan bareng ke mall apa nongkrong gitu. Mungkin orang tahu sih kita sebenernya cowok. Tapi bodo amat sih selama ga digodain hahaha,” imbuh Kak Yovanna.

“Pernah digodain kak?” Tanya saya. Kak Yovanna hanya terkekeh sambil bilang, “kepo ah kamu.” Yah entah apa jawaban sebenarnya.

By the way, kakak sama temen-temen kaya komunitas gitu ya?” Tanya saya kembali.

“Yah ga juga sih. Cuma sama-sama suka crossdressing aja dan ketemu di online. Karena rumahnya deketan, kumpul deh kayak di hotel gitu. Dandan bareng kadang juga saling komen outfit. Kamu cocoknya gini, cocoknya gitu. Ya kayak gitu deh,” jawab Kak Yovanna sambil memperbaiki wig yang dipakai.

“Aku kadang minder sama mereka. Mereka dandan keren banget. Bener-bener cantik. Mereka juga pinter milih baju yang sesuai tubuh mereka. Ga menor dan kelihatan banci gitu,” ujar Kak Yovanna.

“Oiya? Itu sampai operasi gitu kah,” tanya saya kembali.

“Operasi payudara maksudnya? Enggak ah. Kan kita crossdresser bukan banci. Kita juga tetep penampilan cowok kalau sehari-hari. Kalau sampai gedein payudara, ntar ga bisa jadi cowok dong hahaha,” jawab Kak Yovanna.

“Aku juga masih badan cowok. Ga terapi hormon juga. Yah ini tantangan sih buat kelihatan cantik tanpa hormon. Kalau udah terapi, gampang banget kelihatan cantik kaya cewek. Kan badannya udah kaya alami gitu ceweknya. Aku merasa tertantang aja buat tetep cantik tanpa jadi cewek pakai hormon,” imbuh Kak Yovanna.

“Emang kenapa sih kak segitunya pengen jadi cewek?” Tanya saya yang tak habis-habis penasarannya.

“Ya aku emang udah condong ke cewek. Aku suka kelihatan cantik. Yah aku cinta sama tubuhku yang cewek ini. Meskipun yah masih jauh cantiknya dari yang lain (crossdresser lain), apalagi sama cewek beneran hahaha,” jawab Kak Yovanna.

“Tapi apakah kakak merasa perempuan, dalam artian….” pertanyaan saya tertahan. Tidak enak untuk langsung menembak perkara ketertarikan seksual.

“Maksudnya suka cowok? Enggak lah. Aku tetap cowok, dan aku tetap suka sama cewek. Crossdressing gini bukan berarti kita kayak banci. Maksudnya bener-bener jadi cewek dan suka ke sesama cowok. Banyak kok yang udah berkeluarga tapi tetep crossdressing. Contohnya ya,” jawab Kak Yovanna sambil mengingatkan untuk tidak menyebut siapa yang dimaksud. Tentu dengan alasan privasi.

“Makanya aku ga mau terapi hormon. Karena aku ga mau sex orientied aku berubah. Aku Cuma nyaman dandan sebagai cewek aja. Nyaman buat berpenampilan sebagai cewek. Kalau ketertarikan tetep sama cewek kok. Aku gak belok,” imbuh Kak Yovanna

“Apa keluarga Kak Yovanna tahu kakak ini crossdresser?” Tanya saya.

“Enggak lah! Aku ga pernah ngomong ke orang rumah. Ke teman-teman juga enggak, kecuali yang sama-sama crossdresser. Kayak gini ga bisa diterima orang. Ntar malah cek cok dan berantem. Makanya aku cuma crossdressing di sini aja. Di rumah aku biasa aja,” jawab Kak Yovanna.

“Karena aku ini cowok,” tegas Kak Yovanna sekali lagi.

Aku ingin jadi perempuan seutuhnya

Kak Bella (18) punya pandangan berbeda dengan Kak Yovanna. Crossdresser dari Pulau Sumatra ini memang belum lama melakukan ini, tentu karena usia yang masih belia juga. Bicara kapan mulai crossdresser, Kak Bella sudah coba-coba sejak SD. “Dari SD aku udah suka pakai baju cewek kak. Aku kadang pakai baju dalam kakak. Sampai sekarang sih masih gitu,” ujar Kak Bella.

“Lah nggak beli sendiri,” tanya saya.

“Kan masih sekolah kak. Belum punya uang buat beli baju hahaha. Yah yang kakak udah ga pakai diam-diam aku ambil. Nanti kalau sampai dicariin aku cuci kalau malam, biar pagi aku masukkan lemari lagi,” jawab Kak Bellla yang masih SMA ini.

“Terus alasan jadi crossdresser gini,” tanya saya kembali.

“Ya karena aku ga suka jadi cowok kak. Aku merasa lebih enak jadi cewek. Aku pengen cantik kak, pengen kayak cewek-cewek Korea itu. Kadang berandai-andai juga kalau punya banyak uang, aku sekalian jadi cewek seutuhnya hahaha,” jawab Kak Bella. Ketika saya temui via video call, Kak Bella berpenampilan layaknya laki-laki pada umumnya. Tapi, saya tetap yakin Kak Bella pakai gincu.

“Yah aku merasa salah saja lahir sebagai cowok kak. Sejak kecil aku ga pernah nyaman buat main bola atau olahraga gitu. Temanku lebih banyak cewek juga kak sampai sekarang,” imbuh Kak Bella.

“Ngomong-ngomong, kalau make up gitu beli sendiri. Nyisihin uang jajan apalagi lagi pandemi kak. Jadi makin jarang jajan. Tapi make up aku juga masih sedikit sih. Belum bisa beli komplit. Paling banyak juga lipstik aja beli online,” ungkap Kak Bella.

“Terus alamat pengiriman gimana? Langsung kirim ke rumah? Apa dititipkan,” tanya saya penasaran.

“Aku numpang teman cewek kak. Kalau mereka beli lipstik aku ikutan. Mereka paham kok aku suka pakai lipstik. Tapi aku ga pernah bilang kalau aku suka crossdressing gini. Apalagi orang rumah, ga boleh tahu lah kak. Bisa diusir nanti hahaha,” Jawab Kak Bella sambil tertawa. Kak Bella juga menunjukkan tumpukan make up di dalam pouch miliknya.

“Terus kalau crossdressing seperti ini sampai keluar rumah ga,” tanya saya kembali.

“Enggak kak. Aku Cuma suka crossdress terus selfie-selfie aja. Kadang bikin Tiktok tapi enggak aku upload. Yah Cuma buat kesenangan sendiri aja kak. Belum berani kalau sampai keluar rumah dandan kayak gini,” jawab Kak Bella.

“Tapi pengen ga,” tanya saya.

“Ya pengen kak. Pengennya malah setiap hari dandan. Pengennya setiap hari aku jadi cewek kak. Beneran aku ga nyaman jadi cowok deh. Makanya aku pengen buruan lulus terus kerja kak,” jawab Kak Bella.

“Biar bisa belanja baju sama make up ya,” tanya saya menelisik.

“Ga Cuma itu kak. Pengen aja kerja jauh dari rumah. Kerja terus ngekos, jadi bisa bebas mau apa saja. Bisa crossdressing tiap hari dan ga takut ketahuan. Kalau perlu bener-bener jadi cewek seutuhnya kak,” jawab Kak Bella pelan-pelan. Mungkin takut terdengar orang lain.

“Berarti sampai operasi dan terapi hormon,” tanya saya. Kak Bella tertawa mendengar pertanyaan saya. Entah bagian mana yang lucu.

“Kalau operasi aku ga kepikiran kak hahaha. Tapi kalau hormon pengen kak. Biar ga punya jakun sama punya payudara alami. Kulitnya juga lebih cewek kak, ga kasar kayak aku sekarang,” Jawab Kak Bella.

“Beneran deh, aku pengen jadi cewek seutuhnya. Andai bisa lahir kembali pasti aku minta jadi cewek. Bisa cantik terus tanpa dilarang gini. Bisa punya boyfriend juga hahaha. Yah tapi kan Cuma mimpi,” jawab Kak Bella sambil terkekeh. Sepertinya mimpi ini dipandang lucu oleh Kak Bella.

“Berarti, kamu emang suka cowok ya,” tanya saya. Kak Bella hanya menjawab “iya” sambil terkekeh. “Yah sejak kecil aku udah suka cowok kak hahaha. Pernah sih suka sama cewek tapi gatau kenapa tetep lebih suka cowok,” ungkap Kak Bella. Perkara urusan asmara ini, Kak Bella menceritakan panjang lebar. Tapi pada akhirnya Kak Bella berkata, “tapi jangan dibahas ya kak. Takut ketahuan hahaha”.

“Berarti jadi crossdresser ini ga Cuma karena pengen cantik ya,” tanya saya.

“Ya aku beneran merasa cewek kak. Dan aku pengen punya cowok yang suka karena aku cantik kak,” jawab Kak Bella.

“Mungkin ga semua crossdresser kayak aku. Tapi aku bener-bener pengen jadi cewek. Jadi crossdresser Cuma karena terpaksa aja, soalnya masih miskin. Kalau bisa, aku tetep pengen jadi cewek seutuhnya kok meskipun ga sampai operasi,” jawab Kak Bella mantap. Dari suara dan tatapan mata Kak Bella, saya yakin hasrat menjadi perempuan benar-benar kuat.

BACA JUGA Asyik Mendengarkan Musik dari Rilisan Fisik Liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.

 

Dimas Prabu Yudianto

Seorang pria penyintas quarter-life crisis. Menjadikan overthinking sebagai jalan ninjanya. Penggemar JRX meskipun kadang malu mengakui.



Leave a Comment
Share
Ditulis oleh