[MOJOK.CO] “Antivaksin adalah bukti bahwa cinta tanpa akal hanya melahirkan ancaman.”

Dulu, saya nggak ngerti, kenapa rekan kerja saya yang anaknya demam saja sampai memilih untuk tidak masuk kerja. Lha yang sakit kan anaknya, bukan dia. Harusnya dia profesional dong, tetap mengerjakan tugas dan kewajibannya. Anak sakit kan bisa diurus orang lain. Apalagi demam doang, gampang lah. Kasih obat, tidur, beres. Nanti juga sembuh sendiri, pikir saya.

Sampai akhirnya, saya merasakan jadi orang tua. Dulu, ketakutan terbesar saya adalah melahirkan. Membayangkan sesosok makhluk sepanjang setengah meter dengan berat lebih dari 3 kg, keluar dari lubang seukuran lubang hidung. Aduh, betapa sakitnya! Dan ternyata ketika saya berhasil melalui proses itu (dengan vagina yang digunting lalu dijahit lagi tanpa anestesi), kini justru ada ketakutan yang lebih besar menghantui. Saya takut kehilangan anak saya, saking cintanya.

Saya rasa, ini adalah ketakutan terbesar para orang tua. Karena itu, sekarang saya bisa paham kenapa sakit sesepele demam pada anak bisa sangat mengusik orang tua. Ada anak-anak yang memiliki riwayat kejang sehingga harus terus dipantau kondisinya. Ada pula penyakit-penyakit ganas yang kini muncul lagi, salah satunya difteri, yang gejalanya juga dimulai dengan demam. Dan semuanya bisa berujung pada hal yang menakutkan: kematian.

Bicara tentang difteri, tentu harus bicara juga tentang vaksin dan antivaksin. Pemerintah saat ini sedang melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di beberapa wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Hal ini dilakukan karena penyakit difteri yang sudah sangat jarang terjadi, kini muncul lagi. Penyakit yang kini masuk KLB (Kejadian Luar Biasa) ini ditengarai mewabah karena banyak orang tua yang tidak mengizinkan anaknya divaksin. Mereka ini yang dikenal dengan istilah kelompok antivaksin.

Dalam pengamatan saya, kelompok antivaksin ini sendiri terbagi dalam beberapa golongan yang beririsan. Golongan pertama adalah mereka yang ragu akan kehalalan vaksin. Banyak rumor yang menyebutkan bahwa vaksin diproduksi dengan menggunakan partikel babi, sehingga haram hukumnya masuk tubuh manusia.

Rumor ini sebenarnya sudah dibantah oleh banyak pihak. Pemerintah sendiri melalui MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa vaksin halal. Mereka yang masih ragu juga dipersilakan melihat proses produksinya di Biofarma, produsen vaksin yang ditunjuk pemerintah untuk membuat vaksin bagi program wajib imunisasi lalu didistribusikan ke puskesmas, posyandu, dan RS melalui pengawasan Kemenkes.

Golongan pertama ini sering dilabeli sebagai golongan muslim esktrim, mereka yang bercadar dan bercelana cingkrang. Padahal, tidak begitu. Banyak teman saya para muslim yang taat dan biasanya oposisi pemerintah adalah para provaksin. Label memang menyesatkan sekali. Seolah semua pendukung alumni 212 pasti membenci Ahok, mencurigai Jokowi, dan mengharamkan vaksin.

Golongan kedua, adalah mereka yang merasa program vaksin wajib pemerintah adalah konspirasi asing untuk menanamkan penyakit atau istilah kerennya senjata biologis pada anak, sehingga generasi anak-anak ini akan jadi generasi gagal, atau bahkan musnah. Vaksin yang mengandung virus hidup ini disuntikkan ke tubuh anak agar kelak bangkit menjadi penyakit ganas yang bisa membunuh satu generasi.

Sedangkan golongan ketiga adalah mereka yang takut akan efek KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi), umumnya dikaitkan dengan kematian mendadak pasca-imunisasi, hingga autisme. Hasil jalan-jalan saya di dunia maya, pernah berujung pada postingan seorang ibu yang memiliki anak autis. Ia menuturkan, dalam tubuh anaknya terdapat kadar merkuri yang sangat tinggi.

Kadar merkuri ini ia duga didapatkan dari alumunium yang menjadi tutup vaksin, karena sebelumnya si anak sudah diimunisasi beberapa kali. Banyak juga yang merasa anaknya menjadi autis karena divaksin. Hal ini bisa jadi karena memang rata-rata vaksin wajib diberikan dari mulai usia 0-2 tahun, sedangkan gejala autisme (meski bawaan lahir), baru terlihat saat anak usia 6 bulan ke atas, ketika ia tidak menunjukkan respon saat dipanggil.

Apapun alasannya, gerakan antivaksin ini dikecam banyak pihak. My kids, my rule adalah slogan yang sering dipakai para orangtua untuk menegakkan otoritasnya dalam hal pengasuhan anak. Sayangnya, hal ini tidak berlaku dalam wabah penyakit. Ada anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa divaksin, sehingga mengandalkan lingkungannya agar senantiasa sehat sehingga ia tetap sehat. Ada ibu-ibu hamil yang bisa keguguran atau janinnya lahir cacat karena tertular virus rubella, virus yang bagi anak-anak tidak terlalu berbahaya dan bisa dicegah dengan vaksin MMR.

Saya yakin, semua orang tua baik yang pro maupun antivaksin adalah orang tua yang sangat mencintai anaknya. Mereka yang provaksin tentu ingin anaknya terhindar dari penyakit ganas dan melindungi anak-anak lain agar juga sehat. Mereka yang antivaksin juga begitu sayang dengan anaknya sehingga ingin menjamin kehalalan semua zat yang masuk ke tubuh anaknya, menghindarkan anaknya dari senjata biologis, dan tentu ingin anaknya tumbuh dewasa tanpa autisme.

Masalahnya, ketika cinta, taklid buta, kemalasan berpikir dan ketakutan menutup mata, kita cenderung keras hati dan dan menolak pendapat lain. Seperti politik, kita tak akan mau mendengar argumen apapun yang tidak sesuai dengan keyakinan dan pilihan kita, sevalid apapun informasinya. Bahaya anak yang tidak divaksin bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi juga pada mereka yang telah divaksin.

Beberapa orang tua antivaksin menganggap bahwa pengetahuan mereka adalah yang paling benar dan menolak intervensi dari luar. Jarang sekali kita mau membuka pikiran bagi informasi baru di luar apa yang kita yakini. Kalau sudah begini,apakah nurani masih punya peran?

Apakah harus menunggu anak kita, keponakan, tetangga, atau orang-orang dekat yang kita kasihi meregang nyawa baru kita akan percaya bahwa wabah itu nyata?

Sesekali mungkin kita harus membuka hati dan pikiran, lalu belajar percaya pada fasilitas pemerintah. Kita dengarkan pemaparan orang-orang yang ahli dalam bidangnya dengan pikiran terbuka, dan menelaahnya dengan pandangan ilmiah. Saya tahu betapa sebalnya kita akan korupnya para pejabat negeri ini, tapi harus kita apresiasi juga perhatiannya pada kesehatan warganya.

Biaya perawatan yang kelak akan ditanggung BPJS karena penyakit ini jauh lebih besar daripada beberapa suntikan vaksin, sehingga pemerintah rajin suruh kita imunisasi. Iya, pemerintah udah itung-itungan soal ini, jadi jangan geer soal konspirasi. Kita kalo sakit kan emang nyusahin negara, bukan berarti negara tidak bertanggung jawab, tapi pikir deh, bisa kan duit mengatasi dampak antivaksin ini digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Udah, gitu aja.

Komentar
Baca juga:  Merayakan Natal di Monas Tidak Ada Dalilnya di Alkitab
Add Friend
No more articles