• 8
    Shares

MOJOK.COSulitnya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA yang awalnya jadi lucu-lucuan, kini berkembang semakin serius. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebut UNBK Matematika SMA sebagai malpraktik pendidikan. Begini tanggapan Pak Muhadjir Effendy?

Dini hari tadi, saya tertawa lepas menyimak wawancara Liputan 6 SCTV dengan Mendikbud Muhadjir Efendy. Ini gara-gara Pak Menteri diminta menanggapi aduan siswa dan KPAI terkait sulitnya UNBK Matematika tingkat SMA kemarin.

Cara Pak Muhadjir menjawab luar biasa. Bisa dicontoh pejabat lain. Alih-alih menanggapi kritik tentang UNBK yang mahasulit dengan melaporkan pengkritiknya ke polisi, beliau malah memberikan kata-kata mutiara kehidupan.

UNBK ini menyesuaikan dengan standar internasional, jadi memang kita harus meningkatkan kemampuan agar kita bisa bersaing di tingkat internasional. Kita harus belajar stres dulu, kalau tidak stres nanti belajarnya kurang semangat.

Itulah kira-kira komentar Pak Menteri yang saya ingat. Saya sih mendukung beliau. Belajar itu harus stres dulu. Lha wong sekarang saja banyak sarjana yang stres karena susah dapat kerjaan. Makanya kita harus latihan stres sejak SMA. Dan lagi, orang-orang yang sekarang kalau stres sedikit jadi gampang sakit, gampang depresi, sampai gampang pengin bunuh diri, itu pasti karena waktu remaja kurang banyak mengalami stres.

Tiga hari sebelumnya, di Kompas TV, Pak Muhadjir juga menanggapi UNBK yang susah dengan memberikan orasi kebangsaan yang membuat kita bersemangat untuk maju ke depan.

“Saya mohon generasi muda para siswa harus siap lebih keras dan menantang kesulitan-kesulitan yang ada di depannya. Jangan mencari mudah, dunia sekarang tidak menoleransi orang-orang yang cari gampang. Justru sekarang ini peluang kita sengat besar untuk berkompetisi dengan negara lain untuk menjadi bangsa yang maju dan bangsa yang besar. Karena kita punya potensi, punya prasyarat untuk menjadi besar itu, dengan jumlah penduduk, jumlah luas wilayah jumlah kekayaan alam tinggal SDM-nya.

“Kalau kita punya SDM yang handal, yang punya daya juang tinggi, dan daya tubuh tahan banting, insyallah, kita akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar yang lain dan menjadi bangsa maju ke depan.”

Jika kita amati, perkataan Pak Muhadjir sebenarnya selalu konsisten. Sejak ia menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, fokus Pak Muhadjir selalu sama: selalu berusaha menyiksa siswa membuat siswa belajar lebih keras.

Barangkali Anda masih ingat. Sewaktu Pak Muhadjir baru saja dilantik Jokowi sebagai mendikbud yang baru, usulan pertamanya langsung bikin heboh. Bikin rencana full day school. Usul itu memang kemudian ditolak publik dengan bermacam-macam alasan.

Tapi, Pak Muhadjir tidak gampang stres dan tak mudah kalah oleh tantangan. Agak lama tenggelam, setengah tahun kemudian Pak Muhadjir tahu-tahu sudah ketok palu dengan bikin Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Full day school is coming back~

Masyarakat langsung ramai lagi, menolak keras. Entah apa yang ada di pikiran Pak Muhadjir ketika memunculkan kembali full day school. Apakah Pak Muhadjir tipe pria yang ketika ditolak saat nembak, kemudian memutuskan nembak lagi enam bulan kemudian dengan harapan diterima?

Tujuh hari setelah disahkan, ujung-ujungnya permendikbud itu dibatalkan. Bukan, bukan karena Pak Muhadjir menerima stres dan menyerah menghadapi netizen yang mahabenar. Pak Muhadjir tidak pernah lemah. Yang lemah Pak Jokowi, yang meminta peraturan itu dibatalkan setelah mendapat keluhan dari guru dan siswa Rais Aam Nahdlatul Ulama.

Kekeraskepalaan Pak Muhadjir untuk menempa daya juang siswa memang terbukti. Segala cara bisa ditempuh. Full day school gagal sekali? Coba lagi. Full day school gagal dua kali? Ganti dengan UNBK. Pak Muhadjir hanya rendah hati saja. Sebenarnya dia punya slogan yang tidak mau dia ungkap. Belajar, belajar, belajar!

Sebagai bangsa yang sedang membangun generasi emas, kita memang harus meningkatkan daya saing dan daya juang. Bagi generasi muda jangan cepat mengeluh, jangan cepat patah semangat. Dikit-dikit komplain. Dikit-dikit bikin meme. Dikit-dikit bilang “UNBK itu berat, biar Pak Menteri saja.”

Daripada mengerjakan soal UNBK, jadi menteri pendidikan jelas jauh lebih berat. Tahu sendiri, masalah pendidikan di Indonesia seabrek. Dibanding-bandingin terus sama Finlandia, kurang guru, siswanya banyak, gedung sekolah rusak, ada murid yang suka mukul guru, ada guru yang suka mukul murid, sekolah tidak merata di seluruh Indonesia. Macam-macam.

Pak Muhadjir harus memilih mana yang harus dibereskan duluan. Dan ia memilih memperkuat daya juang, daya tahan pada stres, dengan membiasakan siswa stres sama sekolah terlebih dahulu. Landasan studinya? Lihat Laskar Pelangi. Muridnya sedikit, tinggal di pedalaman, gurunya kurang, gedungnya buruk, tapi alumninya bisa sekolah sampai ke Sorbonne. Karena apa? Karena daya juang, kawan-kawan.

Solusi yang nggak lucu seperti ini jelas cuma bisa dipikirkan orang Muhammadiyah.

  • 8
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles