Tegal lumayan populer ketimbang daerah-daerah lain di Jawa Tengah macam Brebes atau Klaten. Saya sebagai orang berdarah Tegal bukannya mau sombong lo, tapi kan di dunia pertelevisian kita adanya Cici Tegal, bukan Cici Brebes atau Cici Klaten.

Namun, jadi orang Tegal juga punya sisi menyebalkan. Ketika orang tahu saya seorang ortega (orang Tegal asli), mereka buru-buru mesam-mesem sembari bilang, “Coba ngomong ngapak dong!” Saya yang sudah ribuan kali diminta ngomong ngapak sama kenalan baru kok ya lama-lama kesel juga. Saya bangga kok dengan bahasa ngapak, ini bahasa perlawanan! Tapi jadi orang kreatif dikit deh. Jangan minta saya monolog dengan bahasa dan logat ngapak mulu. Ngrewodi, wir, jakwir!

Jadi begini ya, para jakwir sekalian. Tegal itu bukan cuma keren bahasanya, tapi kulinernya juga seru-seru. Ada lengko, antor, martabak lebaksiu, glotak a.k.a. tilung, ponggol setan, kacang bogares, tahu aci, rujak teplak, kupat glabed (kata glabed diucapkan dengan aksen tebal), sate blengong, es lontrong, bongol ongol-ongol, pisang bongko, pilus, dan masih banyak lagi.

Pilus misalnya. Tahu kan? Itu lho, snack berwarna putih seputih gigi Agus Mulyadi, tapi ukurannya tentu lebih kecil dari gigi Agus. Rasanya? Gigi Agus ya nggak tahu. Kalau pilus, hm, gurih.

Dulu, pilus adalah oleh-oleh andalan yang biasa ibu saya beli kala mudik untuk diberikan kepada tetangga di perantauan. Alasannya sederhana, karena pilus adalah makanan yang praktis dan memiliki tingkat keawetan yang cukup lama. Selain itu, pilus adalah makanan yang bikin ketagihan. Sekali gragot, susah untuk dilepaskan. Lebih sulit ngelepas toples pilus yang masih full ketimbang ngelepas pacar yang mutusin pas lagi sayang-sayangnya. Ini bener lo!

Tetapi, semua berubah semenjak GarudaFood memproduksi pilus secara massal. Perusahaan ini bahkan membuat pilus aneka rasa, yang original sampai rumput laut. Akibatnya, keistimewaan pilus Tegal jadi berkurang. Gimana mau jadi oleh-oleh kalau sekarang semua orang bisa mendapatkan pilus di mana-mana, mulai dari toko kelontong di kampung-kampung terpencil sampai supermarket di kota-kota metropolitan. Pilus jadi tidak khas Tegal lagi. Sekarang ia jajanan pabrikan biasa layaknya keripik singkong, snack kentang, atau ciki-ciki lainnya.

Baca juga:  Susah-Susah Belajar Bahasa Jawa, Kalian Malah Pakai Elu Gua

Oke, ratapan korban kapitalismenya cukup sampai sini.

Selain pilus yang legendaris, kuliner Tegal yang paling aduhai versi saya adalah sauto alias soto tauco. Tauco sendiri adalah bumbu makanan berbahan utama kacang kedelai yang difermentasi. Buat yang belum tahu bagaimana morfologi sauto, baiklah akan saya beri tahu.

Biasanya sauto ditempatkan di mangkuk yang kecil, seperti mangkuk yang digunakan oleh penjual sekoteng di Alun-Alun Jogja. Nasi atau lontong ditaruh di bagian dasar mangkuk. Di atasnya, tambahkan tauge yang masih krenyes-krenyes (tauge tidak perlu direbus, cukup disiram dengan air panas). Di lapisan ketiga, tambahkan irisan daun bawang. Setelahnya, situ bisa tambahkan potongan babat, daging sapi, atau suwiran daging ayam, tergantung selera. Tapi situ harus pastikan, babat, daging, atau ayam itu juga sudah direbus matang karena ini soto tauco, bukan sushi. Nah, kemudian tambahkan tauco yang sudah diolah sebanyak dua tiga sendok makan. Terakhir, siramkan kuah bumbu bening dan bawang goreng.

Kalau situ selow mau icip sauto di salah satu warung di Tegal, ada bonus topping lo. Tulang ayam digoreng kering yang tingkat krenyesnya sungguh-sungguh di luar nalar. Penampakan kuah soto tauco sendiri berwarna cokelat kehitaman seperti kuah rawon. Rasanya? Komplet, meskipun didominasi manis, asam, dan asin. Jika mau pedas, silakan tambah sambal semampu situ.

Baca juga:  Kaum 'Ngapak' Sedunia, Bersatulah!

Walaupun sauto ditempatkan di mangkuk yang cukup kecil, tapi cukuplah buat menahan lapar selama kurang lebih empat jam. Artinya apa? Artinya tidak cocok untuk sahur.

Buat saya yang pengalaman makan sotonya masih seuprit ini, soto tauco adalah soto ideal. Paling pas dengan lidah saya. Terlebih Semenjak saya merantau ke Jogja dan mengunjungi kota-kota lain, saya hanya menemukan soto-soto dengan kuah sebening muka artis-artis Korea. Nggak beda dengan kuah sayur sop.

Meskipun bagi saya soto tauco soto ideal, tidak semua orang berjodoh dengan soto tauco. Bagi beberapa orang, sauto tidak cocok dengan lidah mereka. Pernah suatu hari saya membawa tauco yang sudah diolah oleh ibunda di Tegal sebagai oleh-oleh ke Jogja. Rencananya sih saya dan teman-teman masak bersama gitu. Kebetulan saya sendiri dibesarkan di dalam keluarga yang bukan pencinta sambal garis keras. Jadi ya tauco yang ibu saya buat cuma ditambah bumbu lain dan sedikit cabai. Rasa asam, manis, dan asin dari olahan tauco yang ibu saya buat lebih pekat.

Tauco yang merupakan fermentasi kacang kedelai ini rupanya tidak jodoh dengan lidah kawan saya yang bernama Habib, seorang putra Lamongan asli. Dia hanya komentar, “Iki tauco apa dodol?” (Ini tauco atau dodol?) Gusti Allah, rasa-rasanya kok pengin saya fermentasi mulut kawan saya ini ya.

Begini. Meskipun tak semua orang cocok dengan soto tauco, lebih baik situ pegang prinsip “tak kenal maka tak sayang”. Jadi, buat situ yang belum pernah nyoba, kenalan dululah sama soto tauco. Kalau kenal, lantas cocok, dan berakhir sayang, bisa kan dibawa ke rumah. Kenalkan ke ibu dan bapak. Siapa tahu direstui. Garing ya? Maaf sih 🙁

Komentar
Kirim Artikel
No more articles