_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Esai

Nabrak Sepeda 290 Juta dan Alasan Gowes di Jalan Raya Itu Bahaya

/dha/esai/nabrak-sepeda-290-juta-dan-alasan-gowes-di-jalan-raya-itu-bahaya/amp/

MOJOK.COPemerintah memang nggak perlu nyediain jalur khusus buat gowes di jalan raya sih. Kendaraan bermotor kan jauh lebih penting.

Sejak empat bulan terakhir setiap akhir minggu saya menghabiskan waktu untuk naik sepeda. Tujuannya jelas untuk ikut trend, bohong sekali kalau saya ingin sehat.

Kalau bisa foto-foto depan sepeda sembari mengakali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk keluar rumah, kenapa tidak? Wong nggak ada ini yang berhak melarang. Olahraga je, seperti anjuran pemerintah, mental yang bahagia, tubuh yang sehat akan jauh dari corona.

Lha perkara Covid ini bisa menular melalui udara dan tak ada kontak tracing yang memadai, itu urusan Pak Terawan.

Kemarin saya membaca berita soal sepeda. Seorang OB nggak sengaja nabrak sepeda mahal seharga 290 juta dan sempat diminta mengganti (kira-kira) setengahnya saja, 130 juta. Untungnya, persoalan belakangan beres karena pesepeda akhirnya nggak minta ganti rugi apa-apa.

Buset, mungkin banyak dari kalian yang merespons, sepeda apaan mahal banget kayak beli rumah tipe 36 di Kabupaten?

Ya namanya juga produk konsumsi, sepeda harga 500 ribu sampe satu miliar ya ada. Apalagi sekarang pas trend sepeda lagi naik-naiknya, gowes bukan lagi perkara olahraga, ini perkara status men. Status! Orang miskin tahu apa?

Tapi di luar polemik bubur diaduk atau dicipratkan ke mukamu perlukah bersepeda dengan merek terkenal atau yang biasa saja, gowes di jalan raya itu olahraga berbahaya.

Kalau kamu tinggal di daerah pantura di mana bus atau truk tronton berseliweran, naik sepeda bisa soal bertaruh nyawa. Ya beruntung Pak Jokowi visioner, sejak ada jalan tol, Pantura mungkin tak lagi ramai dengan bus atau tronton.

Di jalan raya Jakarta, meski bukan jalur truk atau bus, berkendara juga soal kelihaian mengatur ritme. Salah sedikit bisa ketabrak motor yang ngebut atau kena senggol angkot.

Saya pernah gowes dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI, lewat antasari yang relatif sepi, pengendara motor dan mobil mana mau ngalah sama pengendara sepeda? Udah ngasih tanda belok menggunakan tangan, kadang mobil ya masih ngebut nyelonong, mana kalo nyaris tabrakan kitanya yang dimarahin.

Pemerintah kita mana punya prioritas buat melindungi warganya di jalan raya. Lha muluk-muluk bener ingin bikin jalur sepeda yang aman, lha pejalan kaki aja kadang trotoarnya dipake buat usaha.

Ini bukan berarti saya nyalahin pedagang kaki lima ya, setiap orang berhak cari makan di ruang publik. Pemerintah kita doyan bener bangun jalan tol, jalan layang, atau jalan-jalan besar buat mobil dan motor. Sementara pejalan kaki atau pengendara sepeda dibiarin nasibnya. Udah bagus nggak ketabrak.

Usaha-usaha untuk membangun jalur sepeda ini bukannya nggak ada. Di Jakarta dan Jogja ada jalur khusus sepeda, tapi ya gitu, Kadang dibahu jalan dan dipake parkir mobil atau kadang mesti rebutan dengan angkutan umum.

Belum lagi kalau ada galian kabel listrik atau perbaikan jalan. Pejalan kaki, pengendara sepeda, motor, dan mobil bisa battle royal memperebutkan ruang. Nggak sedikit kasus pejalan kaki dan pengendara sepeda yang terperosok masuk lubang galian. Nggak mati udah bagus.

Di Jakarta naik sepeda artinya siap dibegal. Beberapa kali di Jakarta kasus pembegalan pesepeda terjadi dari saat pagi hari di dekat istana negara.

Bayangkan, begal berani melakukan kejahatan di ring 1 pemerintahan. Ini membuktikan bahwa pesepeda ini nggak cuma mempertaruhkan nyawa, tapi juga mempertaruhkan harta benda mereka.

Cuma begal sepeda yang berani beroperasi di sekitar istana negara, mana ada kejahatan lain yang berani melakukan tindakan kriminal di dekat presiden?

Mungkin kalian pada nanya, ngapain sih naik sepeda itu harus bertaruh nyawa? Maksudnya ya naik sepeda kan perkara gowes dan mengendarai roda dua dengan kayuhan. Kenapa jadi ribet dan berbahaya gini sih?

Pernah dulu naik sepeda deket kompleks, hujan-hujan, ngerem dikit di tanjakan licin malah jatuh. Nah ini dia seninya, pesepeda itu kadang masokis, ingin membuktikan pada diri sendiri bisa memacu lebih jauh atau menempuh jarak lebih jauh.

Meski ya kadang-kadang kita berharap pemerintah bisa melindungi warganya. Bikin apa kek gitu yang menjamin keamanan pesepeda, masa yang dilindungi hutan sawit ama tambang freeport mulu.

Dari laporan yang disusun oleh Tim World Economic Forum, diperkirakan saat ini ada dua miliar sepeda di seluruh dunia. PAda 2050 diperkirakan angka itu akan naik hingga lima miliar sepeda.

Tren gowes ini sebenarnya bagus buat dunia, tidak menggunakan energi fosil, menyehatkan badan, dan yang paling penting bisa pamer sepeda mahal di instagram sehat. Negara-negara maju dunia sudah memperkenalkan sepeda sebagai alternatif kendaraan dan sukses. Di Belgia dan Swiss misalnya, 48% penduduknya naik sepeda.

Di Perancis dan Italia, pengendara sepeda bisa dapat subsidi dalam bentuk voucher pembelian atau reparasi sepeda yang rusak. Negara-negara seperti Belanda, Finlandia, Slovenia dan Denmark memberikan jalur khusus.

Naik sepeda jadi kegiatan yang menyenangkan, tapi ya itu ada nggak asiknya, karena ada jalur khusus buat gowes, subsidi pembelian sepeda, dan sepeda bermutu yang murah, orang-orang di Eropa sana bisa naik sepeda semua. Kan nggak asik, nggak lagi ekslusif. Kalau mau pamer di sosmed kan yang ngelikes jadi dikit.

Dan itu juga berbahaya.

BACA JUGA Romantisme Sepeda yang Selalu Beririsan dengan Kemiskinan dan tulisan Arman Dhani lainnya.

Leave a Comment