MOJOK.COUntuk para kawula pelaku UMKM di bidang jasa jangan kecil hati dengan kursus poligami yang cukup sukses itu.

Hidup pada zaman sekarang, apapun bisa dijadikan peluang usaha, termasuk usaha kursus poligami. Sejak pendirian forumnya dan pembukaan kelas pertamanya pada tahun 2017, usaha yang bergerak di bidang jasa itu masih berlanjut sampai sekarang. Artinya, permintaan pasar mengenai poligami tidak pernah surut.

Padahal, dari tahun ke tahun, Mojok sudah sering meluruskan sesat pandang atas praktik poligami melalui esai-esainya. Mojok pernah juga menerbitkan kritik sejak kursus ini diselenggarakan pertama kali. Namun, hal itu ternyata tak mengubah apapun.

Satu yang saya salut dari usaha jasa ini, harga kursus poligami tidak pernah mengalami inflasi dari tahun ke tahun. Empat tahun berturut-turut net di harga 3,5 juta rupiah. Padahal, harga sewa venue dan kateringnya pasti lah naik. Entah gimana pengelolaan finansial kursus poligami tersebut, pada kenyataannya cara mereka menstabilkan harga pendaftaran kursus sungguh mengagumkan.

Dilihat dari aspek religiusitas masyarakat kita yang makin mantap, serta banyaknya populasi laki-laki yang menginginkan “waralaba” berhubungan seks secara halal, usaha ini tampaknya amat strategis dan benar-benar memiliki potensi untuk berkembang.

Meskipun kelihatan begitu, para kawula pelaku UMKM di bidang jasa jangan berkecil hati dengan usaha jasa kursus poligami tersebut. Dalam terawangan saya, ada banyak alternatif jasa lainnya yang tak kalah menggiurkan prospeknya dan masih dalam sasaran pasar yang sama.

Nah, demi memajukan industri kreatif Indonesia, berikut tawaran ide bisnis pelatihan bertema rumah tangga selain kursus poligami.

Kursus mengelola anggaran rumah tangga dengan UMK < 2 juta

Mengelola anggaran rumah tangga adalah hal yang sulit bagi separuh lebih populasi rakyat kelas pekerja Indonesia. Bagi rata-rata pasutri milenial yang memulai hidup baru, bisa beli rumah saat anak pertamanya lahir terasa lebih mustahil ketimbang membayangkan presidennya dimakzulkan.

Di Yogyakarta misalnya, yang terkenal dengan upah kelas pekerjanya tak lebih besar dari uang jajan bulanan mahasiswa semester satu di kampus swasta, sangatlah pusing bagi satpam klinik kecantikan maupun pengelola jurnal akademik di kampus untuk bisa menabung demi mencicil rumah.

Apalagi, harga sembako, biaya sewa hunian, tagihan listrik dan cicilan motor tidak kenal standar UMK. UMK Kota Yogyakarta “sebesar” 2 juta pun terasa mencekik dengan standar hidup yang makin ke sini makin menyerupai standar Ibu Kota.

Baca juga:  Pemprov Aceh Berencana Legalkan Poligami Karena Banyak Kasus Nikah Siri

Atas pertimbangan tersebut, saya yakin sih, pelatihan ini bakal banyak peminat. Jangan lupa untuk memberi keterangan besar di kolom deskripsi posternya:

SUKSES MENCICIL RUMAH DENGAN GAJI < 2.000.000!!!

Harga kursusnya tidak perlu mahal-mahal, cukup 500 ribu bonus paket sembako satu minggu. Dijamin laris manis tanjung kimpul.

Kursus melatih suami agar mau masak dan nyuci

Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan siklus. Baju yang dilipat akan berantakan kembali, bayi yang disuap akan lapar kembali, lantai yang dipel akan berdebu kembali, sampah yang dibuang akan terisi kembali, pokoknya gitu terus sampai Ya’juz Ma’juz hampir menguasai Bumi.

Namun, harus hal yang harus dipahami, tanpa pekerjaan-pekerjaan yang terasa membosankan tersebut, roda perekonomian keluarga tak akan bisa bergerak dan membantu roda ekonomi negeri.

Persoalannya adalah, sepanjang zaman, perempuan diyakini terlahir dengan bakat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ini menjadikan banyak suami tanpa rasa berdosa beranggapan bahwa melayani suami pun adalah kewajiban istri. Ini juga yang jadi salah satu dalil dari menggiatnya bisnis kursus poligami

Pada praktiknya, tak sedikit yang benar-benar mengartikan hal itu secara harfiah seperti hamba sahaya melayani tuannya. Menyiapkan sarapan dan baju kerja yang telah rapi disetrika, menyeduhkan kopi, dan mengantarnya kepada suami selepas kerja.

Anggapan tersebut tentulah sangat merugikan para istri, khususnya yang memiliki kompetensi dan ingin menuang gagasan-gagasan kreatifnya menjadi sebuah karya.

Untuk itu, “Kursus Melatih Suami Agar Mau Memasak dan Mencuci” akan membekali para isteri kiat-kiat khusus untuk melatih si suami mengurus kebutuhan bersama seperti memasak dan mencuci.

Asumsi dasarnya adalah peralatan masak, kain pel dan gagang sapu tidak mengenal jenis kelamin si pemakai, maka suami pun sebenarnya bisa melakukan hal-hal yang selama ini dianggap jadi kewajiban kodrati istri.

Membagi pekerjaan rumah dengan suami akan memungkinkan para istri yang tak mampu menyewa asisten rumah tangga bisa mengurangi beban kerja rumahnya. Istri pun bisa mengalihkan sebagian energi waktunya untuk mengembangkan minat dan bakat, seperti bikin konten tutorial makeup atau budidaya siput.

Baca juga:  Toxic Relationship: Awas, Terjebak Manipulasi Pacar Sendiri!

Kursus menaklukkan suami bandel

Sudah jadi pengetahuan umum kalau kasus KDRT di negara kita semakin memprihatinkan. Itu pun berdasar data yang baru tercatat. Ajaibnya, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), masih berada di tingkatan mati segan hidup pun tak mau karena nggak segera dibahas-bahas lagi sama wakil rakyat yang 79 persennya laki-laki.

Masalahnya, kasus KDRT ini seringkali tak tertangani. Para istri yang tak memiliki nyali dan atas berbagai pertimbangan memilih diam. Kakak sepupu saya mengalaminya bertahun-tahun. Digampar, dikata-katai, dan diselingkuhi telah menjadi bonus nafkah bulanan dari suaminya. Namun, atas pertimbangan anak dan nafkah hidup, ia menerima nasibnya sebagai suratan takdir.

“Kursus Menaklukkan Suami Bandel” dirancang untuk membekali para istri teknik bela diri. Bela diri ini tentu bukan teknik tonjok menonjok belaka, melainkan membekali mereka dengan UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, lengkap dengan keterangan hukum pidananya.

Tidak hanya itu, kelas ini nantinya juga mengenalkan para istri dengan berbagai lembaga pendampingan dan bantuan hukum terkait. Kelak ketika para istri ingin memperkarakan kasusnya, diharapkan mereka telah paham alurnya dan bagaimana cara mencari perlindungan hukum.

***

Demikian tadi beberapa tawaran ide yang barangkali para wirausahawan bisa kembangkan menjadi usaha pelatihan. Yah, walaupun ide-ide di atas belum tentu mampu menyaingi kesuksesan usaha kursus poligami. Apalagi, bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat usaha kursus poligami akan mengelola bisnisnya dengan sistem Multilevel Marketing.

Hal ini mengingat usahanya yang berbasis komunitas bernama Forum Poligami Indonesia. Strategi yang tepat guna menjaring lebih banyak konsumen, yakni para suami yang cuma konsen sama sunah nabi ini, tapi enggan untuk sunah nabi yang lebih jelas kayak puasa senin-kemis, sedekah, setia pada istri pertama sampai mati, dan lain sebagainya.

Satu-satunya yang saya khawatirkan dari potensi Kelas Poligami ini adalah produk seminar Indonesia Tanpa Pacaran sebagai kompetitor bisa kalah omzet. Mengingat target pasarnya sedikit hampir sama.

BACA JUGA Kalau Poligami Itu Sunah, Memang Sunahnya yang Mana? atau tulisan soal Poligami lainnya.