MOJOK.COPergerakan musik di Jogja tak hanya di industri yang tampak aja. Skena Indie makin kolaboratif, nggak perlu ke Jakarta deh buat dikenal.

Salah besar saat menganggap pasar musik modern mulai melirik Yogyakarta sejak Sheila On7. Satu dekade sebelum band paling fenomenal itu memicu invasi band-band Jogja ke label mayor, banyak band dan grup di Jogja yang berhasil memalingkan wajah pendengar musik di Indonesia.

Kalau punya Om dan Tante yang pernah besar di Jogja lalu sering tumbang di banyak gigs bawah tanah tahun 1980-an, mungkin kamu akan familiar dengan Rolland Band.

Pengusung heavy metal yang lahir tahun 1984 ini menghajar panggung rock ibu kota dalam festival heavy metal yang diselenggarakan majalah Vista di Jakarta tahun 1986. Kala itu mereka disebut-sebut sebagai “Judast Priest”-nya Indonesia. Tapi mereka bukan epigon yang menikmati predikat itu.

Satu tahun berselang Rolland melahirkan album Gigolo yang dirilis Billboard Indonesia. Mereka juga main di Aneka Ria Safari TVRI dengan ramuan rocknya. Akhir tahun 1980-an, Rolland sepertinya memicu band-band lain bertempur di ajang nasional.

Sebut saja Partha Putri di Festival Rock se-Indonesia 1989 dan Cassanova yang menjadi finalis festival serupa tahun 1991 dan 1993. Jangan lupakan Depranter, yang awalnya hanya ide iseng sekumpulan pelajar SMP namun akhirnya menguasai kompetisi Thrash Metal tahun 1992.

Sekadar memalingkan wajah saja memang belum cukup. Butuh penetrasi terhadap industri musik yang tahun 90-an itu dikuasi deretan band dan grup yang lahir di Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

Syukurlah, tiap sudut Jogja itu pada dasarnya adalah bunyi. Banyak kantung-kantung komunitas membesarkan musik yang mereka percayai. Hip Hop salah satu di antaranya.

Awal tahun 90-an, Indonesia sedang kerajingan Hip Hop. Ditandai dengan kemunculan Iwa K (oke, masih bisa diperdebatkan) yang merilis album ke Jepang. Tiap kota, terutama Jakarta dan Bandung melahirkan banyak grup dengan ke-braggadacio-an masing-masing.

Jogja pun menggeliat dengan sumbangan G-Tribe, ke album Pesta Rap 1 yang dirilis Musica tahun 1995.

Uniknya, G-Tribe mampu menembus ketatnya kurasi dengan beat berlirik bahasa Jawa. Paling beda. Temanya tentang gali nggatheli yang bikin susah orang tua dan warga. Replikasi situasi di Jogja saat itu.

Banyak yang bilang penetrasi ke industri musik dimulai dengan G-Tribe lalu makin kencang saat Sheila On7 dan deretan band lain dari Gang Alamanda bersama kantung kolektif lainnya mengokupansi toko-toko kaset di seluruh Indonesia.

Harus diakui, mereka menebalkan predikat Jogja sebagai kota seni. Namun, harus diingat, pergerakan anak-anak Jogja tidak hanya di industri musik yang tampak saja.

Di skena Indie (non-label gede dan musik non-mainstream) juga makin ramai, apalagi tahun 2000-an. Sejak dulu skena Indie Jogja juga banyak melahirkan musisi dengan karya-karya yang turut menebalkan predikat kota yang mulai jelimet ini.

Do It Your Self (DIY) adalah istilah populer yang merujuk pada perjuangan band-band indie di Indonesia, termasuk Jogja saat itu. Kawan-kawan band yang lahir di sekolah, universitas, komunitas, maupun kolektif memproduksi musik sendiri.

Nggak ada tembok besar atau ukuran lain yang menghalangi mereka menuangkan ide dalam aransemen atau lirik. No sensor pokoknya. Masalahnya adalah biaya rekaman masih mahal dan masih sedikit studio rekam yang layak.

Alex “Donnero” Sinaga, personel Dua Petaka Membawa Bencana (DPMB) sekaligus salah satu Founder Hellhouse Indonesia dan Director “It’s Wijilan” mengenang bagaimana susahnya rekaman zaman dulu.

Pada awal-awal DPMB, Alex bersama Mamox belajar membuat beat dari pinjaman PC seorang kawan. Mahalnya alat musik saat itu memaksa Alex dan kawan-kawan kreatif. Mereka pun memasukan suara ke software pakai headphone warnet yang ada mic-nya itu, headphone pilot.

“Mic-nya biar nggak ada suara ‘bah bah bah’ disumpelin Mamox pakai kapas kasur. Yah meskipun susah rekamannya tapi lucu dan ngangeni, kapan-kapan harus reka ulang,” kenang Alex.

Nggak hanya band yang tumbuh, banyak juga komunitas mulai berani bikin gigs dengan kemampuan manajerial seadanya. Mereka bantingan nyewa tempat, alat, dan media promosi dari kertas fotokopian menyebarluaskan acara.

Ada atau nggak ada sponsor, sikat pokoknya. Gas!

Gigs akhirnya selalu ramai, dipenuhi anak-anak muda yang sudah bosan dengan musik yang begitu-begitu saja di radio. Laporan banyak gigs ditemukan di banyak zine.

Perpindahan platform dengar dari analog ke digital dalam realitas kekinian melenyapkan ukuran musik. Semua orang bisa bikin musik, rekaman, dan memungkinkan karyanya didengar orang-orang.

Media sudah nggak bisa lagi maksimal menggiring opini musik mana yang populer, atau layak tidak layak. Pendengar makin cair dan bisa melawan opini itu lewat media sosial.

Anak-anak Jogja nggak perlu ke Jakarta agar karya mereka dikenal. Menyebarluaskan karya jadi gampang, tinggal duduk di depan laptop sambil pijet paha pakai minyak kutus kutus, karya sudah terbang ke banyak platform.

Jika zaman dulu para band label seolah tiada lawan mau tidak mau, suka tidak suka mereka sekarang berada dalam medan perang yang sama. Arena digital bikin pertarungan kian sengit dan membuka banyak kemungkinan termasuk tumpukan referensi yang melahirkan identitas baru.

“Bisa dilihat siapa sekarang yang mendominasi, paling tidak di ranah musik. Yang mendominasi festival-festival musik sekarang siapa? Anak-anak indie sekarang memegang peran,” kata Wibowo Woto alias Wok The Rock, pekerja seni, periset, sekaligus pengamat budaya.

Era sekarang, konsep kolaboratif adalah jawaban. Wok The Rock meyakini istilah “do it with others” saat ini lebih tepat daripada “do it your self”.

Sederhananya begini. Platform digital salah satu medium menyebarluaskan lagu. Meski mudah, tinggal isi form, biasanya platform dengar itu butuh artwork yang merepresentasikan karya.

Penggarapan artwork ini memungkinkan musisi berkolaborasi dengan desainer grafis atau perupa atau mereka yang aktif dalam dunia visual. Penyebarluasan karya juga banyak dilakukan di Youtube sehingga memungkinkan adanya kolaborasi antara musisi dan pegiat video

Sedangkan soal kolaborasi musik atau antarmusisi, berdosa rasanya tidak menyebut Martinus Indra Hermawan yang akrab disapa Menus.

Orang lama dalam skena musik di Jogja ini punya banyak predikat, ada yang melabelinya dengan organizer, musisi, zinemaker, pemilik label rekaman, penulis musik, hingga pelapak. Sekarang predikatnya tambah, tukang kulineran.

Sebagai musisi sajalah, Menus punya banyak proyek dengan ciri khas yang sulit ditemui bandingannya. Sampai sekarang dia masih doyan main musik noise.

Tidak seperti genre lain yang memiliki pola nada tertentu, musik noise dapat dikenali dengan mudah lantaran komposisinya yang kerap tak beraturan. Bising.

Menus pun bisa bikin musik pakai apa saja. Dengan DJ Set, efek gitar yang knopnya diputar seenak hati, alat-alat pertukangan, apa saja pokoknya.

Tahun 2019 Menus berkolaborasi dengan rapper Joe Million. Kawin silang ini sebenarnya bukan yang pertama, Homicide juga pernah melakukannya namun tak sebrutal kolaborasi Menus dan Joe Million.

Di tiap track album Joe lebih banyak merapal dan menggeram dibanding menggelontorkan skill Rap. Rapalannya itu merespons deruan noise yang ritmis dan pekat dari handmade synth, shaker box, dan pedal effects olahan Menus.

Bayangkan saja bagaimana jadinya, rap dengan peluru kata-kata harus sama bisingnya dengan tanda-tanda yang dilempar Menus. Double combo bising kan?

Tapi anehnya, banyak yang suka dan menganggap karya itu keren. Bahkan album tersebut mengantar mereka sampai tur eropa.

Menus juga menginvasi scene emo lewat LKTDOV. Tidak berhenti di sana, dia bikin band nyeleneh macam Narcholocos dan Anammese.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Musik Jogja (@musikjogja)

Di Narcholocos, Menus dan kawan-kawannya menjamah Hardcore Punk yang cepat dan kasar, beda dari banyak band sejenis yang dipenuhi dengan sound New York ataupun Beat Down. Lalu dia berani pakai judul dan lirik bahasa Spanyol dalam lagu yang rata-rata berdurasi di bawah dua menit.

Sedangkan Anamnese, Menus terinspirasi band-band post-hardcore dan skramz asal Eropa. Aransemennya ketukan drum mid tempo berpagut dengan bebunyian bising dari gitar berefek reverb dan delay.

Uniknya adalah mereka menggunakan bahasa Perancis pada keseluruhan liriknya. Besok-besok Menus harus bikin band berbahasa Kongo rasanya.

“Awalnya karena aku seneng banget sama band-band Perancis kayak Daitro, Mihai Edrisch, bahkan rilisan penuh band skramz pertama yang aku beli itu kasetnya Finger Print. Sempat juga tur ke pedalaman Perancis bareng proyek musikku yang lain, yang makin bikin kepengen bikin band baru berbahasa Perancis,” beber Menus.

Para senpai bilang musik yang baik adalah musik yang jujur. Selain Menus, kejujuran itu juga ditemukan di Apan Yoman yang baru saja merilis lagu “Thong-Thong Bolong” berlirik bahasa Jawa lengkap dengan video musiknya.

Apan, yang secara fisik mendekati Roy Marten waktu muda itu memproduksi musik yang lekat dengan reggae di sebuah garasi yang juga tempat bekerjanya memperbaiki alat-alat elektronik. Semua instrumen dia rekam sendiri, termasuk melodi kibor sensasional di pertengahan lagu.

Di lagu itu Apan nggak merepsentasikan diri sebagai reggae man. Dia nggak menggimbal rambutnya atau berbusana dancehall yang berkembang di perkotaan dengan dominasi warna merah, hijau dan emas dalam video musik.

Dalam video musiknya Apan mengenakan kemeja dan celana kain seperti Si Doel yang mau berangkat ke pabrik, begitu juga dua kawan yang sukses dia paksa menemaninya di depan kamera yang dioperasikan Yustinus Cahyadi, salah satu personel Korekayu Band.

Kamu bisa tonton sekilas video musik Apan di bawah ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Musik Jogja (@musikjogja)


Apan benar-benar melenyapkan perintilan visual reggae juga dengan merekam video musik di area sawah. Fragemen memorabel tentu saja saat dia mencium jantung pisang.

“Apan sangat jujur. Nggak mau terlihat keren, dia bicara lewat musik dan lirik yang menurut saya jenius. Berapa banyak reggae dengan bahasa Jawa sekarang? Lalu Apan merekam dengan apa yang dia punya, pakai apa yang mau dia pakai. Teman-temannya menangkap kesederhanannya lalu dibuat video musik,” komentar Garry Mailangkay, produser musik asal Yogyakarta yang tumbuh besar di Alamanda.

Kolaborasi unik lainnya soal musik di Jogja juga bisa ditemukan lewat proyek Asa Rahmana bernama Tamtamtada Berawal dari keprihatinan atas minimnya rilisan lagu anak saat ini, Asa Rahmana menginisiasi proyek lagu anak independen bernama Tamtamtada.

Proyek ini sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan lagu anak yang mendidik. Kita tidak akan menemukan Eno Lerian atau Maissy lain di proyek ini yang bicara masakan atau cita-cita.

Karya Tamtamtada sangat fundamental bagi tumbuh kembang anak, yah meskipun penulis belum punya pacar untuk dijadikan istri, setidaknya itulah yang bisa dilihat dari mereka.

Kolaborasi dengan Yennu Ariendra dan Nadya Hatta melahirkan single pertama berjudul “Satu Bahasa”.

Lagu ini sengaja dibuat untuk mengajak anak-anak bisa menggunakan dan mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka mau agar kesadaran menggunakan awalan “di-” dengan baik dan benar, contohnya, sudah ada sejak dini.

Asa juga berkolaborasi dengan dua murid dari SD Tumbuh 3 Yogyakarta, Esqian Salmanayu (10 tahun) dan Yuki Ramadhan (12 tahun) mengisi vokal dengan aransemen dengan ceria dan ringan agar mudah diingat dan dinyanyikan oleh anak-anak lainnya.

Hal-hal teknis seperti jangkauan nada, tempo, hingga instrumen dikerjakan dengan seksama, sebab mereka bercita-cita agar lagu ini dapat dinyanyikan oleh semua anak.

Menus tanpa limitasi energi berada di wilayah yang disukainya, mengeksplorasi banyak kemungkinan terus menerus bersama kawan-kawannya yang lain dalam banyak proyek.

Apan memperlihatkan kejujuran yang mudah dimengerti banyak orang, sedangkan Tamtamtada menawarkan solusi yang gagal ditangani institusi pendidikan formal. Ketiganya berkolaborasi menghasilkan sesuatu yang cukup penting bagi wajah musik di Jogja.

“Kita sebenarnya sudah punya itu (konsep kolaboratif) secara tradisi kayak gotong royong. Apalagi di kota-kota yang non-metropolitan, itu pasti masih memiliki tradisi itu. Mengerjakan sesuatu tidak sendiri, tapi cenderung mengerjakan sesuatu bersama-sama. Intinya saat ini lebih pas pakai do it with others daripada do it your self,” tegas Wok.

BACA JUGA Musik Terbaik untuk Joko dan tulisan soal musik lainnya.