Nyaman Belajar di Tempat Makan

Beberapa waktu lalu, sempat ramai di media sosial, ketika sebuah keluarga yang sedang makan di sebuah gerai makan cepat saji tiba-tiba ditegur oleh serombongan pelajar karena anak-anak di keluarga tersebut ramai. Alasannya mereka mau belajar. Kejadian ini konon terjadi di Malaysia.

Soal rombongan pelajar atau mahasiswa yang menggunakan tempat makan untuk belajar saya kira bukan hanya di negara jiran saja. Di Indonesia, atau di tempat tinggal saya di Magelang, pemandangan ini sih biasa saja. Apalagi di Yogya, yang jumlah kampusnya ratusan.

Alasan belajar di tempat makan

Farhan Akbar Akmaluddin (22) termasuk golongan mahasiswa yang suka belajar di tempat makan. Jujur, dia pernah juga merasa terganggu dengan orang-orang yang berisik atau ketawa-ketawa saat berada di sampingnya yang sedang belajar, tapi menurut Farhan setiap pengunjung memiliki hak masing-masing.

“Sebenarnya tidak bisa menyalahkan mereka yang seperti itu sih, karena kan yang punya hak seperti itu karyawan restorannya. Jadi, sama-sama menghargai aja kalau lagi di tempat makan mau gimana juga asal engga kelewat batas, gitu sih,”  ucapnya.

Farhan sendiri lebih nyaman belajar di tempat makan karena terdapat fasilitas WiFi yang memudahkan ia mengakses internet dan mengerjakan tugasnya. Farhan juga merupakan seorang perokok aktif, jadinya ketika belajar harus dibarengi dengan merokok. Menurutnya dengan cara seperti itu bisa mendatangkan inspirasi/ide ide yang tak terduga dan membuatnya lancar saat mengerjakan tugas.

Sama dengan Farhan, Nabilla Mustika (21) juga menjadikan tempat makan sekaligus sebagai tempat belajar bersama teman-temannya. Selama yang punya tempat tidak keberatan, menurut Nabilla tidak apa-apa. Justru ia merasa tidak nyaman dengan teman-teman belajarnya yang malah banyak bercanda. “Jadi kan lagi kumpul buat belajar bareng gitu, nah aku tuh posisinya lagi baca artikel. Terus tiba-tiba temenku berisik banget sampai nendang-nendang meja gitu, bikin rusuh. Terus aku omelin aja,” ujar Nabilla.

Baca juga:  Melacak Kemunculan Tren Tingwe, Hobi yang Membuat Petani Tak Menderita-menderita Amat

Nabilla juga mengaku jika ia memilih tempat makan sebagai tempat belajar karena seringnya diajak oleh temannya. Alasan lain juga dengan berkumpul di tempat makan dengan tujuan belajar, dapat bertukar pikiran dan tidak merasakan gabut untuk anak yang ngekos seperti Nabilla. Cerita lain, mahasiswa bernama Tiara Afifah berusia 21 tahun, mengaku melakukan hal seperti itu karena butuh dengan suasana baru dan karena bosen ingin main jadi sekalian belajar di tempat makan.

Memancing mahasiswa nyaman

Di Magelang ada tempat makan yang namanya Mbah Hogen. Tempat makan ini menyediakan berbagai macam fasilitas seperti WiFi, tempat charger, live musik, dan lainnya. Terdapat menu makanan seperti ayam geprek, roti bakar, pisang goreng, angkringan, dan masih banyak lagi. Nuansa sederhana dan fasilitas yang tersedia, membuat mahasiswa nyaman untuk nongkrong berjam-jam lamanya.

Pengelola tempat makan ini setidaknya memahami pasar mahasiswa bisa dipancing untuk datang melalui fasilitas pendukung yang ada di cafe. Rakha (20) karyawan Mbah Hogen mengatakan, selama ia bekerja ia melihat sebagian besar konsumennya memang mahasiswa. “Pernah hampir setengahnya disini dipenuhi dengan mahasiswa yang ingin belajar atau rapat, mbak. Mereka biasanya menempati sisi dalam tempat Mbah Hogen,” ujarnya.

Aturan dari tempat makan ini memperbolehkan mahasiswa belajar, asalkan tidak rusuh atau mengganggu pengunjung yang lain. “Boleh mengerjakan tugas atau rapat disini untuk mahasiswa, tetapi bicaranya jangan terlalu kencang karena di sekitar Mbah Hogen lebih tepatnya di bawah sini kan rumah warga,” kata Rakha.

Baca juga:  Lelaki yang 26 Tahun Menunggu Kekasihnya di Tempat yang Sama, Setiap Hari, lalu Mati di Sana

Meski sudah ada aturan, tetap saja ada kejadian-kejadian yang membuatnya ketar-ketir karena ulah mahasiswa ini. “Kalau masalah sampai ribut tidak pernah, tetapi saling sahut-sahutan antara mahasiswa dan pengunjung yang lain. Misalkan, di satu meja itu ramai, otamatis kan omongannya pasti kencang, lalu meja yang lain menyahuti dari omongan meja yang ramai itu, padahal kan mereka bukan lagi saling ngobrol,” kata Rakha tertawa.

Contohnya gini, meja yang sedang ramai oleh mahasiswa yang sedang kumpul belajar berbicara “eh gimana kabarnya” kepada teman yang berada di satu mejanya tetapi dengan suara yang kencang, lalu meja lain yang menjawab dengan omongan “baik nih”. Saling timpal satu sama lain.

Salah satu tempat makan cepat saji di Magelang, KFC yang berada di Artos Mal, juga memberikan keleluasaan mahasiswa atau pelajar belajar di tempat mereka. Tentu dengan syarat.  “Kalau KFC sendiri kan sudah menyediakan service, yang penting pelajar/mahasiswa sudah membeli makan disini. Soalnya SOP-nya juga seperti itu,” ujar mas Budi Prasetio yang sudah bekerja di KFC selama 9 tahun.

Mas Budi juga menambahkan, setiap hari memang melihat mahasiswa/pelajar yang sedang belajar di KFC apalagi selama pandemi ini. Dia dan karyawan di tempatnya bekerja tidak mengkubu-kubukan pelanggan apakah mau belajar atau sekadar makan, yang penting pengunjung merasa nyaman.

Budget belajar di tempat makan

Saat mengerjakan tugas di tempat makan pastinya harus mengeluarkan uang, dibandingkan belajar di rumah. Untuk budget Farhan pastinya menyesuaikan tempat makan yang ia datengi. “Rata-rata, sekitar Rp 20-30 ribu aku ngeluarin uang kalau belajar di tempat makan,” ujarnya. Untuk Nabilla, biaya yang ia keluarkan sekitar Rp 80 ribu. Itu sudah  yang paling mahal dan untuk Tiara di bawah 50 ribu.

Baca juga:  Cerita Perawat di Masa Gawat

Biasanya karena terlalu asik mengerjakan tugas di tempat makan untuk belajar atau sekedar nongkrong, mahasiswa sampai terlarut malam disana. Hingga kejadian yang pernah dialami Farhan yaitu ditegor karyawan karena restoran sudah mau tutup. Cara menegornya seperti “maaf sudah close order” “ mau clear area ya, kak” secara tidak langsung diusir dengan bahasa yang alus.

Hal ini juga dialami oleh Tiara yang diusir secara halus.”Jadi waktu itu kan aku sama temenku yang datengnya juga udah jam setengah 10-an malam, terus tempat makannya kan tutup jam 11, aku sama temenku jam 11 malam masih di sana. Nah karyawannya itu udah beberes, bangku-bangkunya diangkatin dan beberapa tempat lampunya udah dimatiin, yaudah karena udah digituin jadinya aku bergegas untuk pulang deh,” ujar Tiara.

Karyawan Mbah Hogen juga pernah mengalami kejadian sampai menegur mahasiswa yang sedang mengerjakan tugasnya dan rapat karena sudah melebihi jam tutup. “Sebenarnya mahasiswa tidak apa-apa belajar di Mbah Hogen, asalkan saat jam tutup mereka paham situasi untuk tidak berlama-lama di sini. Kan kasihan, karyawan yang lain juga ingin pulang, capek,” ucapnya.

Belajar di tempat makan sebenarnya tidak masalah, asalkan saling memahami kenyamanan pengunjung yang lain. Pahami juga beban karyawan jika kita melebihi batas waktu yang sudah ditentukan.

BACA JUGA Lelaki yang Mempertaruhkan Seluruh Hidupnya untuk Buku dan artikel SUSUL lainnya.