MOJOK.CO – Dulu Prabowo koar-koar tak mempercayai media, sekarang pakai link berita dari media untuk bukti ke MK, lalu banyak yang mencibir beliau nggak konsisten. Ealah, Bong, Bong.

Baru-baru ini sosok capres kebanggaan kita semuwa, Prabowo Subianto dimunculkan secara sepihak dan semena-mena jadi nggak konsisten dalam berbagai keputusan dan sepak terjangnya.

Nggak main-main, disebut bahwa capres nomor urut 2 ini terlalu banyak memainkan ironi dalam perjalanannya menjadi Presiden Republik Indonesia. Bahkan ironi kayak udah patut dijadikan nama tengah beliau. Hedeh, kurang ajar emang.

Hal ini dikarenakan, Prabowo Subianto dianggap nggak konsisten ketika sering kali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap cara kerja media massa. Hal yang masih lekat dalam ingatan, Prabowo pernah mempersoalkan media massa, karena dianggapnya telah merusak demokrasi selama ini.

“Akan tercatat dalam sejarah, hai media-media kau merusak demokrasi di Indonesia,” kata Prabowo saat Hari Buruh 2019 lalu.

Ini belum seberapa jika melihat sedikit ke belakang ketika Reuni 212, dan Prabowo menyebut bahwa media tak mau meliput aksi tersebut. “Hampir semua media tidak mau meliput sebelas juta lebih orang yang kumpul,” katanya saat Desember 2018 lalu.

Pada kenyataannya sikap ini lalu menular ke pendukung garis kerasnya. Terutama ketika mendapati beberapa jurnalis dari Metro TV atau Kompas TV yang ramai-ramai mendapat persekusi di jalanan ibukota dari pendukung beliau. Bahkan ketika aksi 22 Mei kemarin, jurnalis RTV pun mendapat persekusi dari simpatisan capres 02.

Jadi kalau meliput itu salah karena framingnya nggak sesuai yang diharapkan, nggak meliput tuambah salah. Kalau ngeliput dipersekusi, nggak meliput dimaki-maki. Komplet. Media memang gudangnya salah dan dosa.

Akan tetapi, seharusnya masyarakat sadar bahwa Prabowo ini ingin menunjukkan bahwa dirinya nggak bisa berpura-pura, nggak pandai pencitraan, dan selalu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan—bahkan meskipun hal yang diungkapkan itu sangat aneh sekalipun.

Kalau perlu harus pakai gebrak podium ya gebrak podium. Kalau harus marah-marah, ya nggak apa-apa sampaikan kemarahan di depan publik. Ini menunjukkan beliau nggak doyan pencitraan. Nggak kayak yang sebelah tuh.

Jadi jangan terus diasosikan seolah-olah beliau ini delusional dan emosional begitu deh. Basi tau nggak sih.

Baca juga:  Survei Alvara: Pendukung PKS yang Memilih Prabowo-Sandiaga Hanya 53,3 Persen

Pada kenyataanya Prabowo itu nggak sepenuhnya anti sama media kok. Pada perkara yang digugat ke Mahkamah Konstitusi soal hasil Pemilu dan Pilpres 2019, kuasa hukum BPN Prabowo-Sandi diketahui menampilkan sekitar 34 link berita portal online sebagai salah satu format bukti yang diserahkan ke Mahkamah Konstitusi dalam mengungkap kecurangan yang Terstruktur, Sistematis, dan Masif dari kubu 01.

Yap, ente benar. LINK BERITA.

Jadi setelah beberapa waktu sebelumnya Prabowo koar-koar mengritik berbagai media, sekarang tim kuasa hukum BPN Prabowo-Sandi menggugat hasil Pilpres menggunakan entitas yang sering diserang Prabowo sendiri.

Oke deh, kamu boleh menyebut ini sebagai ironi atau paradoks, tapi justru ini menunjukkan bahwa Prabowo itu sosok yang nggak peduli pada masa lalu. Pikirannya selalu ke depan.

Beliau nggak mau terjebak kayak kamu-kamu yang nggak bisa move on, terjebak pada zona-zona nyaman. Ibarat pagi dele sore tempe, Prabowo bahkan belum sampai sore udah jadi tempe karena betapa cepatnya beliau move on.

Di masa lalu, emang Prabowo pernah jelek-jelekin media, bahkan sama yang online-online aja nggak tahu, tapi di masa sekarang dan masa depan, demi kemashlahatan bersama, beliau mau kok memanfaatkan banyak media online untuk membantu dalam kemenangannya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Lho, lho, lho, jangan salah. Hal ini justru menunjukkan sikap ksatria yang luar biasa dahsyat dari beliau. Tak pedulikan omongan orang luar dan tak peduli sama citra diri sendiri. Duh, duh, beneran jadi kagum deh.

Sebenarnya kita nggak perlu terkejut dengan sikap Prabowo yang seperti ini. Sudah sejak lama beliau menampilkan hal yang bagi para cebongers dianggap nggak konsisten, ironi, atau paradoks, tapi sebenarnya merupakan sikap ksatria yang sangat berani mati.

Bayangkan, mati aja berani, apalagi cuma malu.

Misalnya, mengaku lebih TNI ketimbang banyak TNI padahal karier TNI beliau tamat dengan cara yang tidak baik. Ini kan ungkapan yang sangat canggih. Ada dark joke dengan pesan mendalam yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang jenius saja.

Bahkan saking kuatnya pengaruh beliau soal kemampuan ini, orang-orang di sekitar pun jadi ketularan mewarisi kemampuan ini. Terutama soal sikap berani mati karakternya. Asalkan merasa benar, yang penting pede dulu aja dah. Biarkan sejarah yang membuktikan, siapa yang akhirnya malu di belakang.

Baca juga:  Di Mata Luhut, Prabowo Itu Kesatria: "Jangan Ada yang Rame-rame Lagi."

Misalnya Pak Amien Rais, yang sempat tidak mau percaya dengan Mahkamah Konstitusi dan bakalan memakai aksi pipel powder power. Tapi pada kenyataannya saat ini, BPN Prabowo-Sandi malah ingin segera ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden lewat jalur Mahkamah Konstitusi (MK).

Nggak percaya sama MK, tapi mengandalkan MK sampai pada tahap di luar kemampuannya MK. Lha piye? Minta jadi presiden lewat jalur MK je? Ini kan suangar todemax.

Sikap luar biasa ini bisa jadi daftar panjang kalau kita mau menampilkan kehebatan-kehebatan Prabowo yang lain. Misalnya, mengaku sejak awal tidak percaya sama KPU sepenuhnya. Percaya kalau nanti kalah pasti ada kecurangan, tapi tetep nyalon. Ini kan sikap ksatria yang luar biasa keren dan ajaib.

Udah yakin kalah tapi tetep nyalon. Kalau bukan Prabowo mana ada yang bisa coba sejantan ini?

Ini belum memasukkan saat klaim kemenangan 62% lalu sujud syukur, Prabowo dengan yakin menang, tapi juga dengan yakin kalau dirinya telah kalah karena dicurangi. Emang beyond banget dah nih.

Sikap yang sangat luar biasa terbuka dan nggak berpura-pura. Sangat jujur. Orang itu nggak suka kalau kalah, dan Prabowo menunjukkan itu ke semua orang. Untuk apa pura-pura sportif kalau emang nggak bisa? Ya nggak?

Belum juga soal sikap anti-Cina para pendukungnya. Bahkan sempat akan menyatakan stop-stop impor dari negara asing.

Namun tak berselang lama, pada Ultah RRC ke-69 Prabowo menghadiri ultah di Kedutaan Besar RCC dan berpidato, “Saya memandang Cina sangat penting bagi Indonesia jadi kita harus jalin hubungan baik, kita harus tingkatkan hubungan dalam tingkat yang lebih baik dan saling membantu.”

Hal-hal di atas ini merupakan beberapa petunjuk bahwa Prabowo memang sosok yang konsisten. Sangat konsisten dalam inkonsistensi.

Ini jelas hal yang sangat sulit dilakukan. Sebab, ketika orang lain bisanya cuma konsisten, atau bisanya cuma inkonsisten, ha beliau malah bisa keduanya. Dilakukan secara konsisten tanpa jeda lagi. Luar biasa memang konsentrasi beliau soal perkara inkonsisten ini. Salut, Pak. Lope U.