_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Pojokan

Sandiaga Uno Udah Benar, Ucapan Selamat itu Budaya Barat, Budaya Kita itu Sebar Hoaks

/daf/ulasan/pojokan/sandiaga-uno-udah-benar-ucapan-selamat-itu-budaya-barat-budaya-kita-itu-sebar-hoaks/amp/

MOJOK.CO – Bang Sandiaga Uno kasih pernyataan yang menarik soal ucapan selamat, kata blio itu budaya Barat. Sudah benar itu, Bang, sebab budaya kita emang sebar hoaks.

Tidak punya lelah juga netizen menyerang Sandiaga Uno. Sejak masa kampanye, masa coblosan, pengumuman KPU, bahkan sampai keputusan sidang MK dibacakan. Nggak ada habis-habisnya Sandiaga Uno diserang sana-sini.

Usai diputuskan kalau tudingan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif tidak terbukti, Jokowi-Ma’ruf secara sah akhirnya akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode 2019-2024. Sandiaga Uno pun ditunggu-tunggu ucapan selamatnya ke Jokowi-Ma’ruf.

Bukannya mau kasih selamat, eh, blio malah bikin pernyataan kek begini.

“Kami sudah menghormati putusan MK kemarin dan ini sudah tingkatan yang paling tinggi bahwa kita menghormati prosesnya dan selamat-selamat itu kan kayak budaya Barat ya? Di dalam kontestasi kita, setiap kali ketemu kita cipika-cipiki, selama debat kemarin kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik, jadi nggak masalah,” kata Sandiaga Uno.

Pernyataan itu tentu memancing kecebong di air keruh. Apalagi jika ditambah pernyataan yang begini.

“Kalau kita mau selamat, selamat apa? Selamat kerja? Selamat menempuh hidup baru? Ini budaya-budaya yang bukan ke-indonesia-an menurut saya. Kita sudah menghormati dan memberikan kesempatan itu sudah jauh lebih tinggi makamnya,” kata Sandiaga Uno lagi.

Makin belingsatan lah itu kecebong karena merasa Bang Sandi tidak menghormati Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang sah. Tapi, sebaiknya nggak perlu sekaku itu melihat pernyataan Bang Sandi ini, apalagi sampai ngata-ngatain kalau beliau belum ikhlas karena kalah.

Lho, Bang Sandi ini sebenarnya sedang dalam proses memberi pendidikan terbarukan aja ke masyarakat Indonesia. Bahwa memang ngasih selamat-selamat ke pemenang dan sikap sportif itu kan budaya Barat.

Apalagi kata “sportif” itu kan berasal dari Bahasa Inggris. Wah, haya itu jelas budaya Barat banget. Emang kata “sportif” punya akar dengan bahasa Jawa atau Sunda? Kan nggak. Jadi apa yang salah dari pernyataan Bang Sandi ini? Hadeh.

Justru budaya Indonesia yang sebenarnya itu adalah sebar hoaks, perang di media sosial, ribut perkara anjing masuk masjid, politisasi agama, sentimen etnis. Itulah kebudayaan murni kita. Masa gitu aja kalian nggak paham?

Coba lihat sekeliling. Dalam proses Pilpres 2014 sampai Pilpres 2019, ada berapa banyak hoaks yang sudah berhasil kita ciptakan dan sebarkan? Sudah ada berapa peperangan di media sosial yang saling menjagokan capres masing-masing sampai baku hantam betulan? Nggak main-main, bahkan peperangan gara-gara Pilpres ini sampai masuk ke grup-grup wasap keluarga.

Ini belum dengan kasus kekerasan akibat politisasi agama dan sentimen etnis. Hal-hal yang sudah jadi makanan kita sehari-hari. Kebiasaan yang bahkan bikin kita cuma berseloroh “eh” ketika ada kasus kekerasan agama muncul di timeline medsos kita—karena saking seringnya.

Jadi jelas sudah, bahwa kalau Sandiaga Uno mau ngucapin selamat saat itu blio justru tidak menghormati budaya kita sendiri yang sudah kita pupuk sepanjang 5-7 tahun ke belakang.

Lho, tapi kan akhirnya Bang Sandi kasih ucapan selamat juga?

Yaktul, tak lama setelah bilang bahwa kasih selamat itu budaya Barat, Bang Sandiaga Uno lalu menyampaikan selamat ke Jokowi-Ma’ruf juga.

“…untuk itu saya ucapkan selamat bekerja, selamat jalankan amanah rakyat, selamat berjuang untuk terus mencapai cita-cita, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya lewat akun Instagramnya.

Udah deh, nggak usah menyerang Bang Sandi sebagai pribadi yang mencla-mencle. Itu bukan plin-plan namanya, tapi justru ingin menunjukkan bahwa apa yang baru saja blio sampaikan adalah gambaran budaya Barat yang sesungguhnya.

Ya iya dong, blio kan lama kuliah di Amerika, jadi cuma blio yang bisa paham betul dalam menggunakan budaya Barat dalam kehidupan sehari-hari. Orang kayak kita, kaum miskin kota, kaum papa, kaum gaji di bawah UMR, mahasiswa kere nebeng kosan macam begini ya mana paham.

Sebagai sosok yang sudah paham betul seluk-beluk budaya Barat, ya boleh-boleh aja dong kalau mau pakai budaya Barat. Beda sama kita-kita ini.

Hal ini justru menunjukkan kalau Sandiaga Uno sebenarnya nggak mencla-mencle. Blio cuma mau kasih info aja, itu budaya Barat. Titik. Lagian di kalimat mana blio bilang nggak akan mau ngucapin selamat? Nggak ada kan?

Kalian aja yang suka menafsirkan macam-macam. Seolah Bang Sandi nggak berkenan ngucapin selamat dan sebagainya ke Jokowi-Ma’ruf. Padahal sosok setulus ikhlas seperti blio mana mungkin sih bersikap nggak sportif kayak begitu?

Soalnya kalau kita mau berpikir sedikit ke belakang lagi, kurang negarawan apa coba Bang Sandiaga Uno itu?

Situ bayangin aja, blio itu rela lho meninggalkan jabatan mentereng Wakil Gubernur DKI Jakarta hanya demi bisa kasih selamat ke Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin sebagai seorang kompetitor langsung.

Coba sekarang, emang ada Wagub lain yang bisa kayak Bang Sandiaga Uno ini? Nggak ada kan?

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Leave a Comment