• 351
    Shares

MOJOK.CO – Mojok Institute menyusun apa saja sih kesulitan yang bakal dihadapi kalau kamu jadi anggota Timses Prabowo-Sandi?

Sejak perkara stuntman Jokowi pada Asian Games 2018, “Hari Kapusan Nasional” Ratna Sarumpaet, sampai teriakan “Ganti Presiden” pada Demo Bela Kalimat Tauhid di Jakarta beberapa waktu silam, sangat sulit rasanya kalau menjadi orang-orang yang berada dalam lingkaran tim sukses kemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno belakangan ini.

Kerja jadi semakin berat lantaran berbagai isu membuat semakin sibuk untuk melalukan “counter” ketimbang memberi tawaran program. Padahal sebagai kubu oposisi, Prabowo-Sandi cukup diuntungkan karena tinggal berpijak pada kekurangan-kekurangan pemerintah, lalu kasih tawaran program yang solutif.

Masalahnya, saat ini, justru timses Prabowo-Sandi jadi pihak yang paling sering melakukan klarifikasi ketimbang pihak petahana. Ini tentu jadi pertanyaan banyak pihak, ini yang oposisi siapa yang petahana siapa sih kok malah kebalik-kebalik gitu? Hm, benar-benar mencurigation zkl.

Oleh karena itu, Mojok Institute jadi merasa perlu untuk menyusun apa saja sih kesulitan yang bakal dihadapi kalau kamu jadi anggota Timses Prabowo-Sandi. Tentu saja supaya hal ini bisa dijadikan bahan pertimbangan buat bikin kampanye yang lebih mashook-pak-eko lagi untuk kubu Prabowo-Sandi.

1. Dianggap Pemimpin Model Jadul, Bahkan oleh Pihak Sendiri

Tidak main-main. Narasi ini sempat muncul dari Dahnil Anzar, salah satu tim sukses Prabowo-Sandi. Entah atas pertimbangan apa, Dahnil menyebut bahwa bahwa Prabowo Subianto merupakan representasi Bung Karno lalu Sandiaga Uno diibaratkan Bung Hatta Rajasa.

Narasi ini sebenarnya sah-sah saja, mengingat reputasi dua tokoh proklamator Indonesia ini cukup mentereng. Siapa juga sih yang ogah dibandingkan dengan sosok yang punya jejak sejarah sebesar Bung Karno dan Bung Hatta?

Hanya saja, selain diprotes oleh cucu Bung Hatta, penggunaan narasi ini juga menyembulkan nalar bahwa Prabowo-Sandi adalah tipe pemimpin masa lalu. Betul memang sikap meneladani tokoh sejarah merupakan salah satu cara yang baik untuk kampanye. Hanya saja, narasi ini sebenarnya tidak cukup berhasil kalau Dahnil melihat rekam jejak presiden yang terpilih setelah era reformasi.

Sejak Presiden Soeharto runtuh, nama-nama di jajaran Presiden Indonesia muncul sebagai wajah baru. Dengan menyingkirkan nama BJ Habibie, kita bisa punya jejeran nama Gus Dur sebagai wajah baru presiden karena tidak punya ikatan langsung dengan kepemimpinan Orde Baru. Lalu muncul Megawati, yang sebenarnya tidak cukup sukses menjual nama besar bapaknya. Toh, nyatanya Megawati jadi presiden karena diuntungkan situasi saat Gus Dur dilengserkan Amien Rais. Dan lagi, Megawati relatif “wajah baru” presiden pada masa itu.

Sejak saat itu kemudian muncul wajah lain: Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004. Sosok yang tampil karena memberi tawaran baru bagi pemilih. Meski sempat jadi Menteri Menko Pulkam kabinet Megawati (sebelumnya dipecat dari Menteri Koordinator Politik dan Keamanan era Gus Dur), tidak banyak publik yang peduli kalau SBY sebenarnya “orang”-nya Megawati juga.

Baca juga:  777 Kesamaan Ustadz Jonru Ginting dengan Kak Iqbal Aji Daryono

Pertanyaannya kemudian, jika memang SBY menang karena merupakan wajah baru, kenapa di Pilpres 2009 dia menang lagi? Jawabannya: karena tidak ada tawaran wajah baru di pihak lawan. Semua lawan SBY “sama-sama” wajah lama—bahkan lebih senior lagi. Dari Megawati-Prabowo kemudian Jusuf Kalla-Wiranto.

Maka bisa dipahami ketika Jokowi diajukan oleh Megawati untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2014. Tawaran “wajah baru” ini sukses membuat PDIP kembali menang Pemilu 2014, mengulangi kesuksesan Pemilu 1999 (sebelum PDIP ditelikung di pemilihan MPR/DPR yang membuat Gus Dur jadi Presiden).

Jika ada sosok baru yang bisa ditawarkan Prabowo, tentu nama Sandiaga Uno patut dikedepankan. Sosok muda, berbahaya, enerjik, belum begitu lama di politik. Maka, ketimbang Prabowo yang merupakan “wajah lama” sebagai langganan Pilpres—meski belum pernah sekali pun jadi presiden, Sandi sedikit banyak punya keunggulan itu. Masalahnya cuma satu: dari Pilgub sampai Pilpres, Sandi selalu jadi orang kedua.

2. Dituduh Berjarak dengan Rakyat

Safari politik Sandiaga Uno ke akar rumput jelas patut diapresiasi. Sebagai “wajah baru” dalam ajang Pilpres, Sandi memang tampak disiapkan sebagai garda depan bagi Tim Kampanye Prabowo-Sandi.

Jalan ke pasar, beli tempe, tanya ke ibu-ibu, sampai main-main keseimbangan tubuh di pemakaman umum. Masalahnya, sosok yang jadi andalan bagi Timses Prabowo-Sandi ini sering shock culture menghadapi rakyat yang akan dipimpinnya sendiri. Beberapa komentar yang keluar usai menyentuh ke rakyat ini justru membuat tuduhan “berjarak” semakin mengemuka.

Dari soal tempe setipis ATM, 100 ribu cuma dapat bawang dan cabe, aksi mengalungkan pete di kepala, sampai—yang terakhir—menyebut nasi ayam di Jakarta lebih mahal ketimbang nasi ayam di Singapura. Premis yang dibangun sebenarnya bisa dipahami: Sandi ingin memberi tahu ke pemilihnya bahwa harga kebutuhan pokok sekarang mahal.

Cuma ada dua masalah yang selalu muncul dari premis kampanye ini.

Pertama, respons Sandi sering jadi overacting. Bermaksud bercanda barangkali, tapi malah benar-benar jadi bahan tertawaan netizen yang kejamnya naudzubillah. Sebab apa yang disampaikan Sandi tersebut tidak selalu ditemukan di pasar-pasar lain dan bentuknya malah jadi over-generalisir.

Celakanya, soal nasi ayam di Singapura lebih murah ketimbang di Jakarta, Sandi justru mengumumkan ke publik kalau dirinya pernah tinggal di Singapura. Hidup di sana.

Meski jawaban ini merupakan bentuk argumentasi bahwa Sandi paham betul apa yang disampaikan, hanya saja cerita pengalaman ini justru semakin melebarkan jurang bahwa Sandi ini adalah orang yang super kaya—padahal orang-orang yang bakal memilihnya nanti jelas tidak sekaya itu.

Baca juga:  SBY Minta Maaf ke Jokowi Gara-Gara Andi Arief, Ada Apa?

Bagaimana bisa orang yang lebih miskin memilih orang kaya kalau perspektif yang dipakai selalu perspektif orang kaya melulu? Ya kan ini sama sekali nggak mashook?

Kedua, tawaran program Sandi sering disebutkan dalam bentuk gagasan besar. Publik tentu semakin sulit buat membayangkan.

Oke deh, untuk menguatkan ekonomi kita perlu mengurangi impor, meningkatkan produksi lokal. Ya orang nggak ambil Jurusan Ekonomi juga tahu, tapi bagaimana caranya biar seperti itu? Lagi-lagi, Sandi selalu berhenti pada gagasan-gagasan besar saja.

Berhenti pada gagasan besar juga menyebabkan komunikasi Sandi jadi berjarak dengan rakyat yang akan memilihnya nanti. Penjelasan program-program yang bisa dipahami oleh rakyat jelata tentu harus diperam lagi oleh tim sukses Prabowo-Sandi, kalau memang betul-betul mau mengalahkan Jokowi-Ma’ruf tahun depan.

3. Dianggap Selalu Memainkan Isu Agama

Di antara semua kesulitan di atas, poin “memainkan isu agama” jelas jadi pekerjaan rumah yang cukup rumit diselesaikan oleh Tim Sukses Prabowo-Sandi. Meski bagi pemilih Prabowo-Sandi, hal ini sebenarnya tidak masalah sama sekali. Apalagi untuk mereka yang memang memilih Prabowo pada Pilpres 2014.

Hanya saja, kalau cuma mau mempertahankan suara di Pilpres periode sebelumnya, jelas Prabowo-Sandi bakal kembali kalah. Satu-satunya upaya adalah meyakinkan para pemilih baru atau “merebut” sedikit pemilih Jokowi-Ma’ruf untuk berpindah haluan.

Tidak memilih rekomendasi hasil Ijtima’ Ulama sebenarnya sebuah langkah yang patut diapresiasi oleh partai koalisi oposisi. Juga bisa jadi jalan untuk meyakinkan pemilih baru dan “sedikit” pemilih Jokowi pada periode sebelumnya, bahwa Tim Prabowo kali ini tidak akan jualan isu agama.

Sayangnya, beberapa ormas-ormas Islam kadung melekat ke pihak Prabowo. Dan ormas-ormas ini punya harapan besar kepada Prabowo. Harapan inilah yang—kalau tidak dimanajemen dengan baik—bisa jadi buah simalakama bagi Tim Prabowo-Sandi sendiri.

Di pihak Jokowi isu ini sebenarnya juga dimainkan dengan menggandeng KH. Ma’ruf Amin. Hanya saja, karena keberadaan Ma’ruf Amin diposisikan hanya sebagai benteng ketimbang tombak, maka hal tersebut tidak apple to apple dengan keberadaan—misalnya—Habib Rizieq Shihab yang cenderung lebih ofensif.

Pada beberapa kesempatan, Tim Prabowo-Sandi sudah mampu menahan diri untuk tidak terlalu memainkan isu ini. Seperti misalnya ketika ada imbauan “ganti presiden” pada demo bela kalimat tauhid di Jakarta, para politisi Prabowo-Sandi tidak ikut arus sentimen ini terlalu jauh. Bahkan komentar yang keluar pun cenderung adem ayem. Ini cukup kontras dengan misalnya situasi pada Pilgub DKI Jakarta 2017 silam.

Dan di antara semua kesulitan di atas, rupa-rupanya baru soal tuduhan memainkan isu agama saja yang sejauh ini pelan-pelan mau diperbaiki oleh Tim Prabowo-Sandi.