MOJOK.COGibran Rakabuming sebut kuliner Indonesia sudah dijajah oleh kuliner asing. Iya juga sih, dari Oreo sampai Silverqueen, semua jadi toping Markobar.

Belum juga resmi menjadi politisi, Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Jokowi sudah mulai diserang sana-sini oleh netizen karena omongannya.

Baru-baru ini, calon politisi muda yang baru saja terdaftar menjadi bagian dari PDI Perjuangan mengomentari kuliner di Indonesia yang semakin dijajah oleh kuliner asing.

Hal ini tak lepas dari kapasitas Gibran, seorang pengusaha kuliner terkemuka di Indonesia. Bisnisnya dari Markorbar sampai Chili Pari menempatkannya sebagai salah satu pengusaha muda berpengaruh dan menjadi contoh kawula muda.

“Kalau saya lihat ya, dunia kuliner di Indonesia itu sekarang sudah sedikit terjajah sama brand-brand luar,” kata Gibran.

Menurutnya, pengusaha kuliner Indonesia harus mampu menciptakan brand makanan yang mendunia, supaya label kuliner asing tidak merajalela di negeri sendiri. Hal ini sih masuk akal saja, karena Indonesia memang memiliki makanan-makanan tradisional yang layak untuk bertarung secara global.

“Jangan sampai makanannya piza dan burger terus. Ya, sekali seminggu nggak apa-apa. Tapi jangan sampai anak-anak nggak tahu nasi dan sambal. Jangan sampai Jan Ethes juga nggak suka makan nasi,” kata Gibran.

Masalahnya, ungkapan ini pun langsung berbalik ketika dikomentari netizen seperti ini.

Hal yang seolah menunjukkan bahwa bisnis kuliner Markobar yang dikelola Gibran pun tak lepas dari brand asing. Waduh, kok pada jahat begini sih sama Gibran, padahal kan yang dimaksud bukan itu.

Pernyataan Gibran ini kan soal brand. Jadi nggak masalah kalau Markobar dibuat dari belasan produk brand luar negeri, asalkan brand utamanya tetap Indonesia banget: Martabak Kota Barat (Markobar).

Lagian nama “Kota Barat” ini diambil dari nama sebuah daerah beken di Solo. Ingat ya, ini soal brand bukan soal bahan-bahan makanan.

Baca juga:  GBK Hujan, Atlet Pakai Jas Hujan Mirip ‘Tugas Negara Bos’ Saat Penutupan Asian Games 2018

Memang, kalau mau nurutin netizen bahwa bahan-bahan makanan untuk toping Markobar gitu nggak boleh pakai brand asing biar konsisten sama omongan sendiri, masak iya martabak manis dikasih toping nasi dan sambal terasi?

Lalu biar tambah Indonesia banget, bukannya dikasih toping Oreo atau Silverqueen, tapi malah dikasih tiwul, gudeg, suwiran daging ayam kampung, tempe bacem. Wah, ambyar. Bukannya jadi enak malah jadi kenyang. Hadeh.

Oleh karena itu, sebagai netizen, udah deh kita nggak usah nyinyirin Mas Gibran. Lagian nggak semua hal yang diomongin belio itu harus ditelan mentah-mentah. Baiknya dinalar dulu deh. Nggak usah sensi kalau Mas Gibran lagi kasih imbauan yang baik begitu. Ini kan demi kemashlahatan pengusaha dalam negeri juga.

Lagian, dengan brand asing di toping menu Markobar, hal ini mendukung salah satu program dari Presiden Jokowi. Yakni program untuk memangkas seluruh regulasi yang menghambat investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Toping di Markobar ini adalah sebuah wujud dukungan kecil dari seorang Gibran Rakabuming terhadap program Presiden.

Lagian, jangan dianggap hal ini sebagai jarkoni (iso ngajar ra iso ngelakoni), melainkan justru Gibran ini sedang kasih contoh. Bahwa, tuh lihat, bisnis saya yang kayak gini pun ada andil dari brand luar negeri kan? Bahaya banget ini kalau dibiarkan lama-lama. Bisa dijajah di rumah sendiri nih.

Oleh karena itu, Gibran juga menyampaikan solusi. Bahwa ada baiknya para pengusaha kuliner Indonesia juga memasarkan produknya ke luar, “Jangan sampai brand luar mengisi mal-mal. Harusnya Indonesia yang ke luar seperti Geprek Bensu.”

Kayak gini sebenarnya juga sudah dicontohkan oleh Gibran sejak kuliah. Seperti ketika Gibran juga lebih memilih kuliah ke luar negeri, bukannya di Universitas Sebelas Maret (tapi yang disingkat UNS) di Solo.

Baca juga:  Rekonsiliasi atau Revolusi dari Mas Kaesang Pangarep

Bukan karena brand kampus luar negeri lebih baik dari kampus lokal. Bukan, bukan karena itu.

Hal ini karena Gibran ingin menunjukkan kalau dirinya juga siap bersaing di kampus-kampus luar negeri sebagai mahasiswanya. Go International gitu. Maka tak heran, pengetahuan globalnya sangat mumpuni untuk bicara soal asing-asing—terutama soal kuliner asing. Khatam bolak-balik blio mah.

Artinya, melihat fakta-fakta tersebut jangan lantas diartikan kalau Gibran itu otomatis jadi anti-asing. Beliau cuma bilang bahwa pengusaha kuliner Indonesia itu harus bisa go internasional seperti dirinya. Lagian dalam waktu dekat, blio bakal mempromosikan kuliner Indonesia melalui Goola dan Mangkok Ku ke pasar Australia.

Wah, padahal kalau mau memperkenalkan brand yang Indonesia banget, harusnya sih nggak pakai mangkok sih, tapi pakai pincuk. Tapi nggak apa-apa, yang punya pengalaman bisnis global kan blio. Mungkin ini yang dinamakan negosiasi taktis-ekonomis.

Di sisi lain, kalau mau jujur-jujuran aja, semua pengusaha kecil di Indonesia itu sebenarnya juga pingin banget bisa meniru Mas Gibran. Bisa bikin brand sendiri lalu produknya bisa sampai ke luar negeri. Keren banget gitu. Yah, nggak perlu sampai kayak Mas Gibran lah, cukup bisa dijual di Timor Leste atau Papua New Guinea juga pasti udah seneng kok.

Dari yang jual pecel lele di pinggir kampus, martabak di depan Indomaret Point, sampai abang tukang bakso keliling kompleks, semua tentu kepikiran pingin punya bisnis mendunia. Buka cabang di mana-mana kayak Mas Gibran.

Sayangnya, nggak seperti Mas Gibran, pedagang-pedagang ini kekurangan satu hal yang sangat fundamental: modal.

Baik modal intelektual, modal finansial, maupun modal sosial.

BACA JUGA Menghitung Omzet Gibran Rakabuming dari Chilli Pari dan Markobar atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles