MOJOK.COBukan tidak mungkin bakal ada jenis pekerjaan aneh di masa depan. Macam staf penghapus kolom komentar sampai tukang servis robot.

Sebagai bapak amatiran, saya ingin membebaskan anak saya untuk punya cita-cita apapun. Apapun yang dia mau. Sebab saya yakin, pada masa depan nanti akan ada banyak tawaran jenis pekerjaan baru yang nggak bisa saya dapatkan gambarannya saat ini.

Kita bisa ambil beberapa contoh jenis pekerjaan yang bisa saja muncul 10 atau 20 tahun lagi. Misalnya, bukan tidak mungkin bakal ada jenis pekerjaan macam staf penghapus kolom komentar, terapi pecandu media sosial, admin Whatsapp, olah data foto di galeri smartphone, tukang servis robot, sampai pemandu wisata luar angkasa.

Hal-hal beyond kayak gitu sebenarnya udah tergambar kalau kita mau menengok 20 tahun belakang. Betapa banyak jenis pekerjaan yang sulit digambarkan oleh orang tua atau calon mertua di sekitar kita.

Saya pikir pekerjaan “normal” seperti admin media sosial atau web master saja adalah pekerjaan yang belum terpikir bakal menjanjikan pada 20 tahun ke belakang.

Jangankan admin media sosial yang terkesan aneh untuk manusia pada era sebelum 2000-an, jenis pekerjaan yang saya jalani saat ini saja masih cukup sulit kok dijelaskan ke orang tua. Dulu ketika saya masih di Jakarta, saya tinggal bilang, “wartawan”, beres perkara.

Baca juga:  Yang Bilang Perempuan Menikah Nggak Bisa Traveling, Tolong Attitudenya Ya!

Lah kalau sekarang? Jadi tukang pilih naskah di situs macam Mojok? Sebuah majelis ghibah yang isinya adalah nyinyiran netizen itu? Jenis pekerjaan macam apa itu?

Disebut wartawan kok nggak pernah liputan, disebut jurnalis nggak pernah di lapangan, disebut editor kok nggak pernah ngedit buku, disebut penulis kok bukunya cuma dua bijik.

Untungnya saya punya jenis pekerjaan lain selain berkutat dengan naskah-naskah di Mojok. Seperti ngajar tiap minggu di salah satu kampus negeri misalnya. Jenis pekerjaan yang jadi alibi kalau-kalau orang tua saya ditanyain tetangganya, “kerja apa anaknya?”

Meskipun bapak-ibu saya tahu, ngajar di kampus itu bukan profesi saya, itu cuma hobi. Cuma klangenan.

Itulah kenapa saya optimis, bahwa ada banyak ragam pekerjaan yang bisa ditawarkan oleh anak saya nantinya. Bisa aja nanti anak saya, anak kamu juga, malah jadi pionir jenis pekerjaan barunya.

Masalahnya ketika hal itu iseng saya tanyakan pada anak saya, pada suatu malam yang selo, jawabannya agak bikin saya cemas.

“Skala…”

Iya, itu nama anak saya.

“…kalau gede cita-citanya mau jadi apa?”

Tanpa mikir sama sekali inilah jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Jadi T-Rex, Yah. Jadi T-Rex,” jawab Skala.

“Apa? Jadi T-Rex?”

Dinosaurus? Waw. Cita-cita yang menarik. Ya kali aja dia bisa jadi kayak pengusaha John Hammond pemilik tempat wisata Jurrasic Park.

Baca juga:  Anak Saya Suka Membaca, dan Itu Membuat Saya Waswas

“Huwaaagghh… Huwaaagh….” teriaknya setelah tahu bahwa cita-cita T-Rex sepertinya diizinkan oleh ayahnya.

Hm, optimisme saya di awal tadi agak berlebihan. Tapi saya masih berusaha berprasangka baik. Ya kan bisa aja, anak saya bakal jadi atlet Esport khusus game T-Rex di Google Chrome yang offline itu.

Sekalipun jawaban ini cukup absurd, sebenarnya saya cukup lega. Soalnya, jawaban anak saya kali ini sebenernya masih berkutat pada makhluk hidup. Ya iya dong, sebab dua minggu lalu jawaban anak saya jauh lebih absurd lagi ketika ditanya cita-citanya apa.

“Skala pengen jadi apa kalau gede?”

“Robooot. Roboot, Yaaah. Biar nggak bisa tua.”

Hm, meski kecil-kecil udah pengen jadi Terminator, tapi idenya menarik juga.

BACA JUGA Betapa Seringnya Ditanyai Cita-cita Masa Kecil: Memangnya Harus Punya? atau tulisan POJOKAN lainnya.