• 78
    Shares

MOJOK.CO – Waketum Gerindra beberkan hasil survei yang tunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi unggul dari Jokowi. Nama lembaga surveinya sih rahasia. Hm, mainan kode.

Publik baru-baru ini dikejutkan dengan hasil survei yang dibuka oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono. Bagaimana tidak? Hasil survei yang dibuka menunjukkan keunggulan telak pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi ketimbang Jokowi-Ma’ruf.

Lho kok bisa? Ya bisa dong, di negara ini apa sih yang nggak bisa.

Hasil survei yang dibuka ini menunjukkan kalau elektabilitas Prabowo-Sandi bahkan mencapai angka di atas 50 persen, yakni 54,3 persen. Sedangkan Jokowi-Ma’ruf terjun bebas di angka 40,3 persen. Waw, luwar biyasa.

Hasil ini tentu mengejutkan, sebab di saat lembaga survei terkemuka seperti PolMark Indonesia, Cyrus Network, Avara Research Center, sampai LSI Denny JA menempatkan Jokowi-Ma’ruf Amin di posisi lebih unggul, lembaga survei yang dibuka Arief ini hasilnya kontradiktif.

Uniknya, ketika diminta survei yang menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi jauh di atas ini dibikin oleh lembaga apa, Arief mengaku enggan membukanya ke publik. “Untuk nama lembaganya kita rahasiakan, karena takut diteror nanti,” kata Arief.

Nitizen pun langsung merespons hasil survei dari lembaga survei “rahasia” ini. Netizen bahkan sampai menduga bahwa ini bisa saja tidak benar karena Arief tidak berani mengungkap lembaga survei apa yang dimaksud.

Padahal sebagai warga negara yang cerdas apa yang dibicarakan Arief Poyuono bisa saja sesuai fakta lapangan. Jangan apa-apa yang bersifat “rahasia” kayak begitu kok langsung dicurigai. Kan tidak menutup kemungkinan lembaga survei yang dirahasiakan ini sebenarnya lembaga survei kredibel dan diakui sampai dunia akhirat internasional.

Sebenarnya, tak perlu main rahasia-rahasiaan untuk bisa mendapatkan hasil survei yang bisa menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi jauh lebih unggul ketimbang Jokowi-Ma’ruf. Cukup dengan melakukan 4 cara di bawah ini. Dijamin moncer.

Baca juga:  Koalisi Indonesia Adil Makmur pengusung Prabowo-Sandi Resmi Dibubarkan

1. Survei di kantor Gerindra

Untuk yang pertama, lakukan survei di kantor sekretariat Partai Gerindra di seluruh Indonesia. Jaminan mutu pasti hasilnya. Kalau sampai kalah juga, maka bisa jadi ada anggota yang sedang main dua kaki.

Hal yang perlu diingat responden yang dipilih untuk survei ini sebaiknya nggak semua orang yang berada di dalam kantor juga, tapi juga orang-orang di sekitar kantor.

Ya iya dong, soalnya kalau responden yang ngisi cuma orang-orang di dalam kantor kan bisa-bisa hasilnya elektabilitas Prabowo-Sandi bisa mencapai 100 persen. Bakalan aneh saja kalau hasil survei sampai 100 persen gitu. Lha wong 54,3 persen aja ada yang meragukan kok, bijimana sih?

2. Survei ke jamaah PA 212

Selain survei ke anggota Partai Gerindra melalui kantor cabang di seluruh Indonesia, cara berikutnya adalah dengan memilih responden survei ke jamaah Reuni 212. Bahkan tanpa perlu repot-repot, lembaga survei “rahasia” tidak perlu mengumpulkan responden. Cukup pantengin aja kalau mereka lagi ada acara politik keagamaan. Udah irit transportasi, irit tenaga, hasilnya memuaskan lagi. Mashoook kan?

Apalagi kalau survei ini dilakukan ke mereka yang secara sadar mendeklarasikan diri masuk jadi bagian dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. Dengan jumlah mencapai jutaan jamaah, sudah barang tentu mereka merupakan responden yang potensial untuk disurvei. Tapi jangan kaget kalau hasil survei bisa mencapai angka 212 persen mendukung Prabowo-Sandi. Maklum, militan dan demen angka cantik je.

Baca juga:  Sandiaga Uno Tantang Lomba Renang, Eh Ditantang Balik Lomba Baca Al-Quran

3. Survei ke jamaahnya Gus Nur

Selain mencari responden mereka yang aktif menjadi bagian PA 212, survei bisa juga dilakukan ke jamaahnya Gus Nur. Maklum, Gus Nur memang selama ini dikenal sebagai sosok paling keras terhadap Pemerintahan Jokowi.

Meski sampai saat ini tidak pernah mengklaim sebagai pendukung Prabowo secara resmi, namun selama ini Gus Nur pun tidak pernah meminta jamaahnya untuk golput. Jadi artinya tetap kudu milih satunya ya kan?

Apalagi jamaah ustaz yang sedang lucu-lucunya ini memang dikenal dengan sikap keras mereka, wabilkhusus ke kelompok pendukung Jokowi. Jangankan pendukung Jokowi, terhadap sesama jamaah yang bertanya ke Gus Nur soal hukum fikih atau melontarkan kritik karena ceramah Gus Nur dinilai sering ghibah dalam pengajiannya saja bisa diusir jauh-jauh kok.

Jadi kalau mau bikin survei elektabilitas capres-cawapres yang hasilnya memenangkan Prabowo, ya sudah jelas, mereka adalah pilihan responden berikutnya.

4. Survei di keluarga besar Prabowo

Sesuai dengan tagline di film Keluarga Cendana, eh Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga, maka lembaga survei super-duper-rahasia ini juga bisa melakukan survei dengan memilih responden ke anggota keluarga besar Prabowo Subianto.

Namanya juga hubungan keluarga, sudah pasti mereka akan mendukung dengan segenap jiwa raga. Bahkan jika biasanya lembaga survei yang mendatangi responden, bukan tidak mungkin keluarga besar Prabowo yang mendatangi lembaga surveinya dengan semangat.

Hanya saja, hal yang harus diingat adalah survei berbasis keluarga ini jangan dilakukan di keluarga besar Sandiaga Uno, terutama yang di Gorontalo. Lha gimana? Keluarga Uno udah deklarasi dukung Jokowi je. Bisa rusak dong nanti hasil surveinya.