MOJOK.CORencana Kemenag memberi bantuan ke para ustaz yang sepi job itu sebenarnya tak buruk-buruk amat. Cuma ya nggak baik-baik amat juga.

Ide Kementerian Agama yang mau kasih bantuan untuk ustaz, kiai, dan guru ngaji yang terdampak pandemi COVID-19 itu sebenarnya ide yang sangat bagus sekali. Ya iya dong, ustaz-ustaz mau dikasih “sedekah” kan boleh-boleh aja ya kan?

Tangan pendidikan agama untuk umat ada di tangan mereka para ustaz itu. Kepada siapa lagi marwah agama mayoritas ini dipasrahkan kalau bukan pada para pemuka agama ini?

Oke, secara substantif, pemberian bantuan untuk para ustaz dan penceramah ini benar-benar baik, hanya saja niat memberi bantuan ini bisa berisiko bikin masalah baru. Setidaknya ada empat alasan kenapa bisa seperti itu.

Pertama, soal alasan Kemenag kasih bantuan yang…

“Siapa tahu sudah oleng karena ada ceramah yang seharusnya dipanen tidak ada lagi karena masjid ada pembatasan,” kata Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, mengomentari soal ide bantuan untuk ustaz atau penceramah di masa pandemi ini.

Logika Wakil Menteri Agama ini memang tak salah. Jika situasi kali ini sedang normal, maka penceramah dan ustaz bulan ini memang lagi panen-panennya: bulan Ramadan, pengajian ramai, job makin banyak, bisyaroh bejibun, kesejahteraan meningkat.

Hanya saja, karena pandemi datang, orderan Ramadan tahun ini jadi minim. Ceramah sih masih bisa, tapi nggak ada yang kasih bisyaroh lagi karena pol mentok cuma bisa via online. Alhasil—menurut pemahaman Zainut Tauhid—kesejahteraan para ustaz ini sedang jelek-jeleknya.

Belum dengan pernyataan Ace Hasan Syadzily, DPR dari Fraksi Golkar, yang bilang karena pemasukan ustaz berkurang karena pandemi, makanya kalangan macam ini jadi perlu bantuan Kemenag.

“Gara-gara COVID-19 ini, mohon maaf sekali, kultum biasanya para ustaz mendapat Rp500 ribu sampai Rp1 juta, sekarang mereka sama sekali nggak dapat,” kata Ace.

Ini pemahaman yang menandakan bahwa lembaga agama di republik ini pun melihat dakwah sebagai sebuah PEKERJAAN. JOB. KERJA. Makanya, alasan pemberi bantuan untuk para ustaz ini nggak ada bedanya dengan alasan pemberian bantuan untuk tukang cilok yang terdampak karena sekolah pada libur.

Baca juga:  Cuma Kasih Uang 50 Ribu Sehari tapi Ceraikan Istri Karena Nggak Bisa Ngatur Duit

Cuma beda di penyebutan doang. Kalau pedagang cilok namanya “untung”, freelancer dapat “honor”, kalau ustaz dapet “bisyaroh”. Intinya mah sama aja: dapet duit.

Dengan pemahaman semacam ini, bukan tidak mungkin kalau nanti ustaz bakal jadi jenis pekerjaan dengan jenjang karier yang menjanjikan di Indonesia. Ustaz pasang tarif pun bisa jadi merupakan pemandangan biasa nanti, karena—bahkan—Kemenag pun malah mengamini kalau aktivitas ini adalah profesi.

Lagian, kalau emang soal kesejahteraan para ustaz yang diperhatikan, seharusnya sudah dari dulu hal semacam ini dianggarkan. Bukan untuk ustaz yang sering nongol di pengajian ke pengajian, melainkan guru ngaji-guru ngaji di surau pelosok, yang bahkan sudah merasakan efek “pandemi” sebelum masa pandemi.

Kedua, hanya untuk pemuka agama Islam doang nih?

Selain itu, melihat prioritas bantuan untuk pemuka agama umat Islam aja itu juga rentan bermasalah.

Untuk pemuka yang lain gimana? Oh, atau Kemenag merasa pemuka agama lain itu secara ekonomi nggak kena efek pandemi jadi nggak perlu dikasih bantuan?

Kalau itu alasannya, ini sama aja Kemenag mengejek para ustaz di negeri ini. Emangnya pemuka agama Islam lebih kere ketimbang pemuka agama lain sampai perlu disediain anggaran bantuan khusus segala? Wah, wah, wah. Mulai nggak bener nih.

Soalnya nggak mungkin banget kalau alasannya karena Kemenag lebih memprioritaskan pemuka agama yang Islam doang dan tutup mata sama pemuka agama lainnya.

Ya iya dong, lah wong Menteri Fachrul Razi pernah bilang ketika mau dilantik 2019 kemarin, “Saya garis bawahi ya, saya ini bukan Menteri Agama Islam! Saya Menteri Agama Republik Indonesia yang menangani berbagai macam-macam agama ya.”

Tuh lihat. Mana mungkin beliau bohong, lah wong beliau menteri agama og.

Ketiga, skala prioritas Kemenag

Masih ingat dengan tagar #kemenagprank yang sempet jadi trending di Twitter pada April 2020 kemarin?

Itu lho, rencana pemberian diskon 10 persen Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi para mahasiswa yang kuliah di kampus di bawah naungan Kemenag yang akhirnya dicabut semua. Benar-bener lagi nge-prank, tapi kelasnya udah yang pakai nama agama.

Saat itu banyak mahasiswa UIN, IAIN, STAIN yang protes dengan kebijakan Kemenag ini. Ya wajar, fasilitas perkuliahan jarang digunakan ketika pandemi, tapi mahasiswa disuruh bayar utuh. Apalagi sebelumnya Kemenag menjanjikan mau ada diskon segala.

Baca juga:  Soal Ormas Persekusi Gereja di Kepri, Menteri Agama Nyatakan itu Bukan Kasus Intoleransi

Saat itu, alasan Fachrul Razi sederhana. Anggaran untuk memberi diskon kepada para mahasiswa itu ternyata dikurangi dari pusat. Bahkan menurutnya, anggaran Kemenag dipotong Rp2,6 triliun karena mau dialokasikan negara untuk mengatasi pandemi.

Anggaran dipotong Rp2,6 triliun tapi malah mau bagi-bagi bantuan ke ustaz-ustaz sepi job?

Benar-benar sikap dermawan yang kepooolen.

Keempat, siapa yang dianggap ustaz?

Nah, ini adalah alasan paling rentan dari rencana Kemenag memberi bantuan untuk para ustaz. Apa parameter yang bakal digunakan Kemenag untuk menilai seseorang ustaz atau tidak?

Alih-alih soal pemberian bantuan, soal sertifikasi saja hal ini sudah jadi masalah dua tahun lalu.

Kalau kita lihat spion ke belakang, 2018 silam publik sempat geger dengan daftar 200 mubalig yang direkomendasikan Kemenag. Hal yang bikin panas—salah satunya—tidak ada nama Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Adi Hidayat di sana. Padahal jamaah kedua ustaz ini cukup banyak.

Tidak dijelaskan secara pasti kenapa banyak nama beken tidak masuk ke dalam rekomendasi Kemenag saat itu. Hanya saja satu tahun kemudian masyarakat bisa nebak-nebak jawabannya.

Oh, kedua ustaz ini jebul berada di gerbong pilihan politik yang berbeda dengan pemerintah saat itu.

Sekarang, dengan ide bantuan dari Kemenag untuk ustaz kayak gini, apa ada jaminan, sentimen macam gitu sudah tidak ada? Benarkah semua pihak bakal dibagi secara adil dan merata? Atau malah bikin masalah baru nantinya?

Ustaz-ustaznya sih mungkin biasa-biasa aja, nerima bantuan atau nggak ya biasa aja. The show must be go on. Hatapi jamaahnya itu lho yang suka rewel. Mencak-mencak di medsos. Memang Kemenag siap dengan itu semua?

Soalnya gini Pak Menteri Fachrul Razi, mengatasi masalah dengan masalah itu jargonnya pegadaian, bukan visi misinya ente punya kementerian yang…

…lebih peduli sama kantong ustaznya ketimbang dapur jamaahnya. Eh.

BACA JUGA Siasat Unfaedah Mahasiswa Filsafat UIN Saat Denger Kemenag Batalin Diskon UKT atau tulisan soal Kemenag yang uwuwuwu lainnya.