MOJOK.CO – Selain bawa pulang Habib Rizieq, Jokowi perlu juga untuk ajak beliau masuk ke kabinet. Ya biar rekonsiliasi ini sukses sampai ke FPI arus bawah.

Gonjang-ganjing rencana rekonsiliasi antara kubu 01 dengan 02 masih dibahas. Awalnya beberapa elite partai sudah menyiratkan tidak masalah dengan rekonsiliasi, namun jebul tak semudah itu mendamaikan polarisasi antara kubu Jokowi dengan kubu Prabowo.

Situasi makin pelik ketika Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjutak mengajukan syarat terjadinya rekonsiliasi. Menurut Dahnil, sebaiknya pemerintah memberi kesempatan kepada Habib Rizieq Shihab untuk kembali ke Indonesia.

Pernyataan ini memang masih pendapat pribadi Dahnil saja, artinya tidak bisa mewakili secara keseluruhan suara kubu Prabowo. Akan tetapi, tetap saja hal ini perlu dipikirkan masak-masak dan tidak dianggap remeh oleh kubu Jokowi.

Soalnya hampir semua jamaah beliau adalah pendukung Prabowo Subianto. Akan percuma kiranya, jika di kalangan elite 01 dengan 02 sudah berdamai, tapi di akar rumput cebong dan kampret masih sering bertengkar. Dan salah satu usul solutif yang diajukan Dahnil adalah membawa pulang Habib Rizieq demi meredakan sentimen sebagian besar pendukung Prabowo ke Jokowi.

Akan tetapi, kalaupun akhirnya kubu Jokowi setuju dengan usulan Dahnil ini, agaknya sentimen kemarahan jamaah Sang Imam Besar ke Pemerintah tetap tidak bisa hilang 100 persen. Ingat, Bung, dendam itu membara. Tak mudah dipadamkan. Apalagi narasi-narasi kriminalisasi ulama gencar diembuskan di mana-mana.

Oleh karena itu, selain mengabulkan usulan Habib Rizieq “dijemput” pulang, sepertinya Jokowi perlu menimbang untuk menjadikan Sang Imam Besar masuk ke kabinet juga. Ketimbang ribut-ribut terus ya kan? Diajak kerja bareng-bareng aja biar energinya tersalurkan dengan asyik.

Nah, untuk itu kami coba memberi usul ke Pak Jokowi, kira-kira jabatan menteri apa yang bisa ditawarkan ke Habib Rizieq sebagai upaya rekonsiliasi ini. Monggo, Pak Jokowi, silakan dibaca.

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Presiden Jokowi

1. Menteri Luar Negeri

Sebagai sosok yang sudah pernah tinggal lama sekali di luar negeri, Habib Rizieq tentu sudah hafal dengan seluk beluk urusan luar negeri. Lha ya jelas sekali dong kalau beliau sudah ahli dalam bidang ini, lha kok kalian kayak meremehkan begitu sih.

Begini lho. Jika biasanya seseorang ke luar negeri selalu punya alasan untuk studi banding, kuliah, kerja, atau ibadah, Habib Rizieq bisa ke luar negeri tanpa tujuan spesifik. Ini kan dashyat bener, Bung! Nggak ada lho dalam sejarah Indonesia hal kayak begini bisa terjadi.

Selain itu, beliau juga punya kebebasan mengenai batas waktu untuk tinggal. Lebih hebatnya lagi, baik negara tujuan maupun negara asal sama-sama tak berani membawa pulang. Mungkin dalam sejarah imigrasi untuk orang seterkenal beliau, sepertinya cuma Habib Rizieq saja yang punya pengalaman itu.

Yakin sudah, untuk urusan luar negeri, beliau nggak akan bisa dikalahkan. Semua akan terlihat amatiran di hadapan beliau. Soalnya ketika yang lain cuma ahli teori, Habib Rizieq sudah terbukti mumpuni sebagai praktisi. Bertahun-tahun lagi.

2. Menteri Agama Islam

Kayaknya nggak perlu dijelaskan deh apa alasan Habib Rizieq layak ditawari menjadi Menteri Agama Islam di Indonesia.

Oke, sebentar, sebentar. Mungkin kalian bertanya-tanya, kok “Menteri Agama Islam” bukannya di Indonesia itu “Menteri Agama” ya? Yap kamu nggak salah baca. Embel-embel Islam di belakang adalah sebuah sematan khusus kalau Habib Rizieq berkenan jadi Menteri ini.

Presiden bisa mempertimbangkan untuk menambah satu kementerian lagi. Setelah ada Kementerian Agama, bisa dibikin juga Kementerian Agama Islam. Jabatan yang khusus dibikin untuk Habib Rizieq doang.

Hal ini semata-mata agar beliau tidak perlu repot-repot mengurusi umat agama lain. Jadi bisa fokus untuk ngurusin umat muslim se-Indonesia, bahkan kalau perlu se-Asia Tenggara. Sejagat raya juga boleh deh.

Baca juga:  Lupakan Ira Koesno, Inilah Moderator Debat Capres Pilpres 2019 yang Lebih Oke

Soal pengalaman dan kualifikasi ya tak perlu ditanyakan. Sebagai Imam Besar FPI, kualifikasi beliau untuk menjadi Menteri Agama Islam di Indonesia tak perlu diragukan. Bahkan bukan tidak mungkin persoalan-persoalan yang ada di Kementerian Agama bisa diselesaikan oleh Kementerian Agama Islam yang dipimpinnya.

Misalnya soal ibadah haji ke tanah Arab Saudi. Habib Rizieq bisa aja menyelesaikannya sendiri secara langsung. Bagaimana caranya? Ya tentu saja, diselesaikan sebagai seorang praktisi. Udah haji dan umroh berkali-kali ini.

3. Menteri Rekonsiliasi

Selain tawaran menambah kementerian baru “Menteri Agama Islam”, Pak Jokowi kayaknya juga perlu menawari satu lagi jabatan khusus kalau Habib Rizieq masih tak berkenan dengan dua tawaran di atas.

Jabatan apa itu? Yak, betul Menteri Rekonsiliasi.

Tugas kementerian baru ini pun nggak main-main. Apalagi dengan situasi polarisasi di Indonesia kayak begini. Tugas Menteri Rekonsiliasi secara sederhana adalah mendamaikan cebong dan kampret di lapangan.

Tak perlu merasa pesimis kalau beliau tidak bisa melakukan tugas ini dengan baik. Jangan salah, beliau pasti bisa. Bahkan tidak berlebihan disebut kalau sebenarnya hanya Habib Rizieq saja yang mampu mengemban tugas mahaberat ini.

Kok bisa? Ya bisa dong. Beliau tinggal mengiyakan tawaran ini saja masalah otomatis teratasi kok. Artinya kesuksesan kementerian ini bergantung pada mau tidaknya Habib Rizieq menerima jabatan ini.

Sekarang bayangkan, kalau Habib Rizieq mau. Sudah pasti pengikut beliau bakal melunak terhadap kubu Jokowi. Lha iya dong, masa mau menghujat Pemerintah yang ada Sang Imam Besar di situ? Kan nggak mungkin banget.

Bukan tidak mungkin Kementerian Rekonsiliasi akan jadi kementerian terbaik sepanjang sejarah di Indonesia—karena semua visi dan misi langsung terpenuhi begitu calon menterinya mau terima jabatan ini.