MOJOK.CO – Yahya Waloni viral lagi setelah meminta ganti kursi ketika ceramah. Katanya kursi yang dia duduki itu “kursi kristen” alias kayak kursi gereja. Lah? 

Bahkan sampai detik saya menulis judul untuk tulisan ini, kamu yang tahu siapa Ustaz Yahya Waloni, mungkin masih bertanya-tanya dengan gundah; jamaah jenis gimana sih yang masih bisa menikmati ceramah seorang Ustaz Yahya Waloni?

Ini pertanyaan serius tentunya. Apalagi buat kamu yang tak juga menemukan pembenaran di sudut mana blio itu begitu menarik untuk didengarkan sama jamaahnya. Aneh aja rasanya.

Nama Yahya Waloni memang sudah sering mampir di beranda medsos saya, mungkin juga beranda medsos kamu. Hanya saja, kebanyakan yang muncul adalah sisi negatifnya.

Baru saja, ustaz satu ini viral lagi karena ada potongan video yang menunjukkan blio di tengah-tengah ceramah meminta kursi penceramah diganti—hanya karena kursi awal disebut Yahya Waloni sebagai “kursi kristen”.

Belum selesai di situ, usai kursi ceramahnya diganti Yahya Waloni juga mengibaratkan bahwa Islam itu adalah keras, makanya dia lebih butuh perlu kursi yang lebih keras. Bukan kursi yang empuk dan melenakkan seperti “kursi kristen” itu.

Dari sana kita bisa membaca sebenarnya kata kunci dari seorang Yahya Waloni dalam setiap ceramahnya, yakni: “keras”.

Kamu bisa juga kok melacak “kekerasan” ceramah seorang Yahya Waloni di mesin pencari.

Dari mulai mengajak seorang jamaah ribut sampai nantang kelahi, tersinggung dengan panitia karena mic yang bermasalah, sampai cerita dengan bangga menabrak (secara sengaja) seekor anjing di jalanan.

Baca juga:  Idola di Jagat Rental Mobil itu Innova Reborn, Bukan Avanza

Sisi keras dari Yahya Waloni—entah kenapa—begitu digandrungi oleh sebagian kecil umat muslim di sudut-sudut sana. Hal yang mungkin bikin kamu sedikit agak khawatir.

Dulu Yahya Waloni dikenal karena reputasinya yang merupakan mantan pendeta. Setiap ceramahnya kebanyakan mengulik-ulik tentang agamanya dulu. Ketimbang cerita pengalamannya menjadi mualaf, Yahya justru kerap menceritakan keburukan agamanya terdahulu.

Tak usah kamu marah-marah sambil membacakan surat Al-An’am ayat 108 ke telinga Yahya Waloni, tentang …dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.

Bukan, bukan karena Yahya Waloni nggak mau menyampaikan itu, atau karena durasi ceramahnya keburu abis. Mungkin aja blio nggak tahu kalau ada larangan bagi setiap muslim untuk mencela agama lain.

Ya nggak apa-apa dong kalau nggak disampaikan karena nggak tahu. Nggak dosa dong. Orang nggak tahu. Kalaupun ternyata Yahya Waloni tahu tapi tetep kekeh begitu, ya itu biar jadi urusan dia sama Tuhan dooong.

Jangan samakan dengan Deddy Corbuzier dan Marcell Siahaan, duo mualaf, yang cenderung menyenangkan didengar karena selalu fokus soal kisah menemukan keintiman dengan agama barunya, atau Lukman Sardi yang diem-diem aja tanpa pernah mau menyinggung agama lamanya (yaiyalaaah).

Meski begitu, kembali ke persoalan kenapa masih banyak jamaah yang demen banget mendengarkan ceramah seorang Yahya Waloni?

Jawabannya karena jamaah untuk mubalig di negeri ini sebenarnya terbagi pada dua pasar.

Pertama, pasar amar ma’ruf.

Yakni jenis jamaah yang melihat dunia dengan penuh syukur, melihat agama sebagai kedamaian, dan berusaha mengejar aroma-aroma kasturi surgawi. Jamaah model ini suka banget sama ceramah yang adem-adem, haha-hihi, sekaligus kadang ada yang nangis-nangis haru.

Baca juga:  Pentingnya Komunikasi dalam Hubungan karena Kita Bukan Deddy Corbuzier

Kedua, pasar nahi mungkar.

Yakni jenis jamaah yang melihat dunia adalah godaan semata. Melihat agama sebagai pembebas dari ancaman neraka. Setiap saat berusaha istigfar karena melihat dunia semakin rusak.

Jamaah model begini suka banget sama ceramah yang berapi-api, teriak-teriak takbir, bahkan kadang sampai nangis-nangis marah karena seperti melihat ketidakadilan.

Dalam kasus Yahya Waloni, patut diduga dia ini adalah tipikal mubalig yang mengakomodasi kepentingan konsumsi jamaah jenis kedua: jamaah nahi mungkar. Jamaah yang lebih suka menghindari neraka.

Ya logikanya masuk sih, kalau kita berusaha menghindari neraka, kan akhirnya masuk surga juga. Oke. Oke.

Masalahnya, kebanyakan jamaah Yahya Waloni ini adalah orang-orang yang lebih suka melihat objek yang lain merasa “menderita”. Terutama jika orang-orang itu tidak sepaham, atau dianggap tidak menjalankan perintah Tuhan.

Itulah kenapa Yahya Waloni demen sekali mengungkit ritual-ritual agamanya terdahulu lalu mengolok-oloknya bersama jamaah. Hal ini ya masih satu paket dengan bagian dari perasaan senang kalau melihat pihak lain merasa menderita.

Di cerita lain, ada juga kisah dia yang dengan bangga setengah mati pernah menabrak anjing yang sedang menyeberang jalan. Kayaknya senang aja gitu melihat ada objek lain yang lebih menderita.

Mungkin ini bisa dimaklumi sih, biasanya orang yang begitu memang sudah merasa menderita hidupnya. Ya tipikal orang yang sudah terbayang atas ancaman neraka, makanya cara mencari hiburannya adalah dengan gaya slapstik. Melihat orang lain yang lebih susah itu adalah cara mencari kegembiraan.

Baca juga:  Netizen Salah Besar, Gotham Chess Sebenarnya Untung Banyak dari Polemik Catur Dewa Kipas

Ironisnya. Situasi ini yang sebenarnya terjadi juga ketika jamaah menikmati ceramah Yahya Waloni.

Ceramah yang berisi tentang curhat mualaf yang susah menghadapi dunia ini. Jadi si jamaah sebenarnya tanpa sadar sedang menikmati derita seorang mualaf, yang sering dibuli di media sosial, merasa ditekan oleh pemerintah, lalu masih dipaksa untuk ceramah sambil marah-marah.

***

Dan terakhir, soal kursi kristen yang bisa kita asosiakan kursi gereja. Ini mungkin bisa jadi petunjuk, bahwa sebagai seorang umat dari agamanya yang terdahulu, Yahya Waloni ini ternyata nggak taat-taat amat meski mengaku sebagai seorang pendeta.

Ya ini terlihat dari pengamatan dia yang luput soal kursi di gereja.

Lah piye? Kursi gereja kok diasosiasikan dengan kursi yang mewah dan empuk? Bukannya kursi gereja itu panjang dan keras kayak kursi tunggu di stasiun kereta ya?

Dan lagi soal kursi Islam. Yahya Waloni juga agak luput.

Bukannya dalam ibadah apapun kita nggak butuh kursi ya? Kalau mau kursi islami, ya monggo mbok silakan duduk di lantai saja beralaskan sajadah. Itu kan lebih afdol dan benar-benar merefleksikan Islam.

Ketidakakuratan ini tentu bikin bingung kita sebagai pendengarnya. Kursi gerejanya kurang akurat, kursi Islamnya pun kurang dekat.

Jadi… sebenarnya dia itu ceramah buat umat agama apa?

BACA JUGA Yang Unik dari Cara Gus Baha Melihat Ramadan dan tulisan POJOKAN lainnya.