MOJOK.COAkun Twitter Susi Pudjiastuti dan Alissa Wahid diserang oleh akun-akun pembela Abu Janda. Duh, duh, berani betul menyerang “lord”.

Entah apa yang ada di pikiran Susi Pudjiastuti saat ajak followers akun Twitter-nya unfollow Arya Permadi atau lebih dikenal dengan nama Abu Janda. Apa Bu Susi Pudjiastuti ini nggak tahu, siapa Abu Janda ini sebenarnya? Apa saja kontribusi blio ini bagi oligarki Indonesia?

Ajakan Menteri Kelautan era Jokowi ini (patut diduga) karena kicauan-kicauan Abu Janda sering provokatif dan menganggu. Terutama kicauan pada 25 Januari silam. Saat Abu Janda mengomentari kicauan Tengku Zulkarnain.

Lewat akun Twitter @permadiaktivis1, Abu Janda mem-posting, “Islam memang agama pendatang dari Arab, agama asli Indonesia itu sunda wiwitan, kaharingan dll. dan memang arogan, mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan, pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. Kalo tidak mau disebut arogan, jangan injak-injak kearifan lokal.

Kicauan itu memang jadi perbincangan anget di media sosial selama beberapa hari. Bahkan saking angetnya, postingan itu tahu-tahu ilang entah ke mana, meski denger-denger sih itu postingan dihapus.

Etapi masak iya sekelas Abu Janda ngehapus postingan? Itu kan tanda-tanda blio merasa kicauan itu keliru yeee kan?

Hm, jangan salah sangka dulu. Kicauan itu dihapus bukan karena Abu Janda pengecut, melainkan malah menunjukkan bagaimana jiwa besar blio.

Dengan berbudi luhur dan kerendahan hati luar biasa blio merasa lebih baik mengakhiri keributan dengan menghapus kicauan ketimbang ngotot mempertahankan postingan. Warbiyasa memang buzzer teladan satu ini. Idola bet dah.

Bahkan, saking luar biasanya Abu Janda, seorang Susi Pudjiastuti bisa-bisanya terpancing. Bahkan tanpa tedeng aling-aling Susi Pudjiastuti straight to the point ngajak unfollow akun @permadiaktivis1.

“Ayo unfollow (Abu Janda). Untuk kedamaian dan kesehatan kita semua. Ayo! Ayo!” ketik Susi Pudjiastuti melalui akun Twitternya.

Baca juga:  Sushi Memuji Astuti

Wah, wah, ngajak perang kok sama buzzer kelas wahid Twitter. Ini namanya cari perkara emang. Di lautan, Susi Pudjiastuti emang ratu-nya. Blio dulu bisa aja nenggelamin kapal-kapal asing yang maling ikan di perairan Indonesia, tapi di dunia medsos Abu Janda ini tiada lawan.

Ibarat kapal laut, Abu Janda selevel lah sama kapal pesiar di brosur-brosur MLM. Tak bisa ditenggelamkan, tak bisa dihapuskan dari ingatan. Selalu ada di setiap kampanye produk diperkenalkan. Benar-benar “jenis kapal” yang tangguh karena cuma nyempil di khayalan.

Buktinya, baru beberapa saat Susi Pudjiastuti melayangkan “serangan” ke Abu Janda, akun Susi Pudjiastuti langsung kena serangan balik. “Jangan sumbu pendek. Dalami dulu ada apa. Enggak tahu duduk masalahnya apa, main langsung (komentar),” nasihat Abu Janda yang konon menohok ke Susi Pudjiastuti.

Benar-benar nasihat yang sangat luar biasa dari seorang buzzer untuk mantan Menteri Kelautan Indonesia. Tapi bener juga sih, Susi Pudjiastuti ini harusnya bisa belajar. Jangan lah langsung komentari hal yang duduk perkaranya saja Susi Pudjiastuti nggak tahu.

Jauh lebih baik itu langsung ngomentari dengan kata-kata menghujam kayak, “Islam memang agama pendatang dari Arab… dan memang arogan,” atau, “teroris punya agama dan agamanya adalah Islam,” atau menuduh orang yang berseberangan dengan label “guru teroris”.

Contoh-contoh itu semua adalah kicauan dan pernyataan Abu Janda sendiri pada masa lalu. Hm, benar-benar pemberi contoh yang aktif memang.

Di saat menasihati orang lain agar tidak mengomentari hal yang tidak diketahui, Abu Janda sudah lebih dulu memberi contoh. Tidak hanya memberi nasihat pakai kata-kata “jangan sumbu pendek”, tapi Abu Janda bahkan langsung ngasih tahu contoh-contoh apa saja yang bisa terjadi kalau kita bersumbu pendek.

Salah satu hal yang bisa terjadi dari kebiasaan bersumbu pendek itu adalah Abu Janda cukup sering dilaporkan ke kepolisian. Dan ini benar-benar bisa jadi hikmah terbaik ketika seseorang memberi nasihat.

Baca juga:  Standar Moral Level Dasar ketika Menghubungi Orang, Tolong Camkan!

Dari 2019 saja, ketika Abu Janda sempat menyebut, “teroris punya agama dan agamanya adalah Islam,” Ikatan Advokat Muslim Indonesia melaporkannya ke kepolisian. Berikut juga dengan Maheer Athaulibi yang melaporkannya ketika menyebut si ustaz sebagai “guru teroris”, belum dengan kasus dugaan penghinaan terhadap bendera Tauhid.

Hal yang sama juga kejadian dengan postingan Abu Janda terakhir. Blio dilaporkan Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) karena dugaan kicauan “Islam adalah agama arogan”.

Ajaibnya, belum ada satu pun dari laporan ke kepolisian ini sampai ke tahap persidangan. Perkara ini jelas menunjukkan bagaimana kesaktian seorang Arya Permadi alias Abu Janda. Bahkan kalaupun akhirnya disidang, beliau sudah menjadi martir yang siap memberi contoh agar netizen Indonesia bisa belajar: “Beginilah akibatnya kalau jadi orang sumbu pendek.”

Wabiyasa. Orang kok wangun-nya nggak kira-kira gitu, sekolah di mana sih, Bang?

Tidak hanya serangan dari Abu Janda langsung yang harus diladeni Susi Pudjiastuti, tapi juga akun-akun lain mendadak ikutan menyerang Susi juga. Bahkan Susi secara mendadak dianggap sebagai kadal gurun dan kampret. Bahkan Susi dituding membiayai aksi 212 dan 411.

Selain Susi Pudjiastuti, Alissa Wahid putri Gus Dur yang sangat akrab dengan aksi-aksi kemanusiaan pun tak luput dari serangan netizen pembela Abu Janda. Hal ini diawali dari pernyataan Alissa Wahid saat diwawancarai CNN Indonesia.

“Berlawanan banget dengan karakternya NU,” kata Alissa Wahid ketika merujuk pada perilaku Abu Janda di Twitter. Menurut Alissa Wahid, warga NU itu biasanya bersikap rendah hati, tidak jemawa, dan berhati-hati dengan orang lain.

Gara-gara pernyataan itu, akun Twitter Alissa Wahid langsung dibombardir. Sama seperti serangan yang diterima Susi Pudjiastuti.

Baca juga:  Rokok Susi Pudjiastuti dan Cerutu Winston Churchill

Bahkan Alissa Wahid dianggap minim kontribusi terhadap negara dan agama. Jauh lebih minim ketimbang Abu Janda yang aktif banget di media sosial doang.

Aktivitas Alissa Wahid di dunia kemanusiaan dan keberagaman melalui Jaringan Gusdurian, seperti di GKI Yasmin, Uskup Gereja Katolik Karimun, GBI Tlogorejo, GKI Dermolo, dan buaaanyak lagi (belum dengan aktivitas membantu korban bencana di seluruh wilayah di Indonesia) memang tidak ada apa-apanya ketimbang satu postingan Arya Permadi alias Abu Janda.

Kalau pun dihitung pakai kalkulasi untung-rugi, jauh lebih menguntungkan satu postingan Abu Janda ketimbang keringat Alissa Wahid membantu korban-korban tindak diskriminasi dan intoleransi di Indonesia.

Ya iya dong, Alissa Wahid kan cuma bantu-bantu doang. Dari satu titik masalah ke satu titik masalah lain. Menyelesaikannya, membereskannya, bahkan sampai harus turun langsung. Beda banget dengan kerja cerdas Abu Janda yang bisa sambil leyeh-leyeh atau rebahan, tinggal menggerakkan jari-jari manisnya, langsung bisa memancing keributan kesadaran.

Sama kayak pepatah Madagaskar yang ini, “Tentara hanya memenangkan pertempuran demi pertempuran, tapi peperangan sebenarnya dimenangkan oleh komandan yang posting di warung kopi sambil terima transferan.”

Sama kayak Susi Pudjiastuti, yang cuma bisanya terjun langsung ke lapangan. Melayani para nelayan, membantu peternak ikan, tapi minim wacana. Sangat-sangat jauh dibandingkan sosok Lord Abu Janda yang setiap perkataaannya selalu sukses menggerakkan orang.

Di wilayah laut, Susi Pudjiastuti boleh jadi ratunya, di wilayah kemanusiaan, Alissa Wahid boleh jadi penggeraknya, tapi ketika keduanya macam-macam dengan Abu Janda di dunia Twitter…

…malaikat juga tahu, siapa yang bakal jadi juaranya.

BACA JUGA Kok Bisa sih Ada Orang yang Percaya Abu Janda dan Denny Siregar? dan tulisan Ahmad Khadafi lainnya.