Ngobrol sama Irfan Nuruddin, Pengusaha Sarung Batik Lar Gurda

Sebagai orang Indonesia, sebenarnya tak ada yang istimewa-istimewa amat dari kain batik. Maksudnya tak istimewa amat, batik itu ada di mana-mana.

Kita sering banget kok melihatnya. Mau itu sebagai kemeja, hiasan, maupun jadi jarik.

Sebagai kreasi budaya lama, kesan kain batik pun juga senada dengan usianya. Formal, old fashion, dan rada ndesit. Terutama kalau batik itu dikombinasikan jadi sarung.

Sesuatu yang “old” dipadukan dengan yang “common”. Jadi apa itu? Bukannya rada nganu ya kesannya?

Anehnya, kombinasi itu malah menghasilkan sesuatu yang “baru”. Kesan ndesit pun pudar. Yang muncul malah kesan keren dipadukan dengan aroma retro.

Dan yang bikin itu semua mewujud nyata adalah salah satu merek sarung batik terkenal, Lar Gurda.

Setidaknya kamu bisa dapat konfirmasi itu dari selera Memes, Ras Muhammad, K.H. Musthofa Bisri, Sujiwo Tejo, sampai almarhum Didi Kempot semasa hidupnya.

Mereka ini adalah sedikit orang yang “ketahuan” pernah memakai sarung batik Lar Gurda. Merek sarung yang digagas oleh Irfan Nuruddin sejak 2017.

Dan kebetulan (nggak kebetulan-kebetulan amat juga sih), Irfan mau bercerita banyak soal usahanya tersebut ke Mojok. Jagongan satu jam-an yang menghasilkan ngobrol ngalor-ngidul di bawah ini.

 

Dulu kok kepikiran bikin sarung batik sih, Fan? Emang yakin laku?

Ya karena kepepet. Butuh duit. Sing penting yakin ndisek (yang penting yakin dulu).

 

Dari mana tuh keyakinannya?

Iya survei dulu di Pasar Klewer (Solo). Sarungnya Bapak, aku buat contoh, “Ada nggak sarung yang bagus kayak gini?”

Aku tanya para pedagang di kios-kios Pasar Klewer. Jawabnya nggak ada.

Sebenarnya ide itu muncul karena jamaahnya Bapak, Tahsinul Qur’an bikin seragam sarung batik. Kok bagus ya? Akhirnya aku terusin dengan survei itu.

 

Dari situ langsung laku keras tuh?

Awal dulu ya nggak laku-laku banget lah, Mas. Tetep ya kudu edukasi dulu, apalagi (untuk) orang di luar Solo. Kan sarung batik identik dengan sarung perempuan atau sarung anak sunat.

Ya kudu memberi pengertian, “Batik itu universal lho. Bla-bla-bla,” ala sales gitu.

Sebelum aku bikin Lar Gurda, pasar sebenarnya sudah ada sarung batik, tapi konsumen yang dituju adalah wanita. Ukurannya kecil dan motifnya ya lebih ke feminin.

Motif feminin di sini yang aku maksud adalah seperti motif bunga-bunga dan kaya warna. Kalau yang macho ya motif yang laki banget. Kayak motif parang kusumo, motif gurdo yang filosofinya menggambarkan sifat ksatria.

Baca juga:  Pasar Belut Godean, Dirundung Sepi Menunggu Pembeli

 

Emang bedanya apa? Sarung batik perempuan sama sarung batik cowok?

Sarung batik wanita itu tumpalnya ditaruh agak di pinggir.

 

Hah? Tumpal? Apaan tuh? Sori, aku kudet soal motif batik.

Perempuan itu kalau pake sarung tumpalnya biasanya ditaruh di depan. Jadi pembuatannya ketika kain panjang ditaruh di pinggir, jadi jahitan sambungannya tetep tertutup lipatan sarung.

Kayak Memes ini (sambil nunjukin foto Memes pakai sarung batik Lar Gurda di akun Twitternya Adie MS). Itu sarung Lar Gurda dan ketika pakai tumpalnya di depan.


Lah tumpal itu sebenarnya adalah nama motif, motif itu bentuknya segitiga. Lah yang motif tengah itu namanya motif tumpal.

Karena seringnya motif tersebut dipake sebagai pembeda, maknanya pun jadi bergeser, bahwa setiap motif yang berbeda dengan motif utama dinamakan tumpal.

 

Hooo… gitu (pura-pura paham). Oke balik ke usaha sarung batikmu nih, Fan. Apa keraguan yang sempat muncul waktu merintis ini? Apa langsung pancal gitu aja?

Sebenarnya nggak ada keraguan sih ya. Sebab namanya (juga) merintis usaha. Kan step by step juga.

Dan yang ada di pikiranku waktu itu ya mungkin pangsa sarung batik tidak sebesar kain batik pada umumnya, tapi pangsa yang sedikit itu kalau aku makan sendiri ya kenyang juga.

Waktu itu sih aku survei untuk sarung batik yang alusan (baca: kualitas tinggi) di pasaran belum ada. Kebanyakan adalah (batik) printing.

Di Solo, juragan-juragan batik itu juga bikin sarung batik tapi hanya untuk dipakai pribadi pada acara tertentu, belum ada yang diproduksi massal.

 

Eh, sori, sejak awal itu emang udah langsung pakai merek Lar Gurda ya?

Awalnya aku pakai merek Kurma. Tapi nama itu kayaknya kurang menjual ya, sebab pernah ada yang nanya… “Iki sarunge sopo tho? Mereke kurma koyok merek wong Arab wae.” (Ini sarungnya siapa sih? Merek Kurma kayak merek orang Arab aja).

Iya juga pikirku, merek Kurma itu kesannya kemarab, kearab-araban, kurang Nusantara.

Baca juga:  Jamu Ginggang Pakualaman, 5 Generasi Menjaga Tradisi

Lalu waktu itu sarungku yang best seller kan yang motif Lar Gurda. Aku juga sering nyebut itu, akhirnya aku patenkan dengan merek itu.

 

Oh, jadi Lar Gurda itu nama motif ya sebenarnya?

Iya, motif itu motif Lar Gurdo, dan banyak modifikasinya. Filosofinya melambangkan sifat ksatria tadi. Membela yang benar. Ya yang artinya bagus-bagus gitu deh.

Lar Gurda ya “lar” artinya sayap, “gurda” artinya garuda.

Lar Gurda ya sayap burung garuda, kayak Pancasila aja, jadi Indonesia banget.

 

Wah, cocok di-endors Pemuda Pancasila kalau gitu dong?

Ya kalau bisa sarungan secara benar ya nggak apa-apa.

 

Sebentar, sebentar, berarti kalau dari ceritamu itu motif Lar Gurda itu sebenarnya macho banget dong ya? Maskulin gitu?

Menurutku sih iya. Kecuali kalau sayap garudanya dikasih pita dan bando warna pink.

 

Emang proses dari nol sampai jadi sarung yang siap dipasarkan itu berapa lama?

Karena ini proses handmade, rata-rata yang reguler itu tiga mingguan.

 

Wah, lumayan lama juga ya. Padahal untuk produksi yang sekarang gitu, dalam sebulan harus nyetok berapa?

Sekarang aku baru bisa 750 potong sebulan. Kalau yang reguler itu, yang kesikan. Kesikan itu batik yang semi-tulis. Kalau yang full-tulis ya dua bulanan.

Itu semua tergantung sama tenaga pembatiknya. Aku punya 10 orang aja dan nggak bisa di-push kayak buruh pabrikan gitu. Mereka ngerjainnya sak selone (sesempatnya), se-mood-nya. Soalnya disambi kerja di sawah, momong cucu, dan lain-lain.

Artinya produksiku tergantung bener sama emak-emak yang mbatik itu. Kalau musim tandur atau panen ya ditinggal. Produksiku turun. Ya soalnya pembatikku ini kan emak-emak yang tinggal di desa.

 

Mereka tinggal di Solo?

Sukoharjo.

Proses pembuatan motif sarung batik Lar Gurda. Ayo, Bu, eksyen dulu….

Lah, terus kalau waktu musim tanam atau panen gitu, strateginya gimana?

Ya aku keluarin versi kelengannya. Kelengan itu motif dasar. Masih setengah proses. Jadi harganya relatif lebih murah. Istilahnya versi lite-nya lah.

Itu juga udah cukup manis lah. Layak diculik buat dijual.

 

Kalau brand udah jadi begini, masalah paling mumet apa dong? Jaga kualitas sarung gitu misalnya?

Jaga kualitas sarung itu memang harus, tapi nggak yang bikin mumet. Yang paling mumet ya bikin motif-motif baru lagi.

Baca juga:  Sudah Saatnya Minggu Kartini dengan Memakai Kebaya Digalakkan Presiden Jokowi

 

Kalau masalah kayak produk tiruan gitu misalnya? Ada nggak?

Kalau masalah motif ditiru itu hal biasa, tapi kadang bikin masalah. Sebab bisa kena ke merek Lar Gurda.

Pernah ada yang komplain, “Lar Gurda yang terkenal cuma gini doang tho?”

Padahal dia belinya yang tiruan tapi komplainnya ke aku.

 

Tapi kan itu pertanda “bagus”, artinya produkmu benar-benar istimewa, Fan.

Ya iya sih. Tapi kalau yang tiruan ya jangan komplainnya ke yang original juga dong.

Aku punya segmen tersendiri, middle up lah. Lah mereka yang meniru Lar Gurda itu garap segmen yang memang nggak aku masuki, segmen bawah. Kalau mereka bikin sarung batik yang mirip Lar Gurda dengan harga yang jauh lebih murah, ya aku fine-fine aja.

 

Emang semirip apa kok bisa orang beli yang Lar Gurda tiruan?

Yang pertama, karena yang beli belum pernah beli yang asli. Dan si penjual memasarkan sarungnya dengan tagline Lar Gurda gitu.

Bisa persis plek sama, Mas. Cuma kualitasnya beda. Mereka di-printing.

Coba njenengan searching di MarketPlace, sarung Lar Gurda akan banyak yang muncul, padahal itu bukan produkku.

 

Pesan buat netizen biar ngenalin yang asli sama yang palsu?

Ya pokoke tuku sing regane luwih larang. Hahaha. (Pokoknya beli yang harganya lebih mahal).

 

Hahaha.

Guyon, Mas.

Masalahnya, aku juga punya banyak reseller dan nggak tahu ada berapa. Mereka juga bikin nama akun-akun sendiri di marketplace. Ada Lar Gurda Jogja, Lar Guda Jatim, Lar Gurda Semarang, Lar Gurda Salatiga, bahkan ada yang pakai akun Lar Gurda Authorized.

Yang pasti ya satu, kalau beli dari aku langsung, pasti orinya.

 

Hooo, gitu. Siap.

Nggak tanya visi misi Lar Gurda, Mas?

 

Lah? Kayak proporsal aja nanya visi misi. Emang ada?

Ada dong.

 

Apa emangnya?

Biar kaya.

 

Haha. Terakhir ini, Fan. Ada perawatan khusus buat sarungmu ini nggak? Ya kali aja yang baca nanti punya sarung Lar Gurda kan.

Oh, ada, Mas.

 

Apa?

Satu doang. Jangan dijemur di luar.

 

Kenapa? Warnanya bisa rusak?

Nggak. Takutnya ilang.

 

Hahaha.

 


BACA JUGA  Putar Arah Bos Dunia Malam yang Pilih Jualan Sate Ayam dan liputan menarik lainnya di rubrik LIPUTAN.