Meraup Pundi-pundi Rupiah di Makam Tionghoa

“Pada dasarnya orang-orang keturunan Tionghoa ini menghormati sekali leluhur atau keluarga mereka. Makanya, mereka yang masih memegang tradisi itu rela bayar mahal untuk makam,” ujar Muhammad Rifki, pengelola makam Tionghoa ke saya.

Sudah belasan tahun lebih Rifki mengelola makam-makam Tionghoa milik keluarga besarnya. Pengelolaan ini sudah berjalan dari generasi ke generasi. Rifki adalah generasi ketiga yang mengelola TPU Jatisari yang terletak di daerah Kedungmundu, Semarang. Sebagai catatan, tanah milik keluarga Rifki ini berbeda dengan yang punya Pemkot Semarang.

Oh iya, jaga-jaga kalau Anda bertanya-tanya, memang seluas apa tanah yang dimiliki Rifki dan keluarganya sampai bisa untuk jadi kompleks makam, wabil khusus makam Tionghoa?

Oke, Rifki memberi jawabannya untuk Anda.

“Berapa ya? Secara ukuran pasti sih saya lupa, yah tapi kira-kira minimal 30-an hektar lah.”

Kalau Anda masih belum bisa membayangkan itu tanah seluas apa. Luas 30 hektar adalah luas yang setara dengan setengah dari kompleks area olahraga Stadiun Pakansari di Cibinong, Bogor.

Artinya, ketika Anda berada di kompleks makam Tionghoa milik Rifki, sejauh mata memandang Anda hanya akan menemukan bangunan-bangunan mewah yang tertanam di tanah. Dan bangungan-bangunan mewah itu adalah makam-makam Tionghoa yang dia kelola sejauh ini.

Rifki sendiri sudah lupa-lupa ingat ketika saya tanya, sudah berapa jenazah yang dia urus untuk dia kebumikan di tanah milik keluarganya tersebut.

“Sudah berapa kali ya? Lupa aku, haha. Sejak 2006 pokoknya. Mungkin udah ribuan,” kata Rifki.

Hampir saja saya muntahkan kopi yang sempat saya minum ketika mendengar angkanya. Enteng sekali Rifki menyebut “ribuan”.

“Ribuan? Tepatnya berapa itu? Seribu? Dua ribuan?” tanya saya penasaran.

“Sekitar tiga ribuan lebih lah,” katanya.

Kali ini kopi saya benar-benar nyemprot keluar.

Rifki sendiri bercerita bahwa ada rincian yang harus dibayar keluarga kalau mau memakai jasa dan menggunakan makam Tionghoa di tanah keluarganya.

“Untuk yang tipe sangat-sangat-sangat sederhana, paling cuma antara 15-20 juta,” katanya.

(((cuma)))

Hm, cukup bervariasi ternyata.

“Itu semua kan nanti masih tergantung sama luas makam dan material yang digunakan,” kata Rifki.

“Material? Material kayak bahan bangunan?” tanya saya.

“Loh iya. Kan dibangun pondasinya dulu. Bahkan ada yang dibangun jadi kayak cakar ayam segala. Karena selain diisi jenazah kan juga diisi dengan barang-barang berharga,” kata Rifki.

Pondasi ini pun tidak main-main. Masih menurut Rifki, pondasi ini pun kadang memerlukan alat berat untuk proses pembangunannya.

“Disemen semua itu di dalem. Dari kanan-kiri sampai atas-bawah. Bahkan ada itu yang sampai dicor pakai alat berat,” kata Rifki.

Ada alasan khusus kenapa makam Cina perlu dicor segala, selain agar kokoh dan awet berpuluh-puluh tahun hal ini juga untuk mencegah pencurian. Maklum, karena yang dikubur selain jenazah juga barang-barang berharga, aspek keamanan itu juga faktor penting dalam urusan makam Tionghoa.

Baca Juga : Akui Saja, Sejak Kecil Kita Memang Dididik untuk Rasis

Untuk itulah, selain biaya pemakaman, ada juga biaya-biaya perawatan yang harus disetor keluarga per bulan. Untuk yang ini tarifnya berbeda-beda menurut Rifki, tergantung luas makam dan posisi.

“Kalau posisinya ada di atas (bukit) harganya lebih mahal. Kalau yang di bawah-bawah itu kan bangunnya 15-20 juta, kalau di atas bisa sampai 80-an juta. Perawatannya kalau yang yang bawah itu sekitar 100 ribuan per bulan. Kalau yang di atas bisa 3-5 jutaan per bulan,” kata Rifki.

Posisi ini juga menjadi penentu status sosial dari keluarga jenazah. Semakin di atas, pride-nya lebih tinggi.

“Konon karena lebih dekat dengan Tuhan, juga menjadi standar kelas sosial. Bahkan banyak yang udah booking tanah di atas untuk dipersiapkan jadi makam keluarganya,” kata Rifki.

Makam Tionghoa di salah satu pemakaman di Jogja

Kalau Anda membayangkan, skema ini mirip kayak bisnis hunian di perumahan, maka Anda tidak salah sama sekali.

Untuk lokasi di atas bukit yang harganya lebih mahal, selain soal pride hal ini juga karena lokasinya lebih sulit dicapai daripada makam Tionghoa yang bawah-bawah. Apalagi ada biaya khusus untuk mengangkut material-material yang mirip kayak mau bangun rumah itu.

Biaya perawatan yang diceritakan Rifki tadi sebenarnya juga sudah termasuk pada biaya sewa, karena makam-makam Tionghoa ini pada dasarnya bukan jadi hak milik keluarga, melainkan hanya Hak Guna Bangunan (HGB).

Oleh karena itu, jika biaya ini tidak dipenuhi keluarga selama lima tahun, maka Rifki akan melakukan konfirmasi ke keluarga.

“Ya biasanya aku tanya, ini mau dilanjut atau tidak, ya karena itu kan bisa digunakan untuk makam yang lain,” kata Rifki.

Apa yang terjadi kalau selama lima tahun itu pihak keluarga tidak ada kejelasan?

“Ya terpaksa dibongkar. Tentu setelah hubungin pihak keluarga dulu lho ya. Masih ada yang mau ngurusin makamnya nggak? Kalau semisal mau dilanjut ya tinggal dilunasi untuk biaya administrasinya, tapi kalau sudah tidak ada yang mau ngurusin ya dibongkar,” kata Rifki.

Tentu saja saya juga jadi penasaran. Dibongkar ini apakah ditumpuk begitu saja jenazahnya, atau diambil? Dan ternyata jawabannya malah bikin saya bergidik.

“Biasanya sih keluarga bakal minta tulang belulangnya aja, terus nanti sama mereka dikremasi,” kata Rifki.

Hanya saja, hal yang mungkin belum Anda tahu, makam Tionghoa yang dikelola Rifki ini ada juga yang dari keluarga muslim.

“Ada yang kavling buat orang Islam juga,” kata Rifki.

“Kan model makam begini itu bukan dari agama mereka, tapi lebih kayak udah jadi tradisi turun-menurun gitu. Jadi kalau ada orang Cina Islam mau dikubur di sini, ya bisa. Tapi karena di agama itu kan bertentangan sama tradisi ini ya, jadi tentu lahan yang dibutuhkan lebih kecil jadi biayanya juga lebih irit,” kata Rifki.

Baca Juga : Hati-hati Calo Makam: Memanipulasi Duka dan Kematian Menjadi Bisnis yang Merugikan

Bertahun-tahun mengelola makam Tionghoa, justru membuat Rifki semakin respek dengan keluarga-keluarga Tionghoa di Indonesia. Apalagi soal penghormatan mereka atas orang tua dan kakek nenek mereka.

“Kalau di kita kan ada tradisi haul atau tahlilan gitu, mereka ini juga nggak kalah respek sama orang sepuh. Yang udah meninggal aja dipikirin betul-betul makamnya mau dibikin senyaman apa. Bahkan mereka percaya, semakin mewah makam untuk leluhur mereka, maka mereka bakal mendapat rezeki harta yang berlimpah-limpah,” kata Rifki.

Yap, sama seperti pundi-pundi rupiah dari makam Cina yang dikelola Rifki dan keluarganya tentu saja, yang akan terus mengalir entah sampai generasi ke berapa.