Menghitung Luas Neraka Pakai Matematika

Menghitung Luas Neraka Pakai Matematika

Menghitung Luas Neraka Pakai Matematika

MOJOK.COBaiklah saya tahu apa yang kamu pikirkan saat baca judul tulisan ini, “Gabut total atau bijimana kok selo-selonya ngitung luas neraka, Mas?”

Sejujurnya saya tak bisa tidak merasa takjub dengan analogi luasnya alam akhirat yang digambarkan oleh hadis-hadis dan ayat-ayat kitab suci di agama Islam. Bahkan karena saking luasnya alam tersebut, kadang-kadang dibutuhkan satuan waktu tempuh sampai ribuan tahun agar manusia punya kesempatan membayangkannya.

Saya bisa membagi keterpukauan itu ketika membaca tulisan kawan saya, Aqwam Fiazmi Hanifan, yang berjudul “Seberapa Luas Padang Mahsyar?”, kamu bisa baca itu di sini.

Dengan langkah-langkah sederhana Aqwam mengumpulkan beberapa riwayat dan ayat-ayat kitab suci, kemudian dihitung dengan perkiraan jumlah total umat manusia untuk mendapatkan bayangan seberapa luas Padang Mahsyar itu.

Tentu saja, perhitungan itu barangkali masih jauh dari kata akurat, tapi langkah-langkah ini begitu sulit saya tolak untuk melakukan perhitungan serupa di “alam-alam” lain.

Rasanya terlalu dahsyat bagi saya untuk mengabaikan riwayat-riwayat soal penggambaran luasnya alam gaib itu dengan melibatkan matematika dan rumus fisika. Bikin penasaran, yakin.

Beruntung sekali, dalam agama Islam, ada banyak penggambaran panjang, dalam, dan luas soal alam-alam gaib itu. Hal yang tentu tak perlu kamu percaya juga kebenarannya kalau kamu memang memilih tidak mengimaninya. Anggap saja ini sebagai langkah nakal untuk memainkan matematika dan rumus fisika.

Nah, di celah poin itulah saya merasa cukup bisa membayangkan untuk menghitung seberapa luas alam neraka. Sebuah perhitungan yang sebenarnya juga semakin menyadarkan betapa kecil sekali saya ini dibandingkan alam raya yang luasnya gila-gilaan ini.

Baiklah. Untuk menuju ke sana, langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah melirik satu hadis terkenal dari Abu Hurairah soal gambaran soal dalamnya neraka.

Kami pernah bersama Nabi shallahu alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar seperti suara benda jatuh ke dasar. Nabi kemudian bertanya, “Tahukah kalian suara apa itu?”

Kami menjawab, “Allah dan Rasul-nya lebih mengetahui.”

Beliau kemudian bersabda, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak 70 tahun yang lalu dan sekarang baru mencapai dasarnya.”

Sekarang, berdasar dari hadis di atas, kita mendapat gambaran bagaimana neraka itu diasosiasikan bentuknya sebagai ruang seperti jurang.

Dari sana, dengan memanfaatkan rumus fisika untuk menghitung jarak melalui waktu tempuh benda yang jatuh, kita bisa mendapatkan perkiraan kedalaman ruang neraka ini.

Tentu perhitungan ini perlu saya kasih catatan garis tebal, bahwa segala macam perhitungan ini memakai prinsip-prinsip sains di planet bumi. Seperti daya tarik gravitasi dan rumus-rumus kecepatan misalnya. Jadi soal logika alam akhirat yang berbeda, untuk sementara ini perlu saya abaikan dulu.

Nah, dari konversi dengan hukum alam di planet bumi, kita bisa memakai rumus ini.

“h” (ketinggian suatu benda) = “g” (percepatan gravitasi bumi, yakni 10 m/s2) dikalikan “t2” (waktu tempuh).

Ada dua angka yang sudah kita temukan. Pertama, percepatan gravitasi bumi, dan kedua, waktu tempuh selama 70 tahun. Waktu selama 70 tahun itu kita ubah jadi hitungan detik.

Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan benda jatuh dari tepi jurang neraka sampai dasarnya adalah 2.209.032.000 detik.

Menggunakan rumus di awal tadi, kita bisa mendapatkan rumus:

Dalamnya neraka = (½ x 10) x 2.209.032.0002

Dan angka yang kita dapatkan adalah 2,5 x 1019 meter.

Ada belasan digit angka nol di belakang dan itu angka yang terlalu banyak. Agar lebih bisa dipahami, kita konversi menjadi kilometer menjadi, 25.000.000.000.000.000 atau dua puluh lima ribu triliun kilometer.

Hm, bukan angka yang mustahil untuk dibayangkan, meski di kalkulator hape saya angka ini tidak bisa dibaca.

Oke, meski terdengar angka yang tidak kelewat sulit dibayangkan, tapi mohon jangan meremehkan angka ini.

Sebagai perbandingan, dalamnya inti bumi dari kerak bumi saja “hanya” 2.900 km. Artinya kamu perlu 8kali untuk bolak-balik dari kerak bumi ke inti bumi untuk bisa menyamai kedalaman neraka.

Oke, angka vertikal jarak sudah kita temukan, sekarang bagaimana mendapatkan angka horizontalnya? Karena asumsi neraka adalah seperti jurang, maka kita bisa menghitung satu titik tepi jurang ke satu titik tepi jurang seberangnya.

Nah, untuk yang satu ini kita bisa menengok kitab Daqoiqul Akhbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar karya Abdurrahman bin Ahmad Al-Qodhi.

Di sana pada Bab 33 tentang Sirath (Jembatan), di kitab ini dikutip sebuah riwayat yang menggambarkan seberapa panjang jembatan yang menghubungkan jarak titik satu jurang neraka dengan titik seberang (baca: surga).

Nah di atas jembatan itu lah nanti manusia akan melewati guna menentukan siapa yang jatuh ke neraka, dan siapa yang bisa sampai sisi seberang (baca: masuk surga).

Oke, biar tulisan ini tidak kelewat panjang, saya nukilkan bagian yang menggambarkan panjangnya sirath-nya saja. Tak perlu ke detail-detail lain, karena otak saya sudah mulai umup sekarang.

“Sirath” ini punya 7 titik, yang setiap titik jaraknya sama dengan perjalanan 3.000 tahun.

Nah, pada poin ini, ada beberapa tafsir yang menyatakan bahwa setiap manusia punya rentang waktu yang berbeda-beda dalam menempuh sirath ini. Ada yang secepat kilat, ada yang seperti orang naik kuda, ada yang secepat orang berlari, berjalan, bahkan merangkak. Semua tergantung pada amal si manusia di dunia.

Dengan perhitungan waktu tempuh 3 ribu tahun tadi, kita asumsikan saja waktu yang ditempuh oleh manusia berjalan kaki. Dan kecepatan rata-rata orang berjalan kaki kira-kira sekitar 6 km/jam.

Artinya, kita bisa memakai rumus:

s = v x t

s = jarak

v = kecepatan

t = waktu tempuh

Lalu kita mendapatkan asumsi panjang neraka = 6 km/jam dikali (7 x 3000 tahun).

Angka 3000 tahun kita konversi dulu menjadi 26.298.000 jam. Lalu dikalikan 7, hasilnya menjadi 184.086.000 jam.

Sekarang kita kalikan dengan kemampuan kecepatan rata-rata manusia berjalan hasilnya dengan rumus:

6 km/jam x 184.086.000 jam = 1.104.516.000 km atau satu miliar seratus juta sekian.

Sekali lagi, hasil ini masih menjadi angka yang bisa dibayangkan meski—perlu diingat juga—kalkulator saya nyaris njebluk menghitung angka-angka ini.

Jarak ini juga sebaiknya jangan disepelekan. Sebagai perbandingan saja dengan alam kita, jarak bumi ke bulan saja jaraknya sampai 384.400 km. Artinya kita butuh sekitar 3.400-an kali bolak-balik untuk bisa sedikitnya menyamai jarak Sirath dari satu titik ke titik satunya.

Nah, karena panjang vertikal dan horizontalnya sudah ketemu, kita jadi bisa memperkirakan luas neraka dengan menghitung….

25.000.000.000.000.000 x 1.104.516.000 = …

Monggo silakan hitung sendiri berapa luasnya. Sudah saya pandu sejauh ini, saya pikir itu perkalian sederhana yang bisa kamu cek sendiri di kalkulator.

Oh iya, satu catatan penting yang perlu kamu tahu juga sebelum saya akhiri tulisan ini. Semua hasil yang didapat ini merupakan luas secara bidang dua dimensi saja. Padahal kita sama-sama tahu kalau ruang luas neraka itu perlu dihitung dengan pendekatan bidang tiga dimensi.

Sayangnya, belum ada satu pun riwayat yang menyebutkan soal panjang x lebar x tinggi soal alam gaib ini. Jadi perhitungan itu pun rasa-rasanya semakin mustahil lagi dilakukan.

Meski begitu, dengan dasar ini (beserta segala pembulatan dalam perhitungannya) saya sih cukup yakin dengan hasilnya. Kamu sih boleh saja meragukannya, dan untuk itu dengan kebesaran hati yang terdalam saya persilakan untuk kamu melakukan survei ke neraka sendiri kalau mau membantah tulisan ini.

Monggo.

Kalau saya sih skip.

BACA JUGA Kalau Dia Maha Pengampun Kenapa Harus Ada Neraka? dan tulisan di rubrik Esai lainnya.

Exit mobile version