MOJOK.COPernyataan Abdullah bin Mas’ud, Sahabat Nabi, memang populer belakangan ini. “Kelak akan tiba zaman ulama sedikit dan banyak tukang ceramahnya.”

Pengajian sudah akan dimulai malam itu. Sebelum Kiai Kholil naik mimbar, ada sedikit sambutan dari Pak Dirman, shohibul bait. Dalam sambutannya, shohibul bait menyampaikan sesuatu yang membuat Kiai Kholil tersentil.

“Hari ini begitu banyak penceramah, tapi hanya ada sedikit sekali ulama. Di zaman sekarang sedikit sekali ulama yang benar-benar ulama, dan di antara sedikit itu kita beruntung masih ada Al Mukarom Kiai Kholil,” kata Pak Dirman.

Shohibul bait melanjutkan kalimat basa-basinya, lalu acara beralih ke acara pengajian Kiai Kholil. Tak ada yang benar-benar baru dari ceramah Kiai Kholil. Begitu selesai pengajian, Kiai Kholil dijamu lebih dulu oleh shohibul bait di kediamannya sebelum pulang.

Dan di sanalah, Kiai Kholil mengutarakan keresahannya.

“Pak Dirman,” kata Kiai Kholil menyapa shohibul bait acara.

“Iya, Pak Kiai,” kata Pak Dirman.

“Pak Dirman, jangan memuji berlebihan seperti kayak di sambutan tadi,” kata Kiai Kholil.

Pak Dirman berpikir ulang. Mencoba mengingat kembali apa yang salah dari kalimat sambutannya tadi.

“Maksudnya, yang mana Pak Kiai? Yang tadi waktu saya nyebut ulama sekarang udah sedikit itu ya?” kata Pak Dirman memastikan.

“Iya betul. Jangan berkata seperti itu,” kata Kiai Kholil.

“Lho, maaf, Pak Kiai. Tapi kan memang betul zaman sekarang sudah sedikit sekali ulama. Yang ada malah penceramah. Bukannya itu ada riwayatnya kan ya?” kata Pak Dirman.

Baca juga:  Menjadi Guru Terbaik Untuk Anak itu dengan Contoh, bukan Nasihat

“Kalimat kayak gitu bisa menyinggung orang lain. Terutama di daerah kita yang ada banyak sekali ahli agamanya. Seolah-olah sampeyan itu cuma mengakui saya aja yang ulama. Sedangkan yang lain tidak,” kata Kiai Kholil.

Pak Dirman mengangguk-angguk. Meski begitu, air muka Pak Dirman menunjukkan bahwa dirinya tak sepenuhnya setuju.

“Menurut saya memang Kiai Kholil ini ulama yang sebenarnya. Ya memang ada ulama-ulama lainnya. Tapi kebanyakan yang saya tahu mereka ini memang penceramah. Kan memang kebenarannya seperti itu. Bukankah kebenaran harus disampaikan meski pahit, Pak Kiai?” kata Pak Dirman.

“Kebenaran memang harus disampaikan, tapi caranya juga harus baik meski pahit. Dan lebih baik lagi kalau kebenaran itu bisa disampaikan pada tempatnya. Jangan asal tempat,” kata Kiai Kholil.

“Maksudnya Pak Kiai?” tanya Pak Dirman.

“Riwayat yang sampeyan sampaikan itu posisinya bukan untuk ceramah publik begitu. Tapi ranahnya ada di tarbiyah. Untuk mengajari santri-santri yang sedang belajar. Sementara kalimat sampeyan itu nggak baik karena potensinya bisa lebih buruk. Bagaimana kalau itu menyinggung seorang santri dari kiai lain atau ulama lain? Lalu merasa kalau kiai atau ulamanya tidak diakui? Bukankah itu malah bisa memecah belah umat?” kata Kiai Kholil.

Pak Dirman terdiam sejenak.

“Makanya itu Pak Dirman, seorang santri itu sebelum belajar ilmu-ilmu agama, kebanyakan diajari akhlak dulu. Belajar kitab Akhlaqul lil Banin atau Ta’lim Muta’alim misalnya,” kata Kiai KHolil.

Baca juga:  Seorang Bajingan yang Suka Mabuk-Mabukan pun Berhak Mencintai Allah

“Kenapa begitu Pak Kiai?” tanya Pak Dirman.

“Ya agar bisa menempatkan ketentuan agama juga ada unsur bijaksananya. Termasuk juga paham situasinya. Percuma kamu ahli agama tapi tidak bijak dalam menyampaikan aturan-aturan agama. Kadang ada yang perlu waktu, perlu negosiasi, perlu pemakluman. Di sisi lain juga kadang perlu tegas. Nah, kemampuan memilih-milih cara kayak gitu urusannya sama akhlak. Orang pinter tapi akhlaknya nggak baik itu jauh lebih merusak ketimbang orang yang nggak terlalu pinter tapi akhlaknya bagus,” kata Kiai Kholil.

Pak Dirman terdiam sejenak. Lalu seperti menyadari sesuatu.

“Hm, wah, berarti waktu saya ngomongin soal ulama yang makin sedikit itu, posisi saya malah kayak penceramah yang sedang saya cibir sendiri itu ya Pak Kiai? Menempatkan sesuatu nggak pada tempatnya?” tanya Pak Dirman sambil cengengesan.

Kiai Kholil cuma tersenyum kecil. Tak memberi jawaban apa-apa.

“Lalu kenapa tidak menegur saya langsung, Pak Kiai? Waktu Pak Kiai ceramah begitu. Kan jadi bisa mencerahkan lebih banyak orang,” tanya Pak Dirman lagi.

“Mungkin memang mencerahkan banyak orang, tapi itu mempermalukan sampeyan, Pak Dirman. Menjadikan sampeyan jadi contoh buruk. Maaf, menegur orang di hadapan banyak orang itu bukan cara saya Pak Dirman,” kata Kiai Kholil.

Pak Dirman kembali cengengesan, sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


*) Diolah dari kisah Prof. Quraish Shihab.

BACA JUGA Memperbanyak Ahli Ibadah, Memperbanyak Wahana Bermain Setan atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles