Yang Dibikin Karikatur Itu Bukan Nabi tapi Kelakuanmu Itu

Yang Dibikin Karikatur itu Bukan Nabi tapi Kelakuanmu Itu

Yang Dibikin Karikatur itu Bukan Nabi tapi Kelakuanmu Itu

MOJOK.COPerdebatan seru antara Fanshuri dan Mas Is terjadi di hadapan Gus Mut. Topiknya soal karikatur Nabi di Perancis yang sudah memprovokasi.

“Nggak bisa gitu, Fan. Perancis ini udah kebangetan banget membiarkan karikatur Nabi begini. Kejadian kayak gini bukan yang pertama. Sudah berkali-kali!” kata Mas Is agak nyolot di hadapan Fanshuri.

“Tapi pembunuhan yang terjadi atasnya  juga reaksi yang nggak bisa dibenarkan dong, Mas Is! Marah boleh, protes boleh, tapi ya nggak main penggal kepala orang juga dong. Apalagi itu bocah yang membunuh guru sejarah juga bukan muridnya langsung, tapi cuma denger info dari luar,” kata Fanshuri tak mau kalah.

Perdebatan seru antara Fanshuri dan Mas Is terjadi di hadapan Gus Mut. Awalnya, Fanshuri dan Gus Mut cuma main catur di teras rumah, tapi kedatangan Mas Is menghadirkan bahan obrolan cukup panas. Terutama soal sikap Pemerintah Perancis yang terkesan tidak mau peduli dengan karikatur Nabi yang menyinggung banyak umat Islam di seluruh dunia.

“Fan, kamu itu bagaimana sih? Nabi kita dihina, dibikin karikatur begituan kok bisa-bisanya nggak merasa tersinggung? Kamu itu sebenarnya Islam atau bukan?” tanya Mas Is makin sewot.

“Enak aja, kalau marah sih ya marah, Mas Is. Tapi kan yang membedakan kita itu kan reaksinya,” kata Fanshuri.

“Lah kalau marah, kenapa kamu malah ngebela Perancis?” tanya Mas Is lagi.

“Yang bela Perancis itu siapa? Aku itu cuma menyayangkan reaksi yang berlebihan. Bahkan sampai ada reaksi balasan nyerang jamaah gereja di Nice sama orang berbeda. Apa urusannya kok sampai gereja diserang? Ini kan udah kebangeten. Yang salah yang bikin karikatur Nabi kok umat agama lain yang kena,” kata Fanshuri nggak mau kalah.

“Tapi kamu juga perlu tahu kalau Perancis itu sekularisme-nya udah keblabasan, Fan. Coba kalau nggak ada karikatur Nabi begini, ya konfliknya nggak akan seluas itu. Jadi siapa duluan yang bikin provokasi itu yang salah. Lah kok enak aja nyalahin kelompok yang terprovokasi,” kata Mas Is.

“Ya namanya sekuler ya gitu, Mas Is. Sekuler kan emang memisahkan ranah aturan agama dengan aturan Pemerintahan Perancis. Sejarah mereka keluar dari belenggu agama kan udah berdarah-darah. Dulu perang memisahkan otoritas pemerintah dengan otoritas gereja aja udah terjadi bekali-kali. Jadi ada traumatis mendalam sama aturan agama di sana. Mas Is kira yang sering dihina cuma orang Islam aja? Di Perancis itu orang Katolik itu juga pernah dihina, Mas. Media di sana itu juga sering ngejek umat agama lain,” kata Fanshuri.

“Lah itu makanya kita perlu kasih pelajaran sama Perancis. Kita perlu baikot produk-produknya biar tahu rasa! Biar tahu rasa mereka, kok suka seenak bener memandang rendah keyakinan orang lain. Sampai membiarkan ada karikatur Nabi lagi,” kata Mas Is.

Fanshuri melirik ke Gus Mut yang cuma lihat hape sambil merokok santai. Belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Gus Mut. Melihat Gus Mut yang belum tertarik turut di perdebatan, Fanshuri pun melanjutkan perdebatannya dengan Mas Is.

“Mas, kalau mau boikot-boikot sih ya sana, cuma untuk membenarkan pembunuhan atas karikatur Nabi kayak gini aku nggak mau ikut-ikut. Nabi aja dalam banyak riwayat menyuruh kita bersabar kok, masak Mas Is begini nggak paham,” kata Mas Is.

“Ya emang bener, kamu itu Islam-nya belum kaffah sih. Ini itu bukan kita nggak mau sabar, ini soal kehormatan agama, Fan. Kamu sih Islam cuma di mulut doang ya begini,” kata Mas Is mengejek.

“Enak aja mulutmu kalau ngomong. Sok-sokan Islam paling kaffah lagi, emangnya situ udah kavling surga apa gimana hah?” kata Fanshuri nggak terima dan langsung berdiri.

Melihat Fanshuri berdiri, Mas Is pun merasa ditantang. “Apa kamu? Ngajak kelahi? Kalau buat bela Nabi yang dihina begini mah aku nggak ada takut-takutnya. Mati pun nggak apa-apa,” kata Mas Is.

“Omonganmu ngawur. Pantesan Islam dikenal radikal, ya modelan orang-orangnya kayak kamu gini sih, Mas. Lagian, siapa yang menghina Nabi? Aku itu ngasih tahu Mas Is kalau Perancis itu juga punya kedaulatannya sendiri,” kata Fanshuri ngegas.

“Halah, lagakmu sok-sokan moderat, tapi begitu sekulerisme menginjak-injak kehormatan Islam kamu diam aja. Nabi pasti malu punya umat kayak kamu!” teriak Mas Is tepat di wajah Fanshuri.

“Nabi lebih malu lagi punya umat kayak kamu! Gampang tersulut, emosian, dikasih tahu nggak mudengan, goblok lagi,” kata Fanshuri.

“Apa kamu bilang?” tanya Mas Is ngegas karena amarahnya sudah di ubun-ubun.

“Goblooo…,” belum sampai seruan Fanshuri selesai, kepalan tangan sudah mendarat di pipinya.

Buk!

Dipukul dengan telak begitu, Fanshuri langsung memegangi kerah baju Mas Is untuk mengatisipasi pukulan berikutnya. Fanshuri pun membalas pukulan sambil terhuyung mau jatuh. Kepalan tangan Fanshuri pun mendarat tepat di perut Mas Is.

Buk!

Cengkeraman-cengkeraman pun terjadi, diiringi dengan jual-beli pukulan. Keduanya pun saling memiting satu sama lain, dan terseret sampai halaman rumah Gus Mut. Anehnya, dalam keadaan sudah sangat kacau itu, Gus Mut masih tertegun di atas kursi. Diam saja, tidak melerai.

Begitu stamina Fanshuri dan Mas Is sudah habis, perkelahian itu pun berhenti dengan sendirinya. Maklum, keduanya sudah bukan anak muda lagi, jadi perkelahian itu pun berakhir tak sampai satu menit. Keduanya pun berbaring di tengah-tengah halaman depan teras rumah Gus Mut.

Di tengah kelelahan dan rasa sakit yang mulai terasa karena adrenalin sudah mulai mereda, Fanshuri dan Mas Is sama-sama heran, kenapa Gus Mut tidak melerai mereka semua. Satu hal yang bisa mereka lihat dengan jelas, Gus Mut hanya berdiri dan mendekat.

“Sudah? Sudah puas kelahinya?” tanya Gus Mut.

Fanshuri dan Mas Is bingung, lalu melirik satu sama lain. Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya.

“Ya itu tadi yang dibikin karikatur sama media-media di Perancis itu,” kata Gus Mut.

Fanshuri dan Mas Is memasang muka heran di antara raut lebam tipis-tipis.

“Bukan karikatur Nabi yang digambar mereka itu, tapi kelakuan kalian berdua barusan ini,” kata Gus Mut tersenyum lalu dengan santainya masuk rumah meninggalkan Fanshuri dan Mas Is yang kini terkapar dua kali.

Terkapar secara fisik karena habis berkelahi, dan kini harus terkapar juga secara mental karena mendengar kalimat tadi.

BACA JUGA Untuk Apa Belajar Agama Pakai Akal kalau Ujung Jawabannya Balik ke Iman? dan kisah-kisah Gus Mut lainnya.

Exit mobile version