MOJOK.COMas Is minta dispensasi ke Gus Mut agar boleh judi bola sekali lagi. Berjanji tidak akan mengulanginya kalau masih diperbolehkan.

“Ya sekali-kali nggak apa-apa kan, Gus?” kata Mas Is ketika ditegur Gus Mut soal kebiasaan main judi bola.

Gus Mut tersenyum kecil.

“Semua itu diawali dari sekali-kali, Is. Dari coba-coba dulu nanti ketagihan. Nggak ada ceritanya orang minum-minum itu diawali langsung satu botol, pasti segelas kecil dulu. Awalnya nggak enak, lalu penasaran, eh, keterusan sampai udah nggak ada jalan pulang,” kata Gus Mut yang masih geleng-geleng mendapati tetangganya itu belum kapok-kapok juga main judi bola.

“Ini kan biar nonton bolanya seru, Gus. Jadi ada geregetnya gitu. Kalau menang kan euforianya bisa gayeng sekali. Kalau kalah kecewanya berlipat-lipat,” kata Mas Is.

“Memang kamu itu butuh duit buat apa Mas Is? Kenapa nggak pinjam ke aku atau Fanshuri kan bisa,” kata Gus Mut.

“Ini bukan soal duit, Gus,” kata Mas Is.

“Lah, terus?” tanya Gus Mut.

“Ya geregetnya aja. Lah wong duit yang buat taruhan nggak seberapa. Cuma 10 ribu, 20 ribu. Paling banter juga 50 ribu. Ini bener-bener cuma bikin seru-seruan aja nonton bolanya,” kata Mas Is.

Gus Mut bergeming, menatap mata Mas Is dalam-dalam.

“Iya, iya, saya tahu ini salah. Nggak boleh. Besok nggak lagi kok, Gus,” kata Mas Is.

Gus Mut tahu Mas Is cuma manis di bibir. Sebab, pernyataan “besok nggak lagi” ini sering disampaikan Mas Is di hadapan Gus Mut.

“Ya, kamu juga harus tahu Mas Is. Aku ini juga males kalau ketemu bahasannya soal kecanduanmu soal judi bola ini terus. Bosen,” kata Gus Mut.

“Ya maklum, Gus. Barangkali memang sudah passion, Gus,” kata Mas Is cengengesan.

“Memangnya kamu senang banget kalau menang duit dari judi bola kayak begitu?” tanya Gus Mut.

“Ya senang dong, Gus.”

“Bahagia?” tanya Gus Mut lagi.

Mas Is diam sejenak.

“Ya bahagia, ya seneng. Sama aja lah, Gus,” kata Mas Is tak mau ribet.

Gus Mut tersenyum.

“Ya beda dong, Mas Is,” kata Gus Mut.

Mas Is bingung.

“Beda gimana? Bahagia sama senang kan sama aja,” kata Mas Is.

“Senang itu sifatnya sesaat dan untuk diri sendiri, Mas Is. Kita dapat hadiah atau sedekah dari orang misalnya, senang pasti. Dapat duit kok, pasti senang dong,” kata Gus Mut.

“Lah kalau bahagia?” tanya Mas Is.

“Kalau bahagia itu sifatnya lebih tenang karena berbagi dengan orang lain. Kita kasih sedekah ke orang yang membutuhkan misalnya. Lalu menyadari orang itu terselamatkan gara-gara sedekah kita. Itu mungkin nggak menyenangkan karena kita kehilangan duit bukan untuk keinginan kita, tapi rasanya pasti membahagiakan,” kata Gus Mut.

Mas Is berpikir sejenak.

“Ah, Gus Mut ini mau bilang kalau saya ini cuma ngejar kesenangan aja main judi bola, tapi nggak bahagia. Iya kan? Biar saya ngerasa bersalah kan?” tuduh Mas Is.

Gus Mut terkekeh.

“Soal rasa bersalah itu semua orang punya, Mas Is. Yang membedakan itu orang udah kebal sama rasa bersalahnya, sehingga menganggap perilaku buruknya udah jadi kebiasaan, udah normal. Lah itu yang bahaya,” kata Gus Mut.

“Udah deh, Gus. Pokoknya saya janji ini yang terakhir. Biarkan ini jadi kebahagiaan saya yang terakhir,” kata Mas Is.

“Mas Is, Mas Is, itu kesenangan namanya, bukan kebahagiaan,” kata Gus Mut.

“Halaaah, Gus, masih aja ngotot soal beda kata ‘senang’ sama ‘bahagia’,” kata Mas Is sudah mulai risih.

“Ya memang beda. Gini aku jelasin, Mas Is. Sesuatu yang dekat sama nafsu itu adalah soal kesenangan. Hal-hal yang lebih bikin ketagihan,” kata Gus Mut.

“Contohnya?” tanya Mas Is.

“Kalau contoh buruknya, ya zina, judi, minum, itu semua perkara-perkara yang menyenangkan,” kata Gus Mut.

“Aduh, Gus. Mbok ya beragama itu yang solutif gitu lho, Gus. Nggak dikit-dikit dilarang, dikit-dikit diharamkan. Kan jadi terkekang rasanya,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum kembali.

“Sebenarnya, tanpa agama pun, hidup manusia itu memang udah terkekang, Mas,” kata Gus Mut.

“Ah, kata siapa?” kata Mas Is.

“Mas, kesenangan manusia itu nggak ada batasnya. Cuma masalahnya, umur dan kondisi fisik manusia itu ada batasnya. Hal-hal itu justru lebih mengekang manusia. Orang yang terbiasa minum miras misalnya, pasti ada keinginan bisa minum terus sampai kapanpun. Tapi kan fisiknya membatasi, padahal hasrat minumnya itu nggak terbatas,” kata Gus Mut.

Di sini Mas Is terdiam.

“Coba sekarang Mas Is bayangkan, gimana rasanya kayak gitu? Udah terbiasa minum, tiba-tiba akses minum diputus tiba-tiba karena kondisi kesehatan yang memburuk misalnya,” kata Gus Mut.

“Ya sakit pasti, Gus,” kata Mas Is.

“Nah, karena kita dibatasi hal-hal bersifat fisik kayak gitu. Ya kesehatan, usia, umur, dan lain-lain kita dibiasakan untuk membatasi kesenangan. Biar kalau nanti tiba-tiba kita nggak bisa mengakses kesenangan itu, kita nggak kecewa-kecewa amat karena nggak tergantung sama itu. Jadi nggak depresi, nggak stres. Ya sedih ada, tapi masih bisa dikontrol lah,” kata Gus Mut.

Mas Is terdiam. Lidah terasa kelu.

“Mas Is, sampean jangan salah sangka dulu. Soal keputusan sampean tetep mau lanjut ya itu terserah Mas Is. Aku udah nggak ada kuasa di situ,” kata Gus Mut.

“Tapi ini benar-benar bikin aku bahagia, Gus. Paling tidak untuk terakhir kalinya,” kata Mas Is masih ngotot.

Gus Mut masih berusaha tersenyum menghadapi kengototan Mas Is.

“Mas, nggak ada ceritanya aktivitas maksiat bisa bikin bahagia, kalau bikin senang sih iya, aku percaya itu. Kalau soal judi bola itu, pilihannya ada di Mas Is sendiri,” kata Gus Mut mengakhiri pembicaraan.

Mas Is terdiam, belum memutuskan benar-benar mau berhenti main judi bola atau tidak. Ada perdebatan di kepalanya yang sukar untuk dijelaskan. Saking sulitnya, kecambuk itu pun tak tersampaikan sampai Gus Mut akhirnya pamit untuk pulang.

BACA JUGA Apakah Surga Hanya untuk Orang Islam Saja? dan kisah-kisah GUS MUT lainnya.

Baca juga:  Zumba: Berolahraga Sambil Menari yang Bikin Sehat dan Bahagia