MOJOK.CO – Koar-koar ngaku merasa cinta Allah, tapi sehari-hari gampang ngamuk. Jangan-jangan kamu bukannya cinta Allah, tapi emang kesemsem sama surga-Nya doang tuh.

Sore hari, masih puasa Ramadan, Fanshuri dan Gus Mut memilih menghabiskan main catur di teras rumah Gus Mut. Baru juga dua putaran permainan catur Mas Is datang.

“Gus, udah denger kabar belum kalau Jalan Kabupaten tadi rusuh?” tanya Mas Is.

“Hah? Rusuh?” tanya Fanshuri terkejut. “Rusuh kenapa Mas Is?”

“Anu, ormas yang nggak terima lagi sweeping eh ternyata dilawan sama yang punya warung,” kata Mas Is.

“Sweeping apaan lagi sih?” tanya Fanshuri.

“Ya sweeping Ramadan,” kata Mas Is.

“Sweeping Ramadan? Apaan tuh?” tanya Fanshuri.

“Ya sweeping warung-warung yang buka siang hari agar segera tutup. Disuruh menghormati Bulan Puasa,” kata Mas Is.

“Haduh, masih jaman ya begituan? Masih ribut sekarang Mas Is?” tanya Fanshuri sambil geser sedikit agar Mas Is dapat tempat duduk.

“Kalau sekarang sih udah selesai. Tadi kok ributnya, dari jam 10-an pagi, sampai siang. Wah, ramai. Seru,” kata Mas Is sambil dudul di samping Fanshuri.

“Mas Is emang di lokasi ya? Kok tahu banyak?” tanya Gus Mut tiba-tiba.

“Iya, kebetulan ikut temen yang anggota ormas sweeping juga, Gus,” kata Mas Is.

Fanshuri dan Gus Mut terlihat langsung berubah air mukanya. Agak terkejut juga mendengar Mas Is ternyata salah satu orang yang ikut sweeping.

“Terus sekarang gimana?” tanya Fanshuri, mencoba tetap biasa saja.

“Ya udah kelar, mereka yang punya warung yang lain akhirnya mau tutup,” kata Mas Is.

“Lha yang punya warung yang ngelawan tadi gimana? Mau tutup juga?” tanya Fanshuri.

“Ya harus dong, orang lapaknya udah rusak sama anak-anak. Aku sih nggak ikut-ikut, cuma nganterin temen doang kok,” kata Mas Is biasa saja.

“Kok gitu sih Mas? Kan itu namanya ngerusak rezeki orang?” tanya Fanshuri.

“Lho, kamu itu gimana sih, Fan, harusnya orang yang punya warung menghormati orang puasa dong. Orang lagi nggak puasa gitu, malah difasilitasi, didenger, sedangkan kita yang muslim beneran, puasa beneran malah nggak dihormati sama sekali,” kata Mas Is.

“Lah kok jadi rusuh, emang ceritanya gimana?” tanya Gus Mut.

“Ya si pemilik warung ngotot, ya dilawan lah sama anak-anak. Perintah Allah kok dilawan. Disuruh puasa kok malah buka warung buat orang yang nggak puasa,” kata Mas Is.

Baca juga:  Mata Uang Surga

“Lha kamu itu sendiri puasamu itu emang tujuannya buat siapa, Mas?” tanya Gus Mut tiba-tiba.

Mas Is agak kaget mendengarnya.

“Ya buat Gusti Allah to, Gus. Masa buat yang lain,” jawab Mas Is.

“Lah kalau kamu puasa buat Gusti Allah kenapa tujuanmu malah ke warung makan?”

Mas Is terdiam sejenak.

“Kan warung makannya buka. Kami ini ingin mengajarkan ke masyarakat itu agar terbiasa berpuasa. Caranya ya dengan tidak menyediakan fasilitas untuk membatalkan puasa, Gus. Jadi warung-warung itu sebaiknya juga nggak usah buka dulu. Nanti malamnya kan bisa. Soal rusuhnya sih ya karena kami terprovokasi sama pedagangnya yang marah-marah. Kalau yang jual di warung santai langsung mau tutup ya kami nggak bakal ngerusak apa-apa kok,” kata Mas Is.

Gus Mut terdiam. Cuma geleng-geleng.

“Apanya yang salah, Gus?” tanya Mas Is lagi.

“Kamu itu apa ya nggak mikir, dia si pemilik warung itu bisa aja punya keluarga yang harus dihidupi, dikasih nafkah, Mas,” kata Gus Mut.

“Ya seharusnya mereka ya mikir dulu, Gus, buka warung kok di siang hari bulan puasa. Justru kami ini sedang menunjukkan rasa cinta kepada Allah, membela keagungan bulan Ramadan,” kata Mas Is membela diri.

“Lah kok malah sampeyan merendahkan bulan Ramadan gitu, Mas,” kata Gus Mut.

Mas Is terkejut mendengar kata-kata Gus Mut. “Merendahkan gimana, Gus?” tanya Mas Is.

“Bulan Ramadan Allah itu udah pasti agung. Mau sampeyan bela atau nggak, nggak bikin Ramadan jadi lebih nggak agung atau nggak,” kata Gus Mut.

“Itu memang benar, Gus. Tapi kan ini kami yang membutuhkan mengagungkan bulan Ramadan ini. Kami yang butuh melakukannya sebagai bukti mencintai Allah. Karena barang siapa mencintai Allah akan dijamin masuk ke surga-Nya,” kata Mas Is.

Gus Mut membenarkan letak duduknya sejenak.

“Yakin sampeyan melakukan itu atas dasar cinta?” tanya Gus Mut.

“Iya, dong. Janjinya surga jeh,” kata Mas Is.

“Sampeyan itu cinta sama Allah, atau kepingin masuk surga-Nya, Mas Is?” tanya Gus Mut.

“Ya surga-Nya dong, Gus,” kata Mas Is percaya diri.

Baca juga:  Perpecahan Islam Terjadi Karena Dalil Dipakai untuk Selalu Menuntut Hak

“Berarti sampeyan melakukan semua itu masih pakai dorongan nafsu sampeyan, Mas,” kata Gus Mut.

Mas Is merasa tersinggung dengan ucapan Gus Mut.

“Maksudnya gimana, Gus. Enak aja bilang kami masih pakai nafsu,” kata Mas Is.

“Ya kalau nggak pakai nafsu, seharusnya sampeyan nggak perlu merusak barang-barang orang lain gitu, Mas. Cinta itu tanpa syarat, tulus, nggak berharap apa-apa kecuali bisa disayangi oleh sosok yang dicintai. Kalau sampeyan masih berharap sesuatu, memikirkan timbal balik, ya itu namanya bukan cinta, itu nafsu. Melakukan sesuatu karena merasa bakal dapat ganti yang lebih bagus,” kata Gus Mut.

Mas Is terdiam, begitu juga dengan Fanshuri. Di tengah hening suasana tersebut, Fanshuri memberanikan diri bertanya.

“Memangnya salah ya, Gus? Kalau ada umat mengharap surga-Nya?” tanya Fanshuri.

“Nggak salah sih, cuma itu sebenarnya bisa jadi pertanda mana umat yang gampang ngamukan sama yang nggak gampang ngamuk. Ya kayak wujud cinta. Cinta itu sifatnya tulus, kayak hubungan ibu dengan anaknya. Benar-benar nggak berharap apa-apa ketika seorang ibu merawat anak. Beda dengan nafsu, sifatnya selalu timbal-balik, kayak kamu sama istrimu. Ya nggak apa-apa, itu halal, nafsu memang ada jalur pemuasnya sesuai agama, tapi jangan berlebihan. Soalnya kalau berlebihan, sifatnya pasti merusak.”

“Contohnya sifatnya merusak itu gimana, Gus?” tanya Fanshuri lagi. Mas Is masih diam saja.

“Ya kayak teman-temannya Mas Is ini, agama itu wujud cinta hamba kepada Tuhannya, bukan wujud nafsu pakai nama Tuhannya. Ngaku cinta sama Allah, cinta sama Tuhan kok mencak-mencak, marah-marah, ngamuk, ya itu bukan cinta namanya, itu nafsu. Kalaupun bukan nafsu duniawi, ya itu nafsu akhirat. Padahal agama itu memakai salat, puasa, zakat, itu buat mengurangi nafsu manusia. Lha ini kok malah dipakai buat memfasilitasi nafsu yang lain,” kata Gus Mut panjang lebar.

“Dan ketika dipakai untuk memfasilitasi nafsu yang lain, pasti ada sesuatu yang rusak,” tambah Gus Mut.

Mas Is cuma terdiam. Fanshuri juga. Agak lama keduanya hening, sampai tiba-tiba Fanshuri bersuara lagi.

“Gus,” kata Fanshuri.

“Iya?” kata Gus Mut.

“Ngomong-ngomong, ini catur kita kok malah nggak jalan-jalan ya?” tanya Fanshuri.

Gus Mut baru sadar lalu terkekeh.



Loading...



No more articles