MOJOK.COMendengar ada informasi bahwa salat ied berjamaah bakal berbeda pada tahun ini, Mas Is buru-buru mendatangi kediaman Gus Mut. Meminta penjelasan.

Mas Is merasa kaget dengan pengumuman di masjid kampung bahwa kemungkinan besar salat ied tahun ini tidak dilaksanakan berjamaah di lapangan seperti biasa.

“Gus, ini keblabasan namanya, masak iya ibadah krusial setahun sekali begini sampai harus dibatalin sih?” kata Mas Is mencak-mencak di rumah Gus Mut.

“Siapa yang batalin?” tanya Gus Mut bingung.

“Lah itu pengumuman tadi pagi di masjid? Ini udah mulai nggak bener. Lha orang pemerintah aja udah kasih kelonggaran karena pandemi kok malah umat muslim yang harus kena dampaknya?” tanya Mas Is, masih mencak-mencak.

Gus Mut cukup terkejut tahu-tahu disemprot Mas Is siang-siang. Sampai terdiam sejenak untuk mencerna celotehan protes Mas Is.

“Nggak dibatalin Mas Is, itu kan cuma dilaksanakan masing-masing di rumah. Sendiri-sendiri. Itu pun masih kemungkinan karena situasi terbaru kan masih terus dipantau,” kata Gus Mut.

“Ta, tapi kan, biasanya kita mau kondisi kayak gimana juga salat ied di lapangan. Lagian ini kemarin aja bandara udah ramai juga, pemerintah juga udah bilang kita harus berdamai sama pandemi, lah kok soal salat masih dibatasin sih?” tanya Mas Is masih emosi.

Gus Mut cuma tersenyum, lalu membenarkan sarungnya yang hampir melorot karena masih menyirami tanaman di halaman rumahnya.

“Mas Is, sampeyan ini kenapa ngotot banget nggak bisa salat ied sekali aja tahun ini? Memangnya kenapa?” tanya Gus Mut.

“Loh, Gus Mut ini gimana? Ini kan bisa dosa satu kampung kalau kita nggak salat ied, Gus. Gus Mut ini gimana sih?” kata Mas Is dengan mata melotot seperti mau copot.

Gus Mut bingung begitu mendengar kata-kata Mas Is, tetangganya itu. Lalu senyum merekah karena Gus Mut menyadari sesuatu.

“Mas Is, sebentar, sebentar, sampeyan ini jangan-jangan nggak tahu ya hukum salat ied itu apa?” tanya Gus Mut.

Baca juga:  Kepala BPIP Sebut Musuh Terbesar Pancasila itu Agama dan Pelajaran dari Gus Baha’

“Lah bukannya wajib ya?” tanya Mas Is.

Senyum semakin lebar merekah di bibir Gus Mut.

“Nah, ini nih yang dikhawatirkan Kanjeng Nabi, Mas Is. Amalan-amalan yang jadi diwajibkan umatnya sendiri karena telanjur jadi rutinitas. Tapi itu juga bukan salah sampeyan juga Mas Is kalau sampai nggak tahu,” kata Gus Mut.

“Sebentar, Gus. Jadi Gus Mut mau bilang kalau salat ied itu nggak wajib?” tanya Mas Is.

Gus Mut cuma mengangguk.

Mas Is terkejut.

“Lah? Saya kira malah salat ied itu salat yang utama,” kata Mas Is.

“Ya wajar kalau Mas Is tahunya begitu. Karena hampir semua orang selalu mengusahakan untuk salat ied. Jadi berasa istimewa gitu,” kata Gus Mut.

“Padahal salat ied itu adalah salat yang saya tunggu-tunggu lho, Gus. Karena selain setahun cuma dua kali, ini kan salat yang kayak jadi penutup dari puasa Ramadan kita sebulan ya? Kok bisa ya nggak diwajibkan saja,” kata Mas Is. Kali ini amarahnya mulai mereda.

Gus Mut cuma tersenyum.

“Mas, kadang-kadang yang kelihatan wah itu justru nggak wajib. Salat tarawih misalnya, karena jumlah rakaatnya banyak, orang jadi mikir lebih utama itu ketimbang salat rawatib. Padahal mah sama-sama sunah. Cuma karena salat tarawih hanya bisa dilakukan di waktu Ramadan aja jadi kelihatan istimewa, sampai dianggap mendekati wajib,” kata Gus Mut.

Mas Is terdiam. Merasa nggak enak karena tadi udah kadung mencak-mencak di awal.

“Saya dulu ngira kalau salat ied itu malah wajib, Gus. Oalah,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum, sambil tetap menyirami tanaman hiasnya.

“Bahkan, dalam suatu riwayat yang berbeda, Nabi Muhammad itu pernah sedikit khawatir ketika habis salat sunah di dalam Kakbah, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Lah memang kenapa, Gus?” tanya Mas Is.

“Karena Nabi khawatir umatnya nanti menganggap bahwa salat di dalam Kakbah itu sesuatu yang utama, yang penting. Apalagi sampai nanti ada umatnya yang berpikir itu jadi perkara wajib. Nabi Muhammad itu juga selalu salat selalu bersiwak, tapi Nabi juga khawatir kalau siwakan sebelum salat itu dianggap wajib sama umatnya,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Ngapain Salat Kalau Akhirnya Masuk Neraka?

Mas Is terdiam.

“Jadi saya harus gimana, Gus?” tanya Mas Is.

“Ya nggak usah nemen-nemen kalau perkara sunah Nabi itu. Apalagi malah jadi bahan gontok-gontokan segala. Biasa aja, yang proporsional aja. Kalau emang situasinya nggak mungkin buat menjalankan sunah ya nggak apa-apa. Lah wong yang perkara wajib aja ada batasan dhorurot-nya kok, apalagi barang sunah, Mas Is,” kata Gus Mut melanjutkan menyirami tanamannya.

“Tapi kadang ada orang yang saking terbiasanya menjalankan sunah Nabi, jadi merasa itu kewajiban bagi dirinya lho, Gus,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum.

“Kalau itu dibikin buat dirinya sendiri, nggak masalah Mas Is, tapi kalau disamaratakan untuk dikejarkan orang lain, wah itu bisa masalah. Standar kesunatan tiap orang itu bisa beda-beda, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?”

“Ya misalnya iktikaf di masjid, sunah itu, tapi kalau sampai meninggalkan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga, wah itu malah jadi perkara sunah menganggu perkara wajib namanya. Sama kayak Mas Is ngotot soal salat ied tadi. Ngejar perkara sunah, tapi malah berisiko menjerumuskan diri sendiri dan orang lain ke kebinasaan. Padahal Gusti Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan kebinasaan,” kata Gus Mut.

Kali ini aroma mencak-mencak Mas Is mereda sepenuhnya. Seolah siraman air Gus Mut ke tanamannya juga ikut menyirami dada Mas Is yang tadi sempat panas. Kali ini gantian senyum Mas Is yang merekah. Cuma sedikit ketambahan sama senyum cengengesan.


*) Sebagian diolah dari penjelasan Gus Baha’.

BACA JUGA Pilihan Surat saat Salat Jamaah Jangan yang Panjang, Umat Juga Punya Urusan Lain atau kisah GUS MUT lainnya.