MOJOK.COMerasa belum sempurna dalam ibadah, ngaji, dan ilmu agama, Gus Mut enggan ngajar ngaji. Sampai kemudian Gus Mut kena semprot kiainya.

Sebelum membantu mengelola di pesantren Kiai Kholil, sebagai satu-satunya anak laki-laki Gus Mut sebenarnya pernah berada pada fase enggan mengajar ngaji. Hal itu terjadi karena Gus Mut merasa belum pantas untuk jadi “gus” betulan. Itu terjadi saat Gus Mut masih sangat muda dan masih mondok di luar kota.

Berkali-kali Kiai Kholil minta Gus Mut untuk balik ke kampung, ikut membantu mengurus pesantren yang sudah berjalan sepanjang tiga generasi, namun tiap kali Gus Mut diminta bapaknya balik, jawaban Gus Mut selalu sama.

“Bapak, saya ini belum pantas ngajar ngaji. Ilmu saya belum banyak, ibadah juga belum sempurna, biarkan saya mondok dulu, Pak,” kata Gus Mut muda.

Kiai Kholil sendiri mengerti persoalan anaknya. Dalam hati kecilnya, Kiai Kholil sangat memahami persoalan ketidakpantasan anaknya. Namun mau sampai kapan Kiai Kholil menunggu Gus Mut pulang kampung? Nunggu 1 tahun lagi? Atau 3 tahun lagi? Iya kalau Kiai Kholil masih hidup, lah kalau nggak?

Bingung dengan situasi demikian, terutama setelah puluhan kali gagal membujuk anak laki-lakinya, Kiai Kholil lantas menelepon pengasuh pesantren tempat Gus Mut mondok. Kiai Ghoffur namanya.

“Saya minta tolong beneran ini Kang Ghoffur. Anak saya tolong dikasih tahu. Sejak dari tahun kemarin saya minta Mut itu pulang, ngajar ngaji di rumah aja, nggak pernah mau dianya,” kata Kiai Kholil.

“Baik, Kang. Nanti saya kasih tahu anaknya. Tapi nggak apa-apa kan kalau anak sampeyan saya marahin dikit-dikit?” tanya Kiai Ghoffur yang memang dikenal nggak suka basa-basi.

“Ya walaupun itu anak saya, tapi kan itu santri sampeyan. Kiainya kan sampeyan. Mau sampeyan tempeleng juga boleh, Kang,” kata Kiai Kholil. Kiai Ghoffur tertawa dari seberang.

Tak sampai dua hari sejak telepon Kiai Kholil itu, Kiai Ghoffur memanggil Gus Mut. Di pondok Kiai Ghoffur, Gus Mut sama dengan santri yang lain. Tetap tawadhu’ dengan kiainya, tetep munduk-munduk ketika berhadapan dengan Kiai Ghoffur.

“Mut, aku dengar kamu diminta bapakmu untuk pulang kampung ya?” tanya Kiai Ghoffur tanpa basa-basi.

Gus Mut sedikit terkejut, tak mengira kalau kiainya sampai paham masalah ini.

“Iya, Pak Kiai,” kata Gus Mut merasa kepalang basah.

“Terus kenapa kamu nggak mau?” tanya Kiai Ghoffur.

Gus Mut lumayan takut menerangkan alasannya, namun karena sudah di hadapan Kiai Ghoffur, Gus Mut tak bisa lari lagi ya sudah, sekalian saja.

Baca juga:  Gus Mus: Muslim Moderat Harus Tampil ke Panggung

“Anu, Pak Kiai, saya merasa belum pantas ngajar ngaji. Ngaji saya aja masih banyak yang salah. Beberapa kitab yang saya baca di sini juga belum selesai saya kaji semua. Belum dengan hafalan Al-Quran saya yang belum lancar sepenuhnya. Dalam kemampuan cuma sebatas itu kok saya ngajar ngaji di pesantren Bapak, kok rasanya saya bakal malu-maluin nama besar Bapak, Pak Kiai,” kata Gus Mut berterus-terang.

“Memangnya kamu perlu berapa lama lagi untuk merasa pantas?” tanya Kiai Ghoffur.

“Ya nggak tahu, Pak Kiai. Selama yang dibutuhkan aja,” kata Gus Mut.

“Lah waktu yang kamu dibutuhkan berapa? Di sini aja sebenarnya kamu itu bukan santri sembarangan lho, Mut. Tiap bulan Ramadan juga ikut ngajar ngaji pula. Selera bacaan kitab-kitabmu juga bagus-bagus. Makanya itu, kamu itu aku pikir jangan pulang sekarang-sekarang ini,” kata Kiai Ghoffur.

Mendengar itu, Gus Mut merasa mendapat dukungan. “Berarti nggak perlu pulang kan saya Pak Kiai?”

“Maksudnya bukan pulang sekarang-sekarang itu, kamu harusnya pulang dari kemarin-kemarin. Sejak Kang Kholil, bapakmu itu, minta kamu pulang kampung untuk bantu ibadah ngajar ngaji dan ngasuh pesantrenmu di rumah,” kata Kiai Ghoffur.

Harapan yang dipikir Gus Mut ada itu mendadak padam.

“Tapi saya takut keliru Pak Kiai, takut salah kalau nanti saya ngajar ngaji di pondoknya Bapak,” kata Gus Mut.

“Mut, memangnya kamu ini nabi apa kok sampai merasa nggak boleh salah? Yang nggak bisa salah itu cuma nabi, lah kok kamu sombong banget merasa nggak pantas menghadapi kesalahan? Cara mikirmu itu malah memunculkan problem baru namanya. Kalau kamu nggak pulang, nggak mau tampil, nggak mau ngajar, lalu ada orang lain yang secara kapasitas ada di bawahmu akhirnya mengisi posisimu, itu namanya rendah hati yang keblabasan dan menjerumuskan, Mut,” kata Kiai Ghoffur sedikit menekan nada bicaranya.

Gus Mut terkejut. “Bukan, bukan seperti itu maksud saya, Pak Kiai. Maksud saya, saya cuma kepingin mengejar kesempurnaan ibadah saya dulu sebelum ngajari orang lain.”

“Mut, kamu itu siapa? Kita ini siapa? Mau ibadah kok malah takut salah, takut nggak sempurna lagi ibadahnya. Demi ngejar kesempurnaan ibadah kok malah jadi nggak mau menjalankan ibadah itu logika dari mana, Mut?” tanya Kiai Ghoffur.

Baca juga:  Islam Kita Nggak Ke Mana-mana Kok Disuruh Kembali?

“Hah? Gimana, Pak Kiai?” tanya Gus Mut bingung.

“Lah iya to, kamu merasa perlu menjaga kesempurnaan ibadah, mau dalam mengaji, mau dalam mengkaji ilmu-ilmu agama, mau kamu sampai tua ya nggak bakal sempurna. Nggak ada yang bisa sempurna. Kita itu baru bisa pada tahap mencoba untuk sempurna. Mencoba aja. Nggak usah muluk-muluk kayak cara mikirmu itu. Mau sampai dahimu moncrot ya ibadah kita ini memang nggak akan sempurna. Mau sampai kapanpun kita belajar ngaji ya nggak bakal sempurna, Mut. Lalu gara-gara itu malah kamu nggak jadi ngajar ngaji,” kata Kiai Ghoffur.

Gus Mut terkejut Kiai Ghoffur sampai bilang begitu, “Ta, tapi, Pak Kiai. Saya bukan mau sok rendah hati ya ini Pak Kiai, saya memang belum merasa pantas,” kata Gus Mut masih membela diri.

“Kamu itu bukan belum pantas ngajar ngaji, tapi merasa belum pantas karena nggak pernah besyukur,” kata Kiai Ghoffur.

Gus Mut bingung.

“Maksudnya, Pak Kiai?”

“Ya kamu lupa kalau dalam upaya mengejar kesempurnaan ibadah itu—yang jelas nggak mungkin sempurna—ada banyak nikmat yang kamu lupakan. Nikmat kamu masih diberi kesempatan untuk sujud, nikmat kamu masih diberi kesempatan beribadah, nikmat masih ada keimanan, nikmat masih bisa ngaji, dan nikmat-nikmat yang lain. Kenikmatan yang bisa jadi nggak diperoleh oleh orang-orang di luar sana. Syukuri itu, Mut, jangan malah kamu meremehkan rahmat Allah seolah-olah yang boleh mengaku sebagai hamba-Nya adalah hamba yang ibadahnya sempurna doang. Kayak rahmat-Nya itu cuma sak ucrit aja kamu ini,” kata Kiai Ghoffur.

Gus Mut terdiam. Meski terkesan keras dan galak, tapi poin-poin itu benar-benar dipahami oleh Gus Mut.

“Ta, tapi, ada satu masalah lagi, Pak Kiai,” kata Gus Mut.

“Apa lagi?” tanya Kiai Ghoffur.

“Saya belum ada ongkos pulang. Nunggu Bapak ngirim uang aja ya, Pak Kiai? Jadi izinkan saya di sini dua minggu atau sebulan,” tanya Gus Mut masih berusaha ngeles.

Kiai Ghoffur tertawa terbahak mendengar alasan Gus Mut ini. Sambil berdiri, Kiai Ghoffur berkata, “Udah, kamu butuh berapa? Aku ongkosin semua. Kapan lagi, bisa dapat kehormatan ngongkosin pulang kampung calon guru ngaji pondoknya Kiai Kholil, ya nggak?”

Gus Mut cuma tersenyum kecut. Alasannya untuk bertahan di pondok Kiai Ghoffur gagal lagi.

 

Diolah dari cerita Gus Baha’.

BACA JUGA Hal-Hal yang Terjadi ketika Mengajari Ibu-Ibu Mengaji atau tulisan KHOTBAH lainnya.