Ketika Guru Ngaji Dimintai Tolong Angkut Karung Beras Seperti Kuli

MOJOK.CO –Sebagai guru ngaji di kampung, beberapa murid Gus Mut sudah tersebar di mana-mana. Beberapa di antara murid-muridnya sudah ikut mengajar ngaji juga.

Penampilan Gus Mut memang tidak ada potongan sosok ustaz atau guru ngaji sama sekali secara sekilas. Jika sedang tidak mengajar ngaji, putra Kiai Kholil ini biasanya hanya mengenakan sarung dan kaos singlet layaknya orang sehabis ronda.

Kalau pun sedang berkegiatan dengan warga kampung, celana panjang olahraga dan kaos hadiah toko besi adalah busana favoritnya. Benar-benar seperti potongan seorang kuli bangunan.

Pakaian model kuli itu juga yang dikenakannya usai melakukan kegiatan bersih-bersih masjid bersama warga kampung, Gus Mut masih berleha-leha sebentar. Hari sudah menjelang siang, beberapa warga sudah pulang. Sambil ditemani rokok, sendirian tampak santai menikmati masjid yang sudah bersih.

Sampai kemudian datang seseorang turun dari angkot di depan masjid sambil membawa sekarung beras. Orang yang baru turun dari angkot itu terlihat bukan warga sekitar, dari penampilannya terlihat orang jauh. Begitu mengeluarkan sekarung beras dari dalam angkot, orang ini melihat Gus Mut leyeh-leyeh sambil merokok di depan masjid.

“Mas, Mas,” panggil orang tersebut.

Gus Mut bingung clingak-clinguk, dipikirnya orang tersebut sedang memanggil orang lain.

“Iya, kamu, Mas,” katanya lagi.

“Oh, iya, Pak. Kenapa ya?” tanya Gus Mut benar-benar kebingungan.

“Sini, Mas. Sini,” panggil orang itu.

Meski bingung Gus Mut pun mendekat. Rokok dimatikan.

“Ada apa, Pak?” tanya Gus Mut.

“Ini, saya kan orang jauh. Kalau saya mau minta tolong sampeyan, bisa nggak ya?” tanya orang tersebut. Usianya terlihat sudah cukup sepuh.

“Oh, minta tolong apa ini, Pak?” tanya Gus Mut sopan.

“Saya mau minta tolong angkutin karung beras ini. Nanti saya bayar deh sampeyan. Kan sepertinya sampeyan tadi saya perhatikan baru nggak ada kerjaan. Tapi saya tanya betul ini; sampeyan sedang nggak ada kesibukan lain kan?” tanya orang itu.

Gus Mut tentu saja agak terkejut dengan permintaan itu. Tapi karena sadar bahwa orang di hadapannya kelihatannya tidak bakal kuat mengangkut karung beras itu sendiri, Gus Mut pun mengiyakan.

“Iya, Pak. Sini saya bantuin,” kata Gus Mut langsung mengangkat beras itu lalu mengangkut di punggungnya.

“Tenang, Mas. Tidak jauh kok tempatnya,” kata orang tersebut.

Dalam pandangan orang asing ini sosok Gus Mut seperti seorang kuli bangunan yang sedang selesai mengerjakan sesuatu di masjid.

“Tenang aja, Mas. Nanti sampai tujuan, sampeyan langsung saya bayar,” kata orang tersebut.

Gus Mut cuma tersenyum mendengarnya.

“Nggak usah dibayar lah, Pak. Saya kan warga sini, ada tamu di kampung saya ya saya anggap sebagai tamu saya sendiri,” kata Gus Mut sambil berjalan.

Orang asing ini tampak gembira mendapat bantuan dari Gus Mut. Tadinya, si orang asing belum memikirkan bagaimana rencana mengangkut karung tersebut begitu turun dari angkot.

Jika naik becak kok hitungannya terlalu dekat. Apalagi di daerah itu nggak ada abang becak yang mangkal. Kalau mau diangkut sendiri kok tidak kuat. Orang itu merasa bersyukur ketemu orang yang mau membantunya.

“Alhamdulillah, Mas, ada sampeyan. Saya nggak bisa bayangin kalau saya harus nyeret karung ini,” kata orang itu ke Gus Mut.

“Nggak apa-apa, Pak. Santai saja,” kata Gus Mut.

“Memangnya ini beras buat apa, Pak?” tanya Gus Mut lagi sambil berjalanan.

“Oh, ini. Ini tanda terima kasih saya sama seorang guru ngaji di kampung sini. Kebetulan anak saya belajar ngaji sama beliau. Yah, namanya juga bukan orang kaya, Mas. Saya ingin menghadiahi sesuatu sama beliau, tapi karena kalau dalam bentuk uang, nanti jadinya dikit. Saya takut malah kesannya menghina. Jadi ya saya bawa beras saja,” kata orang itu.

Gus Mut cuma manggut-manggut. Rasanya girang bukan kepalang tentu saja. Gus Mut tahu betul bahwa murid-muridnya memang sudah mulai mengajar ngaji di kampung halamannya masing-masing.

Termasuk di kampung tempat Gus Mut mengajar ngaji juga ada satu dua murid Gus Mut yang menetap lalu mengajar ngaji. Hal ini semakin membuat Gus Mut bersemangat. Ternyata ilmunya selama ini benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh murid-muridnya.

Meski begitu, melihat rute jalan yang ditunjukkan orang asing itu, Gus Mut merasa ada sesuatu yang aneh.

“Ini kita mau ke rumah siapa sih, Pak? Kalau boleh saya tahu,” tanya Gus Mut.

“Anu, Mas. Saya juga belum pernah tahu rumahnya yang mana. Saya cuma dikasih tahu kisaran rute sama anak saya. Tapi karena saya ingin menyerahkan sendiri hadiah ini ke guru ngaji anak saya, saya nggak ingin anak saya tahu. Biar saya bisa ketemu langsung untuk mengucapkan terima kasih,” kata orang itu.

“Oh, jadi Bapak belum pernah ketemu sama guru ngaji ini?” tanya Gus Mut.

“Benar, Mas,” tanya orang asing ini.

“Namanya siapa ya, Pak? Siapa tahu saya malah bisa antarkan ke guru ngaji ini,” kata Gus Mut.

“Wah, itu juga saya nggak tahu betul nama lengkapnya si guru ngaji ini siapa. Nama panggilannya saya juga tidak tahu. Hanya saja, anak saya suka menyebutnya ‘Gus Mut’ gitu,” kata orang asing tersebut.

Hampir saja Gus Mut mau menjatuhkan karung beras yang sedang diangkutnya karena terkejut luar biasa. Melihat Gus Mut hampir sempoyongan, orang asing itu merasa heran.

“Lho kenapa, Mas? Udah capek ya, Mas? Ya udah, Mas, sini sambil saya bantuin,” kata orang asing itu.

Gus Mut jadi salah tingkah sendiri. Melihat gelagat yang aneh dari Gus Mut, orang asing ini jadi penasaran.

“Jangan-jangan sampeyan ini kenal sama guru ngaji anak saya, Gus Mut itu ya?” tanya orang itu polos.

Gus Mut tercekat semakin bingung. Bingung menjelaskan bagaimana agar si tamu ini tidak merasa bersalah kalau nanti sudah sampai rumahnya.


*) Diinspirasi dari kisah nyata KH. Abdul Karim, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

 

Exit mobile version