• 1K
    Shares

MOJOK.CO – Orang yang kamu tegur tidak sejahat Firaun yang sampai mengaku Tuhan. Mengaku Nabi saja dia belum, kenapa kamu kasar kepadanya?

Fanshuri tidak habis pikir dengan kelakuan Robi—salah satu teman masa sekolahnya. Hampir setiap pekan Fanshuri tahu temannya itu sering mabuk-mabukkan di rumah. Fanshuri bukan sekali dua kali memergoki temannya itu membeli minum-minuman keras.

Tidak sabar untuk “membenarkan” kelakuan Robi, akhirnya Fanshuri mendatangi sendiri kediaman Robi. Karena tidak mendapat perhatian yang diinginkan, Fanshuri akhirnya malah ribut dengan Robi. Fanshuri marah luar biasa dan Robi yang ditegur juga merasa diusik kebebasannya. Keduanya cekcok dan sampai membuat keributan kecil.

Beberapa hari setelahnya Fanshuri mendatangi kedatangan kediaman Gus Mut karena ingin protes. Kenapa Gus Mut dan para sesepuh-sesepuh kampung tidak mendukungnya? Kenapa malah seolah membiarkan kelakuan Robi selama ini?

“Apa Gus Mut tidak tahu kalau Robi itu sering minum-minum?” tanya Fanshuri sedikit emosional.

“Aku tidak tahu sampai kamu ribut-ribut kemarin sama dia, Fan,” kata Gus Mut.

“Tapi kenapa Gus Mut tidak melanjutkan menggrebeknya? Memaksanya menghentikan itu semua?” tanya Fanshuri.

Gus Mut terdiam sejenak.

“Aku tidak punya kekuatan itu, Fan,” kata Gus Mut.

“Kekuatan apa Gus? Kan tinggal datangi saja rumahnya, bilang bahwa apa yang dilakukan itu haram. Dilarang agama. Beres urusan,” kata Fanshuri.

“Kekuatan agar tidak berlaku sewenang-wenang. Aku butuh waktu, Fan, untuk menasihatinya. Memberi tahu Robi, bukan malah kelewatan berlaku yang tidak-tidak,” kata Gus Mut.

“Terlalu lama, Gus, kalau menunggu Robi sadar sendiri. Dia itu tidak butuh dinasihati, dia butuh ditegur, butuh dimarahi,” kata Fanshuri.

Gus Mut tersenyum sejenak.

“Kalau cara pikirmu begitu, akan semakin sulit Robi tidak mabuk-mabukan, Fan,” kata Gus Mut.

“Robi sudah tidak bisa dinasihati, Gus. Kemarin aku datang ke rumahnya dan akhirnya jadi ribut begitu ya karena Robi sudah kelewatan tidak mau dikasih tahu mana yang benar dan mana yang salah,” kata Fanshuri.

Baca juga:  Tawar Menawar Ongkos Tukang Becak dan Cara Kiai Kholil Bersedekah

“Tapi caramu agak kelewatan juga, Fan,” kata Gus Mut.

“Kelewatan bagaimana, Gus? Justru Robi yang kelewatan, Gus. Kenapa malah bisa aku yang salah?” tanya Fanshuri.

“Ya aku tidak bilang kamu yang salah. Aku cuma bilang, kalau caramu kemarin itu malah semakin menjauhkan Robi dari agamanya. Dia akan semakin benci sama kamu meski barangkali tahu kalau kamu yang benar,” kata Gus Mut.

“Kalau begitu jelas dia yang salah kan, Gus?” tanya Fanshuri.

“Iya, dia salah. Tapi dia melakukan kesalahan itu di ruang pribadinya sendiri, Fan. Di rumahnya. Tidak di luar rumah, tidak di jalanan kampung, tidak bersama teman-temannya yang lain sampai menganggu ketertiban kampung. Aku tidak punya kekuatan instan untuk menyadarkannya, aku perlu waktu biar tidak terjadi penolakan,” kata Gus Mut.

“Soal sadar atau tidaknya dia, ya itu kan bukan urusan kita, Gus. Yang penting kan kita berusaha. Nahi mungkar, Gus. Mengajak orang untuk menjauhi keburukan,” kata Fanshuri.

“Benar, tapi caramu itu bukan mengajak, melainkan memaksa, Fan. Kalaupun berhasil pada satu hari, itu tidak bisa menjamin Robi tidak kembali ke jalan itu. Robi bisa saja berpikir asal kamu tidak memergokinya tidak lagi minum, beres urusan. Dan itu bukan cara yang ingin aku pilih,” kata Gus Mut.

“Terlalu lama, Gus. Terlalu lama,” kata Fanshuri.

“Tidak ada yang terlalu lama untuk sebuah kebaikan, Fan. Kita ini bukanlah Nabi Musa dan Nabi Harun, Fan. Kita tidak layak untuk berlaku kasar kepada saudaramu meski dia betulan salah,” kata Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Kamu kan tahu Firaun, Fan?” tanya Gus Mut.

Baca juga:  Ketika Guru Ngaji Dimintai Tolong Angkut Karung Beras Seperti Kuli

Fanshuri mengangguk.

“Berapa Nabi yang dikirim Allah untuk sosok se-zalim Firaun?” tanya Gus Mut.

“Satu bukan? Nabi Musa kan ya?” Fanshuri tidak yakin.

Gus Mut menggeleng. “Dua, Fan. Nabi Musa dan Nabi Harun.”

Fanshuri tampak terkejut.

“Bahkan untuk sosok sejahat dan sezalim Firaun, Allah masih menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengirimkan tidak hanya satu, tapi dua Nabi untuk menyadarkannya. Sosok yang mengaku dirinya Tuhan, sosok yang mengaku bisa menghidupkan dan mematikan orang, sosok yang namanya bahkan diabadikan dalam ayat Al-Quran karena kejahatannya saja masih diberi kesempatan Allah untuk berubah dengan baik-baik sampai dikirim dua Nabi pada satu era.”

Fanshuri masih terdiam.

“Allah masih memberi kesempatan kepada Firaun, bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana Firaun sempat sejenak tersadar—meski akhirnya berkat kesombongannya dia tidak mengakui keesaan Allah. Dan kamu tahu kenapa Firaun sempat tersadar meski hanya sejenak?” tanya Gus Mut.

Fanshuri tertegun tidak menjawab.

“Karena Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun meluruskan Firaun dengan cara yang baik, cara yang santun, cara yang bisa menyentuh hati. Bukan dengan mendatangi istana Firaun sambil marah-marah atau membawa pentungan untuk mengobrak-abrik. Dan karena cara ini, Firaun sempat beberapa detik tersadar,” kata Gus Mut.

“Tapi kan kita bukan Nabi Musa atau Nabi Harun, juga si Robi itu bukan Firaun, Gus!” potong Fanshuri.

“Tepat,” kata Gus Mut cepat.

“Justru karena kita tidak sebaik Nabi Musa atau sesaleh Nabi Harun, sedangkan kejahatan Robi tidak ada apa-apanya dibandingkan Firaun. Jangankan mengaku Tuhan, mengaku Nabi saja dia tidak. Untuk itulah kita sebaiknya tidak kasar ketika menegur orang lain jika dosa yang dia lakukan masih pada wilayah-wilayah pribadinya,” kata Gus Mut.

Fanshuri ingin membantah, tapi mulutnya terkunci karena bingung memulainya dari mana.