Jahiliyah Sebelum Era Nabi itu Bukan Situasi Kurang Ilmu, tapi Situasi Kurang Adab

Jahiliyah Sebelum Era Nabi itu Bukan Situasi Kurang Ilmu, tapi Situasi Kurang Adab

Jahiliyah Sebelum Era Nabi itu Bukan Situasi Kurang Ilmu, tapi Situasi Kurang Adab

MOJOK.COKang Yanto meresa kecewa dengan cara pesantren mendidik anaknya. Terutama ketika tahu bahwa ilmu matematika anaknya jeblok nilanya.

Kang Yanto masih tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya di hadapan Gus Mut. Apalagi Kang Yanto sadar anaknya cukup ketinggalan mengikuti pelajaran ketika menjadi santri di salah satu pesantren.

Ini sangat mengecewakan bagi Kang Yanto, soalnya sebelum masuk pesantren, anak Kang Yanto itu sering ranking tiga besar, tapi begitu masuk sekolah di pesantren prestasi itu menguap begitu saja.

“Gus, nyesel saya masukin anak saya ke pesantren,” kata Kang Yanto.

Gus Mut yang baru mengeluarkan secangki kopi lumayan terkejut dengan kalimat Kang Yanto.

“Lah kok nyesel? Memang kenapa, Kang?” tanya Gus Mut.

“Anak saya itu dulu termasuk yang terbaik di angkatannya sebelum di pesantren. Tapi begitu masuk pesantren nilai matematikanya jeblok. Padahal dulu dapat nilai 8 itu biasa banget, sekarang di rapot terakhir saya lihat dapat nilai 5,” kata Kang Yanto lantas menghela nafas. Ada rasa sesal yang berat di dadanya.

Gus Mut tersenyum mendengarnya.

“Lah memang motif Kang Yanto masukin anak ke pesantren buat apa?” tanya Gus Mut.

“Ya biar dia bisa pinter agama dong, Gus. Jadi kalau nanti saya mati, anak saya bisa doain saya, atau sepanjang saya hidup anak saya bisa makin bakti sama orang tuanya,” kata Kang Yanto.

Gus Mut semakin ingin terkekeh mendengar jawaban Kang Yanto.

“Lah terus kenapa sampean merasa menyesal, Kang?” tanya Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?” tanya Kang Yanto lagi.

“Ya kan penyesalan sampean itu tidak sinkron dengan motif sampean,” kata Gus Mut, “setidaknya sepanjang anak sampean mondok sampean belum mengeluhkan itu.”

“Ta, tapi kan kalau nilainya jeblok begini saya jelas khawatir dong, Gus. Ini pesantren gimana sih, nggak bisa bikin anak saya pinter,” kata Kang Yanto.

Gus Mut lagi-lagi tersenyum.

“Kang, kalau Kang Yanto ingin anaknya pinter matematika, seharusnya Kang Yanto masukin anak ke sekolah bergengsi, bukan malah ke pesantren. Itu sudah salah kaprah sejak awal. Di pesantren itu prestasi itu di awal-awal bukan begitu ngoyot dikejar,” kata Gus Mut.

Mendengar itu Kang Yanto tidak setuju.

“Loh, Gus Mut ini gimana sih? Masa ada orang tua berharap generasi penerusnya jadi lebih pintar kok nggak boleh? Perasaan kecewa itu kan normal, Gus,” kata Kang Yanto.

“Lagipula,” lanjut Kang Yanto, “kita sebagai orang Islam itu harus membekali generasi yang pintar-pintar. Nggak bisa kalau pemikiran kuno begitu dipertahankan. Bisa hancur peradaban Islam kalau mikirnya bodoh nggak apa-apa.”

Kali ini Gus Mut terkekeh betulan.

“Bukan begitu, Kang Yanto. Maksud saya itu, sampean terlalu sempit mikir kalau urusan kepintaran dan kecerdasan itu hanya pada pelajaran matematika doang. Urusan adab, urusan kesalehan, itu juga ada kecerdasannya masing-masing. Anak yang berbakti sama orang tuanya itu juga masuk kategori cerdas, jauh lebih cerdas daripada anak dapet beasiswa tapi melupakan kedua orang tuanya,” kata Gus Mut.

Kang Yanto terdiam sejenak, berusaha mencerna kalimat-kalimat Gus Mut.

“Lagipula di pesantren itu kan yang pertama diajarkan itu adalah hal-hal yang lebih erat kaitannya dengan akhlak, bukan soal ilmu-ilmu berat dulu,” kata Gus Mut.

“Ma, maksudnya, Gus?” tanya Kang Yanto.

“Ya anak itu diajari adab dengan gurunya, akhlak kepada temannya, atau bakti untuk orang tuanya dulu. Biar anak itu jadi orang baik dulu, bukan jadi orang pintar dulu,” kata Gus Mut.

“Lah, kok malah nggak ngajarin anak jadi pintar? Gimana sih sistem pesatren itu, Gus? Pantesan kita ketinggalan sama negara-negara maju,” tanya Kang Yanto.

“Karena negara kita itu nggak kekurangan orang pintar, Kang. Di negeri kita ini yang sangat kurang itu orang-orang baik. Terutama orang-orang baik yang pintar. Soalnya lebih bahaya itu kalau orang pintar tapi nggak baik. Kalau mau cari orang pintar di negeri ini mah banyak sekali, Kang. Tapi catet, kalau yang dicari cuma orang pintar doang lho ya,” kata Gus Mut.

Kali ini Kang Yanto terdiam.

“Masa jahiliyah sebelum era Nabi Muhammad menyebarkan Islam itu masyarakatnya bukannya kekurangan ilmu, Kang. Jahiliyah itu masa ketika banyak orang berilmu tapi tidak memiliki adab. Dan itu jauh lebih merusak ketimbang sebaliknya. Makanya itu ketika Nabi Muhammad mengajarkan Islam awal-awal, yang menjadi salah satu amunisi terbaik adalah akhlak Nabi sendiri,” kata Gus Mut.

“Maksudnya amunisi terbaik adalah akhlak Nabi itu apa, Gus?” tanya Kang Yanto.

“Ya sifat-sifat Nabi yang dikenal reputasinya nggak pernah bohong, selalu bisa dipercaya, tak pernah ingkar, selalu berkata benar… itu reputasi yang nggak sembarangan. Itulah kenapa ketika Nabi bilang mendapat wahyu dari Allah, orang-orang jadi berpikir ulang kalau mau menuduh Nabi mengarang soal wahyu-wahyu itu,” kata Gus Mut.

Kang Yanto kali ini memperhatikan dengan serius.

“Itu juga yang jadi sebab kenapa orang-orang Mekah yang menolak Islam disebut kafir, menutupi kebenaran, karena mereka sebenarnya punya pengetahuan yang cukup soal jejak-jejak kenabian Nabi Muhammad.

“Maksudnya, Gus?” tanya Kang Yanto.

“Hawong mereka ini pedagang, pergi ke negeri mana-mana, berinteraksi dengan banyak risalah dan tradisi kaum Nasrani dan Yahudi. Tahu soal azab umat-umat zaman dulu yang menolak Nabi. Dan mereka malah memilih ingkar dengan menggunakan kepintaran mereka. Dan inilah yang dimaksud dari jahil atau bodoh. Sudah punya pengetahuannya, sudah tahu, tapi malah dipakai buat ingkar. Itu kan bodoh sekali namanya,” kata Gus Mut.

“Oh, mungkin itulah kenapa banyak pesantren memakai cara itu ya, Gus? Membentuk akhlak santrinya dulu ketimbang membentuk otak santrinya dulu?” tanya Kang Yanto.

“Iya betul. Di pesantren kayak tempat anak sampean nyantri itu, anak sampean diajari untuk jadi orang baik dulu, begitu udah jadi anak yang baik, baru tuh ilmu-ilmu yang bisa bikin pintar dimasukin,” kata Gus Mut.

Kali ini Kang Yanto langsung merebahkan punggungnya ke kursi. Menerawang ke langit-langit teras rumah Gus Mut.

“Jadi gimana, Kang? Masih nyesel?” tanya Gus Mut sambil menyodorkan kopi yang sudah mulai dingin.

Kang Yanto menatap mata Gus Mut, menggeleng pelan, lantas dari ujung bibirnya muncul sebuah senyuman.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’.

BACA JUGA Apakah Surga Hanya untuk Orang Islam Saja? dan kisah-kisah GUS MUT lainnya.

Exit mobile version