MOJOK.COMas Is merasa terganggu dengan temen-temennya yang sok religius. Suka mengaitkan wabah saat ini dengan riwayat dalam agama. Cocoklogi, katanya.

Hape Gus Mut berdering, ada nomor Mas Is muncul di layar.

“Assalamu’alaikum, Mas Is. Iya, gimana?” kata Gus Mut.

“Wa’alaikumsalam, Gus. Gus Mut, lagi selo nggak?” tanya Mas Is.

“Wah, aku ini selo terus, Mas Is. Lagi di rumah aja ini selama dua minggu karena wabah penyakit ini. Gimana emang?” tanya Gus Mut.

“Gini, Gus. Temen saya di deket Kantor Kabupaten ada yang agak terganggu sama azan masjid di kampungnya,” kata Mas Is di seberang sambungan telepon.

“Terganggu gimana maksudnya Mas Is?”

“Lah itu tadi waktu duhur tadi ada kalimat azan yang diganti. Dari yang tadinya hayya ‘alas sholah (mari kita mengerjakan salat) diganti jadi shollu fi buyuutikum (salat lah di rumah masing-masing). Itu memang ada dalilnya? Masak hanya karena wabah sampai bikin redaksi azan berubah? Gitu kata temen saya” tanya Mas Is.

“Ya kan kita emang lagi diminta jangan kumpul-kumpul dulu. Lah wong daerah itu zona merah wabah kok,” kata Gus Mut.

“Iya, Gus, saya tahu itu. Tapi kan ya nggak perlu ganti redaksi azannya juga. Temen saya ini kan jadi merasa kayak ada ajaran baru. Kalau orang yang nggak ngerti kan bahaya, bisa aja ini dituduh sesat,” kata Mas Is.

“Ya bagus dong,” kata Gus Mut.

“Bagus gimana tho, Gus. Dituduh sesat kok malah bagus,” kata Mas Is.

“Ya bagus, karena jadi ketahuan mana orang yang pandangannya sempit. Lah wong, redaksi azan kayak gitu berasal dari riwayat Sahabat Abdullah bin Abbas yang berinisiatif, karena hujan lebat waktu itu, sehingga orang-orang nggak perlu ke masjid dulu. Situasi yang sebenarnya nggak bahaya-bahaya amat kok kalau dibandingkan sama situasi kita hari ini.  Lagian Allah tidak menjadikan agama ini sebagai kesukaran untukmu (Al-Haj: 78), Mas Is, jadi santai aja. Jangan jadi orang saleh amatiran lah,” kata Gus Mut.

“Oh, gitu ya, Gus. Oke, oke. Nanti saya jawab gitu deh kalau teman saya tanya lagi. Cuman gini juga, Gus, di sisi lain saya ini suka sebel aja sih sama temen saya ini, apalagi kalau ikhtiar kita sebagai manusia dikit-dikit dikaitin ke agama sama dia. Kalau soal azan, oke lah, itu domainnya sama-sama agama. Lah ini, ada aja orang kayak temen saya yang sebenarnya ngomongin hal yang nggak nyambung sama agama, tapi terus disambung-sambungin,” kata Mas Is.

Baca juga:  Kisah Nu’aiman dan Betapa "Woles"-nya Kanjeng Nabi

“Contohnya gimana, Mas?” tanya Gus Mut.

“Itu lho, kayak muncul pernyataan kalau ada hadis Nabi yang bisa masuk sama cara pencegahan wabah ini. Kayak hadis yang bilang jangan masuk ke sebuah negeri kalau ada penyakit di negeri tersebut, terus kalau wabah muncul dari tempat kita, kita dilarang meninggalkan tempat tersebut. Terus katanya Nabi udah meramalkan itu. Kayak disambungin aja gitu,” kata Mas Is.

“Ya bagus dong. Apa masalahnya?” kata Gus Mut.

“Bagus gimana, Gus? Itu kan cocoklogi aja. Kebetulan,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum.

“Oh, berarti kamu merasa bahwa hal itu nggak relevan gitu?” tanya Gus Mut.

“Iya, Gus. Itu kan hal umum yang diketahui oleh semua orang. Nggak perlu pakai hadis Nabi juga orang tahu hal kayak gitu,” kata Mas Is.

“Mas Is, kalau kamu ngomongin orang zaman sekarang mungkin kamu ngerasa itu bukan hal baru, tapi ketika Nabi Muhammad bersabda kayak gitu di abad ke-5, kira-kira pandangan kayak gitu terobosan atau bukan di eranya?”

Mas Is diam sejenak.

“Mas, jadi orang ‘alim juga jangan amatiran. Merasa berilmu, lalu apa yang masuk akal dari agama nggak mau dipakai, lalu jadi pengotak-kotakkan gitu. Mana yang ilmu agama mana yang ilmu dunia. Kalau memang ada banyak panduan atau riwayat dari agama yang cocok untuk menanggulangi persoalan dunia kayak gini, ya kenapa nggak dipakai kalau memang bisa dipraktikkan?” kata Gus Mut.

“Tapi kesannya jadi cocoklogi sok religius juga, Gus. Kayak nyambung-nyambungin wabah sama agama jadinya. Maksain dua bidang ilmu yang beda gitu kesannya,” kata Mas Is.

“Memangnya ada ilmu yang nggak saling mencocokkan. Coba aku dikasih tahu, satu ilmu aja yang nggak ada saling ada kaitannya satu sama lain?” tanya Gus Mut.

“Ilmu ekonomi, Gus? Bisa tuh berdiri sendiri” tanya Mas Is.

“Emangnya di ilmu ekonomi nggak ada ilmu matematika? Nggak ada ilmu sosialnya?”

“Yawis, ilmu matematika, Gus. Itu berdiri sendiri,” kata Mas Is.

“Kamu tahu ilmu matematika itu dari zaman dulu alias sejarah atau ujug-ujug kamu tahu ilmu itu? Lagian, memangnya kamu bisa memahami rumus dan angka itu dari apa kalau bukan karena kamu udah paham duluan ilmu bahasa berbentuk angka-angka?” tanya Gus Mut.

Baca juga:  Mereka yang Haramkan Tahlilan dan Shalawatan Mungkin Mengukur Diri Terlalu Tinggi

“Oh, ada dari sejarah sama ilmu bahasanya juga, sih,” kata Mas Is.

“Ya karena semua domain ilmu itu sebenarnya sifatnya saling melengkapi. Saling menyempurnakan. Saling sokong. Ada yang nggak nyambung secara langsung, ada pula yang emang udah nyambung.”

Mas Is terdiam sejenak. Gus Mut melanjutkan.

“Kalau mau dicari lebih dalam, ada banyak lagi riwayat yang benar-benar masuk soal wabah kayak gini. Kayak hadis soal kebersihan adalah sebagian dari iman atau berkah terbaik makanan terletak pada mencuci tangan sebelum dan sesudahnya. Dua riwayat yang sama dengan anjuran dokter bahwa untuk meminimalisir penyebaran penyakit, kita dianjurkan jaga kebersihan,” kata Gus Mut.

“Lah itu mah, tanpa tahu riwayat kan semua orang juga tahu, Gus. Nggak perlu juga dikasih tahu hadisnya,” kata Mas Is.

“Iya, sekarang kamu tahu, karena pengetahuan manusia sekarang sangat berbeda ketimbang zaman dulu. Tapi anjuran itu muncul ribuan tahun yang lalu, ketika ilmu kedokteran belum semaju sekarang lho. Hanya karena anjuran itu masuk dalam domain agama dan dilandasi pada situasi sosial di era itu, jangan lantas itu nggak bisa dipakai untuk menjawab persoalan kita sehari-hari saat ini…”

Mas Is terdiam.

“Akan tetapi, ngasih tahu orang itu juga beda-beda caranya, Mas Is. Ada yang lebih percaya sama penelitian riset kedokteran untuk orang kayak Mas Is, ada yang lebih percaya kalau ada dalilnya kayak temennya Mas Is. Untuk situasi kayak sekarang, apapun caranya, asal sesuai dengan arahan orang ‘alim di bidangnya, semuanya baik aja, Mas. Karena pengalaman orang itu beda-beda, jadi cara ngasih tahunya bisa pakai cara yang beda-beda pula,” kata Gus Mut.

“Iya sih, Gus… Cuma kan sekarang itu kalau orang kasih dalil dari agama itu kesannya kayak dogmatis banget gitu. Nggak boleh dipikir dulu, nggak boleh didebat. Harus diimani aja gitu,” kata Mas Is.

“Ah kata siapa,” kata Gus Mut. “Lah wong berulangkali Allah itu berfirman agar hamba-Nya ini nggak cuma beriman aja kok, tapi juga disuruh mikir. Soalnya kalau berilmu tanpa kesalehan bisa bikin nyasar, orang saleh tanpa ilmu bisa bikin kasar, Mas Is.”

Dari seberang, Mas Is tersenyum mendengarnya.

BACA JUGA Aku Islam Maka Aku Berpikir atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.