MOJOK.COAzan asar di sebuah kampung kok baru berkumandang jam 4 sore, wah, apa-apaan ini? Ada aliran sesat baru ya?

Mas Is menceritakan sebuah kejadian aneh yang beberapa hari kemarin baru saja dialami. Ketika berkunjung ke rumah saudara sepupu jauhnya di kampung, Mas Is merasa ada aliran baru yang mengkhawatirkan dari masjid di sana. Oleh karena itu Mas Is merasa perlu konsultasi dengan Gus Mut.

“Saya sih curiganya mereka aliran sesat, Gus,” kata Mas Is.

Gus Mut agak terkejut mendengar Mas Is dengan entengnya menyebut aliran sesat.

“Dari mana kamu bisa simpulkan perkara itu? Sampai langsung bilang aliran sesat begitu?” tanya Gus Mut.

“Soalnya, aneh banget. Azan asar itu kan biasanya jam 3, tapi di masjid kampung sepupu saya itu azannya jam 4 sore. Bahkan kadang-kadang sudah mau setengah 5. Itu kan aneh. Waktu asar kan jam 3,” kata Mas Is.

“Ah, kata siapa azan asar harus jam 3?” Gus Mut bertanya balik.

“Lah kan memang begitu, Gus. Di masjid kampung kita kan biasanya jam 3. Kadang kurang dikit, kadang lebih dikit,” kata Mas Is.

Gus Mut cuma tersenyum.

“Waktu salat itu nggak ada urusannya dengan jam berapa, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Ya harus ada urusannya dong, Gus. Kalau nggak ada patokan jam, kita mau pakai patokan apa dong?”

“Patokannya ya waktu,” kata Gus Mut.

“Lah kan iya, patokan waktu itu kan cuma bisa kita lihat dari jam,” kata Mas Is.

“Siapa bilang patokan waktu cuma dari jam doang. Jam itu kan cuma salah satu cara buat manusia aja. Waktu salat itu patokannya waktu matahari, bukan waktu dari jam,” kata Gus Mut.

“Lah, memang begitu ya?” tanya Mas Is.

“Memang Mas Is itu tahunya waktu asar itu cuma dari jam doang?” tanya Gus Mut.

Mas Is cuma mengangguk pelan.

“Mas Is, waktu asar itu adalah ketika bayangan yang muncul di sebelah area Timur, lalu bayangannya sama ukurannya dengan tinggi bendanya. Jadi, kalau Mas Is—misalnya—tingginya 1,7 meter, kok di sebelah Timur Mas Is muncul bayangan yang tingginya sama kayak Mas Is, nah itu berarti waktu asar sudah tiba,” terang Gus Mut.

“Oh, berarti nggak perlu nunggu azan asar dulu?” tanya Mas Is.

Baca juga:  Mal di Jakarta dengan Masjid dan Musala Terbaik

“Ya nggak perlu kalau bisa memastikan sendiri. Azan itu kan untuk memanggil orang salat ke masjid, sekaligus sebagai penanda waktu saja. Persis kayak kita melihat jam. Sebagai penanda waktu. Bukan waktu itu sendiri. Lagipula azan itu kan juga biar kita nggak perlu repot harus dikit-dikit keluar rumah untuk ngecek bayangan,” kata Gus Mut.

“Lah, kemarin waktu di kampung sepupu saya itu, saya yakin betul kalau waktunya itu sudah asar, Gus. Ya jam 4 kan sudah pasti melebihi waktu asar kan?” tanya Mas Is.

“Ah kata siapa melebihi?” tanya balik Gus Mut.

“Ya kan harusnya azannya sebelum itu,” kata Mas Is.

“Bukan ‘harus sebelum itu’, Mas Is. Melainkan ‘bisa sebelum itu’. Pilihan katamu itu bisa berbahaya lho,” kata Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?”

“Ya kalau Mas Is bilang ‘harus’, berarti sesuatu yang di luar keharusan itu bakal jadi kena salah, tapi kalau pakai kata ‘bisa’ ya artinya belum tentu salah,” kata Gus Mut.

“Berarti Gus Mut mau bilang kalau masjid di kampung sepupu saya itu bukan aliran sesat ya? Wah, nggak bisa, Gus. Itu aneh banget kok. Mereka yang jamaah saja pada baru balik dari lading, pakaian masih pada kotor kena tanah gitu, terus di tempat wudu pada mandi-mandi gitu,” kata Mas Is.

“Nah, berarti itu alasannya, Mas Is. Azan di kampung sepupumu itu baru jam 4 karena memang semua masih pada kerja di ladang. Kalaupun azan jam 3—misalnya—bisa jadi malah nggak ada yang datang, lha wong masih pada kerja di ladang semua,” kata Gus Mut.

“Ta, tapi kan, tetep nggak bener itu, Gus. Masa urusan akhirat dikalahin sama urusan dunia,” kata Mas Is.

“Kerja di ladang itu juga bisa masuk urusan akhirat lho, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Kok bisa, Gus?”

“Soalnya kewajiban mencari nafkah itu juga ada. Dan itu termasuk kewajiban bagi kepala keluarga juga. Lagipula walau mereka kerja begitu, mereka tetap tidak sedang meninggalkan salat. Waktunya asar ya masih sempat ke masjid,” kata Gus Mut.

“Tapi kan telat,” kata Mas Is.

“Kata siapa telat?” tanya Gus Mut.

“Lah itu? Harusnya jam 3 kok azan masjidnya telat jadi jam 4?” kata Mas Is lagi.

Gus Mut cuma tersenyum mendengarnya.

Baca juga:  Mencuri Sandal di Masjid, Cerita Tanah Muna

“Ya bukan telat dong, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Lantas?”

“Kalau telat itu, salat asarnya sudah masuk waktu magrib. Masih waktu asar kok kamu bilang telat. Tidak awal waktu, itu lebih tepat. Tapi kan memang waktu asar itu tersedia lumayan lama sampai datang waktu magrib. Waktu sepanjang itu boleh saja kamu gunakan untuk salat asar. Lebih utama memang awal waktu, tapi kalaupun ternyata nggak bisa juga nggak apa-apa. Nah, warga kampung sepupumu itu sudah benar, lha kok malah kamu labeli pakai aliran sesat segala lagi,” kata Gus Mut sambil geleng-geleng.

Mas Is hanya terdiam. Masih kurang puas sepertinya.

“Mas Is, Islam itu sebenarnya gampang asal jangan digampangkan. Dulu itu zaman beberapa tahun usai Nabi Muhammad wafat dan beberapa sahabat masih hidup, pernah ada kejadian seorang sahabat keluar dari salat jamaah dari masjid karena mengejar untanya yang kabur. Akhirnya si sahabat ini harus masbuk karena ngejar untanya dulu.”

Mas Is masih memperhatikan cerita Gus Mut ini.

“Lalu oleh imam salat, yang kebetulan adalah tabi’in, generasi yang tidak tahu langsung kehidupan Nabi, langsung menegur. ‘Lihatlah orang tua ini, cinta dunia, padahal dia sahabat Nabi tapi lebih mendahulukan mencari unta daripada salat takbiratul ihram bersama imam’,” kata Gus Mut menirukan teguran tabi’in ini.

“Sahabat Nabi ini lalu menangis. Sedih. Kata sahabat yang ditegur tabi’in ini, ‘dulu aku di zaman Nabi yang seperti ini tidak apa-apa kok. Boleh ngejar untaku dulu kalau kabur. Lagipula rumahku jauh sekali dari masjid. Kalau unta kabur, aku pulangnya gimana?’,” kata Gus Mut bercerita.

Mas Is masih terdiam menyimak.

“Riwayat ini hikmahnya kayak masalahmu tadi itu, Mas Is. Kadang-kadang orang yang tidak menangi (baca: hidup bersama) Nabi merasa lebih tahu ketimbang orang yang hidup bareng Kanjeng Nabi. Sehingga malah bikin hukum-hukum sendiri yang kelewat ketat. Di era Nabi itu Islam itu gampang. Sekarang ini, bengkok sedikit langsung dicap salah. Ya kayak kamu ini, yang malah mudah saja melabeli sesuatu aliran sesat segala,” kata Gus Mut.

Mas Is terdiam sejenak, lalu cuma cengengesan mendengarnya.


*) Diolah dari pengajian Gus Baha’

BACA JUGA JARANG SALAT DI MASJID TAPI PROTES MASJID ANTI-BIDAH MAKIN BANYAK atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.