Dalam satu-satunya acara lulus-lulusan SD yang pernah saya ikuti, di hadapan para wali murid, wali kelas kami menanyai kami cita-cita satu per satu. Teman-teman saya menyebut dokter, insinyur, pilot, polisi, tentara, bahkan presiden. Saya dengan santai menjawab, “Saya kepengin jadi anak presiden, Bu Guru.”

Jadi, ketika akhirnya acara itu selesai dan teman-teman saya di luar kelas disambut orang tuanya dengan elusan lembut di kepala dan nasihat untuk rajin belajar supaya cita-cita mereka bisa tercapai, saya justru menggenggam erat tangan bapak saya dan berbisik pelan, “Mulai sekarang Bapak harus lebih rajin bekerja, ya ….”

Mungkin bapak saya satu-satunya orang yang menjawab “Gundulmu kui, Le” setelah dinasihati. Soalnya, sampai sekarang saya tidak berhasil mengingat ada teman saya yang menjawab, “Gundulmu kui, Pak.

Jadi presiden memang tidak mudah. Om Paloh berkali-kali ikut konvensi Partai Golkar dan belum pernah sekali pun berhasil, bahkan jadi capres pun belum. Om Prabowo dan Om Wiranto bernasib lebih baik, bisa berkali-kali mencalonkan diri walaupun masih belum berhasil jadi presiden.

Saya sadar kalau saya sudah memberi beban yang berat kepada bapak saya. Tapi hal itu justru membuktikan bahwa cita-cita menjadi anak presiden juga tidak kalah sulit. Bahkan mungkin lima sampai sepuluh kali lebih sulit daripada bercita-cita jadi presiden itu sendiri.

Tapi setelah melihat anak-anak lain yang berhasil meraih cita-cita yang sama dengan saya, jadi anak presiden itu, saya sadar bahwa bukan hanya cita-cita itu saja yang berat, melakoni jadi anak presiden itu adalah sebuah cobaan tanpa henti. Menggagas proyek mobil nasional, salah; memonopoli perniagaan cengkeh dan jeruk, salah; nyalon gubernur, salah; pakai baju tangan panjang melulu, salah; bahkan diam saja kayak Mbak Puan Maharani pun tetap salah!

BACA JUGA:  Negara Kesatuan Ormas Sweeping Republik Indonesia

Mas Gibran Rakabuming yang jualan martabak sudah pasti juga salah. Salah besar malah. Jualan martabak kan nggak keren babar blas, Mas.

Samar-samar saya ingat cerita bapak saya soal Pak Habibie yang didemo mahasiswa ketika berencana memulai industri pesawat terbang nasional. Beliau membandingkan harga sekilo satelit buatan NASA dengan sekilo beras yang sempat diekspor Pak Harto. Ya jelas mahalan satelit ke mana-manalah. Lha ini Mas Gibran malah jual martabak. Ada, gitu, martabak yang dijual kiloan?

Mas Kaesang Pangarep apalagi, malah mainan vlog di Youtube (bukan Youtube Kalla). Kok ya mengikuti tren yang dibawa Young Lexx dkk lewat kredo Youtube Youtube Youtube lebih dari tivi (Boom!). Ya iyalah, gimana nggak lebih dari tivi, lha wong di situ Youtube-nya disebut tiga kali.

Harusnya Mas Kaesang bikin stasiun tivi sendiri dong. Nanti video Youtube-nya bisa disiarkan di tivinya sendiri. Tiap hari. Kayak marsnya Om Hary Tanoe itu, lho.

Kalau mau ngasih motivasi, kalau punya tivi sendiri kan lebih enak, Mas. Kalau Pak Mario Teguh punya acara Mario Teguh Golden Ways, Mas Kaesang bisa bikin acara Jalan Emas Kaesang untuk menandinginya. Atau dikasih nama Jalan Tol Kaesang, supaya sesuai dengan program kerja sang ayahanda.

Kalau sudah punya program tivi sendiri, Mas Kaesang juga lebih nyaman ngasih nasihat soal moral. Nggak kayak di Youtube yang rentan kena perkara.

Tapi hal seperti ini sepertinya bisa dimaklumi oleh seluruh rakyat Indonesia. Mas Gibran dan Mas Kaesang kan baru sekali ini jadi anak presiden. Bandingkan dengan Mbak Tutut dan Mas Tommy yang jadi anak presiden selama 32 tahun. Atau Mas Agus dan Mas Ibas yang jadi anak presiden selama dua periode. Mbak Puan mungkin memang baru satu kali jadi anak presiden dan itu sebentar, tapi jangan lupa kalau beliau sudah jadi cucu presiden sejak dalam kandungan.

BACA JUGA:  Curhat buat AA Raffi dan Teh Gigi

Walaupun saya akhirnya tidak berhasil meraih cita-cita saya jadi anak presiden, izinkan saya memberitahukan satu hal kepada Mas Gibran dan Mas Kaesang: ketika seseorang jadi anak presiden, hidup akan sesulit membalik telapak tangan Mike Tyson. Begini salah, begitu salah. Bahkan Mas Kaesang dalam waktu dekat harus bolak-balik ke Bekasi buat ngurusin kasus hukumnya cuma gara-gara video Youtube.

Mana Bekasi jalanannya masih kayak gitu …. (Eh, udah dibenerin Pak Jokowi atau belum, Mas?)

Saya bisa kasih Mas Gibran dan Mas Kaesang nasihat di atas karena, jangan lupa, saya sudah bercita-cita jadi anak presiden sejak SD, Mas. Saya sudah menyusun konsepnya sejak Pak Harto masih berkuasa.

Soal kasus Mas Kaesang, soal penistaan agamanya, hadapi saja, Mas. Semua orang Indonesia tahu: kalau kasusnya penistaan agama, harus dihadapi. Bahkan kalau Markobar harus ganti nama jadi Mako Brimob sekalipun. Beda kalau kasusnya susila. Kalau itu, baru Mas Kaesang boleh mempertimbangkan langkah untuk melawan dari luar negeri.

Dari luar negeri sana nanti, kasih ultimatum Pak Jokowi, bapaknya Mas Kaesang sendiri: “Rekonsiliasi apa revolusi, Pak?!” Nanti lak bapak Mas Kaesang mengutip kata-kata bapak saya dulu: “Gundulmu kui, Le ….

Atau bapaknya Mas Kaesang punya kata-kata sendiri?

Misalnya: “Dipanggil polisi kok lari? Ndeso!”

Komentar
Add Friend
No more articles