Dari Dodit Mulyanto, selain mendapatkan hiburan, saya sering mendapatkan pelajaran berharga tiada tara. Misalnya rahasia menaklukkan hati Deasy Bouwman yang saya pikir sangat penting. Tips dan trik Dodit itu bisa dilihat di acara Bukan Empat Mata yang dipandu Oom Tukul edisi tanggal 6 Januari, dan dijabarkan oleh akun yang menamakan dirinya Indo Hits 1989 di youtube dot com (tentu bukan Oom Yutub Kalla —saya tidak seberani Bang Ruhut Sitompul yang memanggil beliau ‘Daeng’—wakil Pak Joko).

Dari yang dilakukan Dodit inilah, saya kira Pak Joko bisa belajar banyak kalau tidak mau terjerembab ke dalam lembah nista, menjadi jomblo karena ditinggalkan pendukungnya dan diamuk rekan-rekan separtainya hanya karena salah dari segi cara dalam memilih calon kapolri.

Berikut langkah-langkah yang dilakukan Dodit untuk meremuk-redamkan, meluluh-lantakkan, hati Dik Deasy sekaligus kesalahan yang dilakukan oleh Pak Joko:

1. Kasih harapan.

 “Saya pilih-pilih, saya pilih kamu.” ~ Dodit Mulyanto.

Ketika semua jahanam yang berdiam di dalam kotak pandora terbang tak tentu arah, hanya satu yang masih tertinggal di sana: harapan. Dodit jelas sudah membuang hal-hal buruk yang bisa dipilihnya ketika mengatakan ‘pilih-pilih’ dan menyisakan satu hal saja ketika menyambungnya dengan ‘saya pilih kamu’ untuk Dik Deasy: harapan.

Bapak Budi konon adalah mantan ajudan Tante Mega dan sejarah membuktikan bahwa nasib mantan ajudan presiden memang selalu baik. Sebutlah Try Sutrisno yang sempat mencicipi jabatan wakil presiden, atau Wiranto yang menjadi panglima TNI, atau Dibyo Widodo, Sutanto, bahkan Sutarman yang semuanya sempat merasakan jabatan kapolri.

Harapan untuk Bapak Budi itu ada, tapi Pak Joko bukan Tante Mega apalagi Oom Paloh (di sinilah orang-orang sering tergelincir sehingga semua analisa akhirnya terdampar pada dua nama tadi dan lupa kalau kesalahan itu bisa dilakukan oleh Pak Joko sendiri). Pak Joko tidak terang-benderang melakukan ‘pilih-pilih’ seperti Dodit sebelum akhirnya memutuskan untuk ‘pilih kamu’.

Inilah kesalahan Pak Joko yang pertama.

2. Langsung tembak.

“Dik Deasy, lihat aku, kamu mau nggak jadi pacar aku?” ~ Dodit Mulyanto.

Para jomblo seringkali melupakan sabda Lao Tzu, orang tua dari Cina, yang membuat mereka tetap menjomblo sampai SBY mengeluarkan album kedua, sampai SBY terpilih kembali jadi presiden, bahkan sampai SBY meluncurkan album keembat dan digantikan oleh Pak Joko: ‘perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil, perkawinan puluhan tahun dimulai dari satu kali nembak’.

Keengganan untuk nembak, bertanya langsung muka dengan muka dengan orang yang disukai, ternyata juga diidap oleh Pak Joko dan tepat di sinilah Pak Joko melakukan kesalahannya yang kedua.

Nembak bukan hanya perkara bertanya, bukan hanya soal mau atau tidak mau, tapi dia adalah memandang, menatap mata lawan bicara—dalam hal ini orang yang disukai—karena mata adalah jendela hati. “Lihat aku,” kata Dodit dan dari sinilah Dodit bisa memperkirakan reaksi Dik Deasy selanjutnya agar bisa diantisipasinya, diteruskan atau tidak. Dari mata inilah Pak Joko seharusnya bisa menilai sekaligus mengantisipasi reaksi Bapak Budi. Dicalonkan oleh orang lain, oleh Kompolnas, jelas mengulangi kesalahan Sitti yang dipilihkan jodohnya oleh Pak Nurbaya, sebuah kesalahan yang tragis terlebih karena sekarang sudah bukan zamannya lagi.

3. Jangan lupa, tebar pesona…

“Tiga tahun saya ngajar geografi, dua tahun ngajar musik, terus disuruh teman untuk stand-up (comedy), kemudian saya masuk tivi.” ~ Dodit Mulyanto.

Inilah era narsisisme yang meningkahi era digital, di sini hampir semua orang punya akun media sosial dan hampir semuanya narsis. Lupakan kenyataan bahwa Narcissus akhirnya mati kecemplung kolam ketika sedang mengagumi wajahnya sendiri, narsisisme sendiri bolehlah disebut –meminjam kata-kata Winarko dalam blog IndoZizekian–  ‘tergantung pada tatapan liyan.’

Dodit Mulyanto, seperti dikatakannya sendiri, memulai karirnya dari bawah, dari menjadi guru—tiga tahun mengajar geografi dan dua tahun mengajar musik—lalu mulai dikenal ketika mengikuti ajang pencarian bakat pelawak berdiri di salah satu stasiun televisi swasta. Dodit tahu betul bahwa narsisisme bukan melulu tentang dirinya sendiri, tapi juga tentang pandangan orang lain terhadap dirinya. Perasaan superior, kuasa atas orang lain, itulah yang sejatinya sedang dibangunnya.

Karir Pak Joko nyaris mirip dengan Dodit, tujuh tahun jadi walikota di Sala, dua tahun menjabat gubernur Jakarta, dan akhirnya menjadi presiden di negara yang rakyatnya tidak jelas, Indonesia. Sayangnya, beliau tidak narsis, tidak menegaskan kuasanya, sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan ketika ingin memilih kepala dari salah satu korps—selain TNI—yang bebas menenteng senjata ke mana-mana.

…sekaligus promo.

“Sekarang saya masih jomblo.” ~ Dodit Mulyanto.

Orang Italia adalah sebagian dari orang yang percaya bahwa cara menyerang terbaik adalah dengan bertahan, karena itu mereka menciptakan posisi libero dan sistem permainan gerendel dalam sepakbola. Pak Joko, seperti semua orang tahu, adalah pemain bertahan terbaik. Ketika menjabat sebagai gubernur Jakarta, semua fungsi menyerang diserahkan kepada Koh Ahok.

Beda pertahanan yang dibangun Pak Joko dengan pertahanan yang dibuat oleh Dodit Mulyanto, Dodit mengawalinya dengan menyerang, dengan memberi harapan, nembak, dan tebar pesona. Pak Joko tidak. Kalau Dodit adalah gerendel, maka Pak Joko adalah gerendel ganda dengan sistem kombinasi angka digital dan pemindai sidik jari dan retina.

Sistem gerendel bukannya tanpa lawan, dia mungkin tidak mampu diatasi oleh pesepak bola-pesepak bola dari Eropa Barat, tapi dia takluk di kaki pemain-pemain bola Eropa Timur yang terkenal spartan, yang dibesarkan di bawah gemblengan salju musim dingin yang panjang. Bapak Budi, yang dididik di bawah terik matahari kota Semarang, yang menolak panggilan komisi anti-rasuah, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi kespartanannya.

4. Manfaatkan kesempatan untuk meningkatkan chemistry.

Dodit tidak banyak bicara untuk meningkatkan chemistry dengan Dik Deasy pujaan hatinya, dia hanya diam dan sepenuhnya menggunakan bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh jelas bukan keahlian Pak Joko, beliau nyaris disemprit KPU ketika mengacungkan sepasang jarinya di acara pengundian nomor urut capres dan cawapres, bahkan beliau begitu kaku ketika tampil bersama Pak Prab—rivalnya—di acara deklarasi pemilu damai.

Bahasa tubuh nyaris sepenting bahasa lisan, karena itulah nembak begitu penting, selain untuk menatap mata dan merogoh hati orang yang disukai, dia juga berguna untuk membaca bahasa tubuhnya. Ketidakmampuan Pak Joko untuk membangun bahasa tubuhnya, menunjukkan calon kapolri yang disukainya atau tidak dalam bentuk simbol, inilah yang membuatnya berada dalam ancaman ditinggalkan relawan pendukungnya dan diusir rekan-rekan separtai pengusungnya. Meninggalkan Pak Joko dalam keadaan jomblo dan ngenes.

5. Perkenalkan kepada khalayak.

“Biar semua orang Indonesia tahu, nih lihat pacar baru saya.” ~ Dodit Mulyanto.

Tidak seperti Dodit yang dengan bangga memperkenalkan Dik Deasy sebagai pacar barunya, saya praktis sampai hari ini belum pernah mendengar sendiri Pak Joko mengumumkan calon kapolri pilihannya. Berita tentang disodorkannya nama Bapak Budi sebagai satu-satunya calon kapolri, sampai disetujui oleh DPR, semuanya saya baca dari media cetak dan media online. Tidak seperti kenaikan BBM yang langsung diumumkan oleh Pak Joko. Mungkin karena kapolri tidak bisa diangkat lalu diturunkan tepat dua bulan setelahnya.

Tidak adanya pengumuman langsung dari Pak Joko inilah yang membuat orang bebas berspekulasi dan menyusun teori konspirasinya sendiri-sendiri yang bermuara pada—lagi-lagi—nama Tante Mega dan Oom Paloh. Padahal spekulasi itu dekat dengan judi, dan seperti kata Bang Rhoma Irama –yang baru saja dilantik menjadi komisioner Lembaga Manajemen Kolekif Nasional– bahwa judi itu meracuni kehidupan dan keimanan dan karena perjudian, orang malas dibuai harapan. Persis seperti Dik Deasy Bouwman yang malas baca-baca mojok.co dan mengenal Gus Mul lebih jauh lalu mempertaruhkan masa depannya hanya karena buaian harapan dari Dodit Mulyanto.

Terakhir, mengomentari keriuhan pemilihan calon kapolri, Pak Joko sepertinya harus diingatkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan (walaupun sebenarnya saya sedang sebel sesebel-sebelnya sama Tuhan), tapi rakyat juga harus tahu bahwa Tuhan Maha Tahu tapi dia menunggu. Jadi rakyat, yang kata Pak Menteri tidak jelas, masih harus sabar menunggu.

Yang tidak jelas menunggu yang tidak jelas. Tentu ini bukan untuk menyindir Gus Mul.

No more articles