The electronics store is a dream killer.” ~ You Don’t Mess With The Zohan (2008).

Mahasiswa akhirnya bergerak. Mahasiswa seluruh Indonesia, yang diwakili oleh badan eksekutifnya –setelah satu hari menunggu hidangan istana “turun” sampai ke perut– akhirnya betul-betul merangsek turun ke jalan. Mereka berdemo mengepung istana dan menyelamatkan kekenesan kakak-kakaknya, angkatan ’98, yang ingin mengenang kejayaan masa mudanya dengan melihat pergerakan mahasiswa sekali lagi.

Yang paling bahagia dengan demonstrasi H+1 mahasiswa ini tentu saja adalah Kak Jonru beserta segenap jamaahnya. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa pemerintahan yang baru ini akan tumbang sekaligus mendudukkan idola Kak Jonru dan jamaahnya tadi, siapapun itu, di kursi presiden. Kak Jonru tentu tidak salah untuk menaruh harapan besarnya di pundak para mahasiswa, tidak ada harapan yang pernah salah.

Pertama, karena aplikasi e-demo—demo dari balik monitor komputer jinjing—yang diunduh Kak Jonru ternyata tidak berjalan sesuai keinginan Kak Jonru, terlalu banyak bug-nya, dan kedua, dari masa ke masa, pergerakan mahasiswa sendiri nyaris selalu menjadi pemantik perubahan di negara kita.

Saya sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan adek-adek mahasiswa yang masih menggemaskan itu, adek-adek mahasiswa yang rata-rata masih jomblo itu (sebagian jomblo karena memang belum punya pacar, sebagian lagi hanya belum sadar kalau pacar mereka hanya titipan dan akan diambil kembali oleh… jodohnya). Daripada mencemaskan mahasiswa-mahasiswa itu, saya justru sedang bingung memikirkan kakak-kakaknya, angkatan ’98 tadi. Lagipula, kalau kita mau sebentar saja berempati pada anak-anak sekolah kita, saya yakin kita akan membicarakannya dengan tangan di dada, mata terpejam, dan suara yang lebih syahdu.

Bayangkanlah mereka yang ketika berseragam putih-merah harus berjibaku menyeberangi jembatan Indiana Jones—sialnya, mereka bukan Harrison Ford sehingga bisa naik dan mencak-mencak di meja pejabat setingkat menteri—, lalu mereka yang putih-biru dijejali Ganteng-Ganteng Serigala dan Tujuh Manusia Harimau, lalu yang putih-abu-abu dibuat cemas dengan ujian nasional, dan setelah mendapat gelar maha, mereka malah dihadapkan pada satu pilihan: demo atau jadi pelacur. Kalau satu traktiran makan presiden dengan mudahnya bisa membuat seseorang jadi pelacur, Kak AA dan RA pasti sudah lama gulung tikar.

Delapan puluh… delapan puluh juta dan orang tidak habis pikir bagaimana ada orang rela menghabiskan uang sebanyak itu untuk layanan berdurasi tiga jam. Kalau kita fokus pada uangnya, tentu tidak habis keheranan kita, tapi dari kacamata jomblo, hal itu sederhana saja: itu masalah orang jelek, orang tampan tidak akan mengerti. Di situlah seharusnya kita bersyukur karena tidak mengerti.

Kembali kepada kakak-kakak angkatan ’98, tujuh belas tahun tentu bukan waktu yang pendek. Sebagian dari kakak-kakak itu tentu sudah jadi “orang” sekarang, jadi pejabat, berkeluarga, punya istri, gak jomblo lagi, bahkan mungkin punya anak, satu atau dua, atau mungkin tiga. Tapi tepat di sinilah masalahnya. Menjadi pejabat, masuk ke dalam sistem—ditambah “gak jomblo lagi”—adalah kuburan bagi mimpi-mimpi besar kakak-kakak tadi. Inilah toko elektronik Zohan, toko elektronik sang pembasmi mimpi.

Kakak-kakak tadi mungkin ada yang sudah jadi arsitek partikelir, lalu dengan semringah menerima job desain gedung baru DPR, lalu membela diri bahwa arsitek tidak ada urusan dengan politik. Atau ada juga yang jadi pegawai pajak, memanipulasi pajak, tertangkap, dipenjara, lalu menyamar jadi Gayus supaya bisa nonton pertandingan tenis di Bali. Atau jadi juru bicara presiden, lalu ketika semua orang prihatin karena pak presiden terlalu sering melamun bikin lagu, dia malah sibuk bertapa di Gunung Salak. Atau jadi juru bicara menteri tenaga kerja. Atau yang lain.

Intinya, kakak-kakak tadi sebagian besar sudah ada di dalam sistem, tapi alih-alih mengubah dari dalam, mereka justru menyerahkan tugas mulia itu kepada adek-adeknya, mahasiswa, yang sebagian besar masih jomblo tadi. Kakak-kakak angkatan ’98 tadi, sadar atau tidak, telah masuk ke dalam perangkap toko elektronik—untuk kasus Kak Jonru, mungkin itu adalah toko cat atau toko sprei.

Di titik inilah saya berani mengambil kesimpulan bahwa harapan terakhir Indonesia memang berada di pundak para jomblo. Jomblo bukan satu-satunya harapan, negara ini masih punya elemen lain yang juga bisa diandalkan: mamah-mamah.

Sadar atau tidak, selepas perdebatan yang terus didaur ulang setiap tanggal 21 April, tentang siapakah perempuan yang lebih berhak dirayakan hari lahirnya oleh negara, beberapa bulan ini berita-berita di media diisi oleh mamah-mamah atau setidaknya kaum hawa. Kita bisa mulai dari mamahnya Mbak Puan, Mamah Mega, yang menggelar kongres di Bali untuk memilih (lagi) dirinya sebagai komandan kawanan banteng.

Setelahnya ada Mamah Mary Jane Fiesta Veloso, mamah dua orang anak dari Filipina, korban jaringan peredaran narkoba, yang membelah negara kita jadi empat: Jokower pro hukuman mati, Jokower anti hukuman mati, Prabower pro hukuman mati, dan Prabower anti hukuman mati. Lalu ada mamah muda Pembayun yang diangkat jadi putri mahkota oleh Sri Sultan Hamengku Bawana Kaping Sepuluh.

Atau Kak Pam—untuk menyebut kaum hawa non-mamah-mamah—yang memamerkan sebagian tubuhnya di media sosial. Atau Kak AA yang malah pasang tarif selangit untuk tubuhnya. Atau Kak Tata Chubby yang tidak seberuntung Kak AA, dibunuh ketika berbisnis cuma gara-gara menyinggung masalah bau badan. Atau yang dilakukan laki-laki tapi targetnya tetap kaum hawa, tes keperawanan di korps ketentaraan misalnya (pak kumendan tentara pasti terinspirasi oleh Thio Bu Ki dari serial Golok Pembunuh Naga yang berhasil menguasai ilmu Matahari dengan sempurna karena masih perjaka lalu berpikir untuk menciptakan super-kowad atau super-wara).

Puncak dari kehebohan mamah-mamah dan kaum hawa ini adalah ditunjuknya sembilan anggota panitia seleksi komisioner komisi pemberantasan korupsi yang semuanya adalah mamah-mamah. Sembilan-sembilannya. Sontak para laki-laki di negeri ini tekejut. Yang tidak terkejut mungkin cuma dua orang, saya dan Pak Joko. Saya karena sudah meramalkan kalau harapan terakhir Indonesia ada di tangan jomblo dan mamah-mamah, Pak Joko karena dia yang milih (ya iyalah).

Seorang guru dari Perancis, Frederic Durant-Baissas, baru-baru ini menuntut facebook karena sudah memblokir akunnya karena memosting lukisan karya Gustave Courbet yang berjudul The Origin of The World di dinding fesbuknya. Lukisan perempuan telanjang dengan close-up di bagian vital itu tentu saja akan berhadapan dengan kebijakan fesbuk perkara pornografi. Tapi kalau kita renungkan maksud Courbet yang memberi judul lukisannya sebagai “asal-mula dunia”, mungkin Courbet ada benarnya.

Maksud saya dengan menceritakan kasus Durant-Baissas versus fesbuk itu adalah bahwa mamah-mamah harus diakui adalah sumber dari segala sumber. Pepatah Cina mengatakan, selama ada manusia, maka akan ada dunia persilatan; selama ada dunia persilatan, maka akan ada keributan. Mamah-mamah adalah asal-muasal semua manusia. Bukan saya mau bilang kalau mamah-mamah adalah biang keributan, tapi kalau dunia ini sudah terlalu hiruk-pikuk, maka tidak ada yang lain yang bisa memadamkannya selain mamah-mamah.

Komisi pemberantasan korupsi yang sudah diacak-acak oleh trio 3B (dua Budi dan satu Badrodin) dari kepolisian, meninggalkan dua hal: pesimisme terhadap agenda pemberantasan korupsi dan keributan yang tidak ada habisnya di antara dua institusi penegak hukum itu. Popularitas Pak Joko yang jadi andalannya tidak bisa dikais-kais sisanya hanya dengan membagi-bagikan sepeda kepada tetangga-tetangga saya, eh, maksud saya, dengan membagi-bagikan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar di Batu.

Pak Joko hanya bisa ditolong kalau dia mau kembali ke jalan yang benar. Memadamkan keributan antara KPK dan polisi, mungkin inilah spesialisasi sembilan mamah-mamah tadi. Membangkitkan optimisme pemberantasan korupsi, tentu harus dilihat hasil pilihan mamah-mamah tersebut. Tapi tidak kurang mantan penasihat KPK, Opa Hehamahua, meragukan sembilan mamah-mamah itu dan mengatakan bahwa kiamat sudah dekat. Opa Heha percaya bahwa “barangsiapa yang menyerahkan urusan pemerintahan kepada perempuan, maka tunggulah kehancurannya.”

Saya tidak akan mendebat pendapat Opa Heha karena itu keyakinannya, saya cuma bisa menyarankan Opa Heha untuk sekali-sekali mencoba tidur bareng Pak Sultan karena Pak Sultan juga merasa mendapat dawuh dari Tuhan ketika mengangkat mamah muda Pembayun jadi putri mahkota. Siapa tahu dengan tidur bersama mereka berdua bisa memperoleh mimpi yang sama, bertemu Tuhan lalu bisa bertanya yang mana yang sebenarnya perintah-Nya.

Jadi inilah keadaannya sekarang, Indonesia sedang galau menyerahkan nasibnya ke tangan mahasiswa—yang sebagian besar masih jomblo—dan sembilan orang mamah-mamah. Yang satu mengingatkan dari luar, satu lagi bekerja dari dalam, dua hal yang tidak dilakukan oleh kakak-kakak angkatan ’98 yang sudah terperangkap di dalam toko elektronik. Atau toko cat. Atau toko sprei.

No more articles