Pak Menteri Anies Baswedan mungkin sedang lebay ketika melakukan inspeksi mendadak lalu memerintahkan anak-anak SMA di Tangerang untuk melepas semua atribut ospeknya. Anies Baswedan mungkin tidak tahu kalau sebelum Pak Felix Siauw mengumandangkan ‘khilafah solusinya’ untuk semua masalah, negeri ini dari dulu sudah punya formula yang sama ajaibnya: baris-berbaris. Untuk kasus anak sekolah dan mahasiswa, dia ditambah dengan atribut-atribut bodoh dan tugas-tugas konyol.

Orang boleh saja mengira-ngira kalau ospek ini sudah ada sejak zaman Holanda, dari STOVIA, dan ITB waktu masih  pakai nama Technische Hoogeschool, sebuah kegiatan sinyo-sinyo Belanda untuk mengerjai anak pribumi seperti Soetomo atau Bung Karno, misalnya, walaupun tidak ada catatan yang jelas soal ini. Yang jelas, kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 50-an, yang menjadikan nyaris tidak ada penduduk Indonesia—yang berumur 17 tahun ke atas dan pernah kuliah—yang belum pernah diplonco.

Saya malah curiga kalau sebenarnya ospek-ospekan di kampus dan sekolah-sekolah itu justru dipopulerkan sekaligus disponsori oleh Pak Piye-Le-penak-jamanku-tho? Soalnya, waktu Bapak itu mendaki jalannya untuk jadi presiden, baris-berbaris adalah rumus universalnya yang paling ampuh. Dengan bantuan Pak Sarwo Edhie, Bapak itu memaksa ratusan ribu sampai jutaan orang yang dituduh PKIkader PKI, simpatisan PKI, pernah temenan sama PKI, pernah kepleset nyebut PKI, cuma dikira PKI, sampai yang gak tahu apa-apa soal PKI tapi punya palu-arit di rumahnya—berbaris entah ke mana sampai gak pulang-pulang.

Baris-berbaris yang mengantarkan Pak Jenderal yang murah senyum itu jadi presiden (lama lagi…) ketemu dengan ospek-ospekan kampus. Cocok.

Maka dimulailah era penataran P4 yang satu paket dengan baris-berbaris ospek-ospekan. Tentara mulai rajin ngampus dan sekolah, mulai dari ngasih materi penataran sampai jadi dosen atau guru Pancasila atau Bela Negara, atau jadi pelatih untuk kegiatan apapun yang butuh baris. Sialnya, setelah ditinggal tentara, kakak-kakak senior itu ketularan galaknya. Apesmu, adek-adek junior…

Tapi gini, waktu Anies mengeluarkan instruksi untuk menghentikan kegiatan ospek, beliau pasti juga lagi lupa kalau baris-berbaris, pada tahun 2011, pernah menjadi formula ajaib untuk mengakhiri paceklik juara umum di ajang Sea Games. Para atlet dibina khusus oleh Kopassus di Batujajar. Di sana, atlet-atlet itu diajak main tentara-tentaraan, mulai dari baris-berbaris (baris-berbaris lagi…), halang-rintang, sampai jurit malam. Hasilnya cukup menggembirakan, Indonesia meraup 182 keping medali emas dan jadi juara umum (lupakan fakta bahwa Sea Games 2011 dihelat di Indonesia dan dua tahun kemudian, ketika diadakan di Myanmar, formula yang sama tidak terlalu manjur dan Indonesia cuma menempati posisi keempat).

BACA JUGA:  Melantik Separuh Jakarta

Ada yang bilang kalau baris-berbaris adalah pelajaran dasar membunuh. Agak lebay juga sih, kan latihan militer bisa menumbuhkan karakter yang kuat dan nasionalisme. Tidak kurang Pak Joko, presiden kita yang sekarang, juga bilang gitu, “Jangan hanya tahunya cuma FB, Twitter, Instagram, dan Path,” kata beliau. Walaupun menurut saya, baris-berbaris itu tidak ada hubungannya dengan nasionalisme, dia cuma ajang pelampiasan supaya orang bisa kelihatan kayak tentara.

Sepertinya ada cinta yang tidak tuntas antara kita dengan tentara. Semacam gejala kesulitan untuk move-on. Semua orang, dari Pasar Turi sampai Turki, tahu kalau cinta bukan ilusi. Cita-cita reformasi yang mengusung jargon supremasi sipil yang nyatanya tidak seindah musim cherry membuat cinta lama orang-orang kepada tentara dan hal-hal yang berbau militer bersemi kembali. Yang paling jelas ya waktu Pak Prabowo saingan sama Pak Jokowi pas pilpres kemarin. Berapa banyak orang yang tadinya memuji Ahmadinejad dan memuja Jose Mujica, presiden yang katanya termiskin di dunia itu, yang lalu berpaling pada sosok dengan baret, kuda, dan emblem-emblem kemiliteran?

Tapi tenang saja, bukan cuma Pak Prabowo yang masih kepingin jadi tentara, waktu KPK berkonflik dengan polisi, orang-orang juga sempat ramai mewacanakan untuk merekrut penyidik dari korps baju hijau. Itu, Ahok, gubernur jagoan semua orang, malah mau mengganti satpol PP sama tentara. Bahkan komandan polisi seluruh Indonesia pun tidak percaya dengan kemampuan anak buahnya sendiri, sampai-sampai minta anak buahnya dilatih tentara juga. Jangan-jangan, MUI, kalau terus bikin bingung masyarakat dengan fatwa-fatwanya, bisa-bisa nanti diganti sama tentara juga.

Begini, Mas dan Mbak senior, jangan sewot dulu. Jadi tentara tentu bukan dosa. Yang dosa itu kalau bukan tentara tapi sok-sokan jadi tentara. Lha wong yang tentara saja kalau sok-sokan juga dosa kok. Apa nggak aneh, di negara yang katanya pancasilais, Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila-nya bisa dihapus, tapi kok ospek-ospekannya gak bisa? Mungkin begitu pertanyaan lebay Pak Menteri Anies waktu nyuruh anak-anak SMA melepas atribut ospeknya.

BACA JUGA:  Menuju Jakarta Syariah dengan Menolak Pajak Haram

Yang jelas begini, Anies Baswedan mungkin memang lupa kalau main tentara-tentaraan pernah bikin Indonesia juara umum Sea Games, atau baris-berbaris pernah membawa seseorang jadi presiden selama 32 tahun, tapi Pak Menteri pasti tidak lupa pada Awaluddin, mahasiswa Unhas; Dwi Yanto, mahasiswa ITB; Cliff Muntu di STPDN, Fikri Dolasmantya Surya di ITN, bahkan pada Anindya Ayu Puspita, siswi SMK di Bantul—untuk menyebut beberapa saja—yang semuanya meninggal dunia ketika atau beberapa hari sehabis ospek.

Ya, yang bersalah memang sudah dihukum. Tapi apa nggak brengsek kalau guru-gurunya, dosen-dosennya, kepala sekolahnya, rektornya, yang cuma bermodal alibi-tidak-tahu bisa bebas dari hukuman? Brengseknya dua kali malah: membuat anak orang tidak bisa lagi nonton sambil nyanyi soundtrack-nya Cinta di Musim Cherry, sinetron impor dari Turki—negeri Om Erdogan, presiden idola baru kader PKS—sekaligus membikin yang lain dikeluarkan dari sekolah atau meringkuk di dalam bui.

Sudahlah, Mas dan Mbak senior, Pak Kepala Sekolah dan Pak Rektor, membangun karakter dan nasionalisme tidak mesti pakai baris-berbaris, menjalin kemesraan senior dan junior juga tidak perlu pakai mengukur pisang sampai segitunya. Yang penting ada dua hati yang saling isi, maka dengan begitu daun bisa menari dan alam jadi saksi kalau sekolah atau kuliah memang seindah musim cherry.

Baris-berbaris dan main tentara-tentaraan bukan satu-satunya solusi, malah bukan solusi sama sekali.

No more articles