Gus Sufi mengadakan Open House. Ia membuka gerbang lebar-lebar. Siapa pun leluasa datang dan makan-minum santai di pendapa rumahnya. Ada yang memang tetangga, ada handai-taulan dan kawan lama, ada pula orang-orang yang baru mengenalnya melalui media sosial.

Ya, silaturahmi hari-hari ini tak cuma dari pergaulan nyata, tapi juga dari pertemanan maya. Siapa teman siapa menjadi teman siapa yang juga teman siapa yang ternyata teman siapa.

Tapi, bukan Kang Soleh kalau tak suka mencuri perhatian. Sambil tangannya tak berhenti-henti merogoh toples dan meraup kacang telor, ia terus-menerus mengomentari isu paling panas. “Saya setuju itu. Setuju dengan komentar juri di kontes dai tadi malam. Coret Islam Nusantara. Islam ya Islam, tidak pakai Nusantara,” serunya.

Gus Sufi cuma tersenyum ringkas, lalu menyela,”Lalu pakai apa dong?”

Kang Soleh langsung menyahut, “Pakai rahmatan lil  ‘alamin!”

Menurut Kang Soleh, mengutip juri di kontes dai di salah satu televisi nasional itu, Islam Nusantara tidak ada dalilnya. Yang ada: Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad), kecuali (untuk) menjadi anugerah bagi alam semesta. Ayat 107 dari Al Qur’an Surat Al Anbiyaa’ itu dalil tentang misi kerasulan Muhammad,” jelas Gus Sufi. Orang-orang menjadi semakin berkerumun ketika Gus Sufi mulai mendalil. Jarang-jarang ia begitu.

“Contoh Muhammad SAW sebagai anugerah bagi alam semesta itu dia berdakwah sesuai bahasa kaumnya. Bukan pakai bahasa asing,” kata Gus Sufi. Itu yang pertama.

Yang kedua, Muhammad memahami kearifan lokal. Misal, berbuka puasa dengan yang manis.

“Untung korma. Coba contohnya berbuka puasa dengan tebu, gulali, puding, klepon, atau yang manis yang tidak dipunyai orang-orang Arab waktu itu, susah mereka mendapatkannya.”

Jadi, masih menurut Gus Sufi, Islam ya memang Islam. Tanpa embel-embel apa pun. Jika lalu muncul Islam Nusantara, atau Islam Arab, Islam Meksiko, Islam Australia, dan lain-lain sesuai kondisi sosial dan budaya masing-masing, itu bukan berarti ada Islam baru.

“Mau Islam korma, atau Islam klepon, atau Islam gulali, ya tetap saja Islam. Dengan kebudayaan, kita membumikan ajaran langit,” terang Gus Sufi.

Lagipula, puasa bukan ibadah khas Islam, melainkan ibadah yang sudah mentradisi, yang Allah perintahkan pula pada orang-orang sebelum umat akhir zaman. Dan, sesuai Q.S. Al Baqarah ayat 183, syarat puasa adalah memiliki iman.

“Puasa itu dari kata Upawasa. Dari bahasa Sanskrit yang bermakna menutup. Oleh karena itulah, kita di sini mengenal istilah buka puasa. Bukber, buka bersama, khas Islam Nusantara,” jelas Gus Sufi sambil mencomot klepon.

“Tapi, Islam Nusantara itu nabinya siapa? Mau mengganti syariat? Mau jadi agama baru?” sergah Kang Soleh.

“Sampeyan keranjingan media sosial ya, Kang?” tukas Gus Sufi.

“Lho, tapi untung ada juri yang berani bersuara, mengingatkan kita pada bahaya Islam Nusantara!” seru Kang Soleh.

“Juri apa tho, itu?” ujar Gus Sufi.

“Itu lho, Gus, ada acara kontes dai di televisi,” sahut seorang tetangga.

“Oo.. Kontes dai itu juga khas Islam Nusantara. Tidak ada dalilnya. Majelis taklim ya harus serius dan khusyu’. Tidak boleh bicara agama dengan gaya jenaka dan melucu. Di sana, dulu yang berani membanyol ya cuma Abu Nawas dan Nasrudin Hoja. Di sini, banyak. Pengajian-pengajian di sini tidak kaku, tidak searah. Bisa sambil guyon. Surga-neraka dibahas santai,” ujar Gus Sufi.

Menurutnya, Islam Nusantara bukan tentang teologi, melainkan lebih tentang sosiologi. Tentang akar tradisi dan kebudayaan kita sebagai bangsa. Sama halnya dengan Islam dan Arab adalah satu dan lain hal. Islam itu agama dan Arab itu bangsa beserta budayanya. Islam tidak selalu Arab dan Arab tidak selalu Islam. Pun demikian, Islam tidak selalu Nusantara dan Nusantara tidak selalu Islam. Apalagi, Nusantara bahkan memiliki asas Bhinneka Tunggal Ika.

“Jadi, Islam Nusantara itu Islam yang menerima keberagaman dalam keberagamaan. Laa ikraha fi ‘ddiin. Tidak ada paksaan dalam beragama,” tegas Gus Sufi.

“Tapi, Gus, kita kan harus berdakwah,” potong Kang Soleh.

“Justru itu. Wilayah kita pada proses, bukan pada hasil. Allah yang menentukan hasilnya. Kita yang berdakwah, Allah yang memberi hidayah,” jawab Gus Sufi.

“Tapi, Islam Nusantara itu nabinya siapa? Mau mengganti syariat? Mau jadi agama baru?” cecar Kang Soleh.

“Sampeyan Muslim, tapi kok curiga akan ada nabi setelah Muhammad SAW, sih, Kang? Mosok Gusti Allah mengingkari ketetapan-Nya sendiri?” jawab Gus Sufi woles.

Yang ketiga, lanjut Gus Sufi mengenai keteladanan Muhammad SAW, Sang Nabi Terakhir ini lebih memikirkan umat daripada dirinya sendiri.

“Cocok banget ini dengan Nusantara. Kanjeng Nabi itu ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi teladan, ing madya mangun karsa, di tengah memberi semangat, tut wuri handayani, di belakang memberi kekuatan.”

Demi meneladani Muhammad SAW itu pulalah, Gus Sufi mengadakan Open House. Bukan cuma mengundang orang-orang untuk bercengkerama dan bersantap bersama, tapi ia juga berbagi kebahagiaan lainnya.

Tapi, Kang Soleh toh tetap mencari celah. “Undangannya kok Open House, sih, Gus? Bilang tidak mau kearab-araban, tapi malah kebarat-baratan,” celanya.

“Lha mosok mau disebut buka rumah? Rumahku kapan sih kututup? Siapa pun boleh datang kapan pun. Ya begini ini Islam Nusantara yang bisa menerima khazanah kekayaan bangsa-bangsa, Kang. Bukan bersikap antipati, tapi bersikap simpati. Islam Nusantara itu bukan anti yang serba Arab. Sudah berabad-abad kok budaya Arab kawin-mawin dengan budaya Nusantara. Tenang saja,” jelas Gus Sufi.

“Trus kenapa Open House diadakan sebelum Lebaran? Islam Nusantara juga alasannya?” kata Kang Soleh ketus.

“Sekalian Bukber, Kang. Lagipula, saya besok mau mudik. Sampeyan mudik juga, kan?” ujar Gus Sufi.

“Ya, jelas. Saya mudik tiap tahun, Gus. Mumpung lebaran. Kapan lagi bisa kumpul sanak-saudara dan sungkem kepada orang tua?” jawab Kang Soleh.

“Nah, mudik itu Islam Nusantara!”

  • Aldila Himawan

    hidup klepon! 😀
    tooooop!

  • Semleho

    lek ora gelem diarani islam nusantara yo ojo MUDIK hahahahaha. intine wong seng nyinyir masalah islam nusantara itu adalah orang yang gagal otak sehingga menjadikan gagal paham dengan konsep sosiologi islam nusantara.

  • Bambang Tedja

    Yaelahh yg mudik bukan cuma muslim kali..bahkan mudik kita kalah besar dgn saat imlek di china..atau natal di amrik.

  • Mokhsa Imanahatu

    Mantap tenan gus, gus

  • Zahid Mafaza

    Iya bisa berarti persepsi nya bukan islam baru, tapi islam nusantara persepsinya bisa ke arah ‘islamnya indonesia’. Jadi berasa terpisah / bercabang / versi. Padahal Islam mah islam aja, ‘rahmatan lil alamin’.
    ‘Lah, gimana kalo ga semua orang mikir gitu?’
    iya masalahnya bukan kalau engga. Tapi kalau iya!!
    Mencegah lebih baik daripada mengobati, ceunah 🙂

    • hde226868

      bisa jadi rang-orang pada berantem cuma karena masalah persepsi, atau beda kosakata, jauh dari ranah hakekat.

    • oka stava

      Kalo ketemu anak sekolah lg ngitung 3×3=6 , apa lebih baik dibiarkan saja mas??
      Setau saya, membekali pengertian tentang kebenaran lebih baik ketimbang mencegah orang untuk berpikir benar.. ehehe :)))

      • Zahid Mafaza

        oke, kesimpulan dari pendapat saya dan anda. Tentang persepsi dan berpikir benar. apakah sebutan islam nusantara itu benar? ehehe :))

  • ekágvz

    Islam nusantara adalah soal persepsi. Islam adalah tetap islam, yang menanggapinya serius, bahkan antipati terhadap islam nusantara itu hanya masalah soal IQ

  • Nafidzatun Nuril Lailin Nishfa

    Islam Nusantara adalah salah satu jurusan di Pascasarjana UIN Suka Yogykarta, hehehe

  • rozan

    Islam Nusantara itu seperti smartphone merek apple. Kalau ada smartphone merek samsung, lenovo, advan, nokia dan sebagainya. Intinya kan tetep smartphone, cuma beda merek. Kalau mau beli merek lainnya, ya monggo silakan.
    yang penting bisa wifi-an bareng2 sambil ngopi dan mojok.

    • mbah

      analoginya smart…..

  • fahmi

    islam nusantara itu adanya di bandung.. Alamat : Jl. Soekarno Hatta No. 530.Bandung he he

  • hatmahir

    http://mendarasislam.blogspot.jp/2015/07/gus-dur-ttg-pribumisasi-islam.html?m=1 penjelasan lebih lanjut mengenai islam nusantara atau yang disebut Gus Dur pribumisasi islam

  • Klepon yang membuka hati -bagi yang mendapat hidayah-!

    nice article 🙂

No more articles