Rencana Kuliah Tatap Muka dan Perasaan Takut Mati sebagai Orang Tua

MOJOK.COCovid-19 bikin ratusan anak jadi yatim piatu. Itulah kenapa sebagai orang tua, saya cemas dengan rencana kuliah tatap muka semester depan.

“Bapak, kenapa Elsa yang akhirnya jadi ratu?” tanya anak pertama saya yang masih berusia 5,5 tahun. Iya, Elsa yang itu, yang di film animasi Frozen.

Saya jawab, “Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan Elsa adalah anak pertama. Besok kamu juga gitu ya, kalau Bapak dan Ibu sudah meninggal, gantian kamu yang jagain adik.”

Anak sulung saya mungkin anggap pembicaraan itu sudah kelar, tapi setelah ngomong begitu rasanya justru saya yang pikirannya baru terbuka. Hal yang bikin saya merenung sejenak.


Gimana ya kalau saya mati dalam waktu dekat? Bagaimana nasib anak-anak saya dan istri?

Jujur saja, beberapa tahun terakhir saya mulai takut akan kematian. Bahkan ketakutan itu saya rasakan makin meningkat akhir-akhir ini.

Ketakutan itu ada hubungannya dengan status saya sebagai pendidik di sebuah universitas, dan rencana kuliah tatap muka yang akan dilaksanakan mulai semester depan alias bulan Agustus 2021.

Untuk anak-anak sekolah (PAUD hingga SMA), kegiatan tatap muka direncanakan akan dimulai pada minggu kedua Juli 2021. Hal ini saya ketahui saat rapat wali murid seminggu yang lalu.

Untungnya, sekolah anak saya tetap memfasilitasi murid-murid yang orang tuanya tidak menghendaki anaknya untuk ikut kelas tatap muka, termasuk saya dan 27% orang tua lain.

Baca juga:  Sampai Erdogan Suntik Vaksin Sinovac pun Kamu Masih Tak Mau Percaya? Woy, Maumu Itu Apa?

Oh iya, usia saya yang masih kurang dari 45 tahun dan tidak tercatat mempunyai komorbid menjadi salah dua alasan kenapa mata kuliah yang saya ampu terpilih untuk dilaksanakan secara luring.

Itu artinya mulai semester depan saya harus sering keluar rumah dan akan ketemu dengan banyak orang.

Pada praktiknya, mungkin nanti saya masih dapat ngeyel dengan tetap bersikeras untuk mengajar dari rumah. Lha wong orang tua saya sendiri aja semenjak pagebluk ndak pernah ta kunjungi kok malah ngaboti mengisi kuliah, misalnya. Tapi apakah pendidik yang lain juga berani punya pilihan itu?

Saya ambil contoh satu kasus. Awal Juni 2021 dilaporkan ada klaster di salah satu SMA di Pekalongan, Jawa Tengah.

Guru yang sedang sakit dan mengalami gejala panas tetap memaksakan untuk berangkat dan mengajar dari sekolah. Akibatnya, 38 dari 58 guru di sekolah tersebut terkena Covid-19. Bhaa…

Pertanyaannya, siapa yang dapat disalahkan dari kasus ini? Apakah guru yang sakit tersebut?

Eits, tunggu dulu. Guru tersebut tetap masuk dan mengajar dari sekolah karena dia ndak punya pilihan lain.

Dia takut tunjangan kinerjanya dipotong karena izin ndak masuk kerja. Kondisi yang jamak terjadi dan akhirnya memunculkan klaster sekolah, terutama setelah pemerintah mengeluarkan aturan bahwa guru wajib hukumnya untuk mengajar dari sekolah.

Saya memahami bahwa hal ini adalah salah satu risiko pekerjaan yang harus ditanggung oleh pelayan publik, seperti tenaga kesehatan, guru SMA di Pekalongan, maupun saya di universitas.

Baca juga:  5 Alasan Putus Sama Pacar Saat KKN

Permasalahannya, siapa yang dapat menjamin bahwa kami semua akan tetap hidup ketika sudah terkena Covid-19 dan harus dirawat, misalnya?

Sebelum berpulang dan bertemu Tuhan, Cak Rusdi Mathari pernah menulis dalam salah satu bukunya yang berjudul Seperti Roda Berputar (2018): “Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.”


Masih terlintas jelas dalam ingatan bahwa saya menangis setelah menyelesaikan buku beliau. Saya membayangkan ada pada posisi putra beliau, Voja Alfatih, apa yang dia pikirkan dan rasakan saat memalingkan muka sambil menggenggam erat tangan Cak Rusdi.

Saya ndak mau hal itu terjadi pada anak-anak saya, tidak dalam waktu dekat.

Masalahnya, awal Juni kemarin saya membaca sebuah artikel pada portal BBC. Artikel yang ditulis oleh Vikas Pandey dan Andrew Clarance tersebut sukses membuat hati saya hancur lebur. Mereka berdua menjelaskan dengan lugas bagaimana Covid-19 dengan kejamnya membuat ratusan anak menjadi yatim piatu.

Anak-anak yang belum paham bahwa orang tuanya sebenarnya sudah tiada, bukan masih hidup dan sedang pergi bekerja.

Hal ini harus kita akui secara nyata juga terjadi di Indonesia. Kita seharusnya belum lupa tentang kisah Aisyah, seorang anak berusia 10 tahun di Tangerang Selatan yang menjadi yatim piatu karena Covid-19. Ada juga Kaka Rhidofa beserta kakak dan adiknya yang juga kehilangan kedua orang tuanya karena Covid-19.

Baca juga:  Membaca Ijtima Ulama Pakai Kitabnya Al-Ghazali dan Khonghucu

Pertanyaan berikutnya, siapa yang dapat menjamin bahwa anak-anak ini nanti? Siapa yang bisa menjamin anak-anak yatim piatu itu tidak menjadi korban perdagangan, mengalami trauma dan kesedihan berlarut, serta (amit-amit naudzubillah min dzalik) mengalami pelecehan?

Kita semua tahu bahwa saat ini sedang terjadi lonjakan dan peningkatan kasus Covid-19 yang sangat signifikan pasca-lebaran. Rata-rata dalam seminggu terakhir, tercatat ada 7.326 kasus baru dan 183 kematian yang dilaporkan.

Melihat angka-angka itu, tentu saja saya berharap Pemerintah meninjau kembali kebijakan mereka terkait sekolah dan rencana kuliah tatap muka. Minimal menunda tatap muka sampai kondisinya lebih kondusif.

Kecuali kalau memang risiko sudah diminimalisirkan sekuat mungkin atau kematian-kematian tersebut hanya dianggap sebagai angka-angka statistik yang tak bernyawa, itu sih terserah Pemerintah juga sih.

Tiba-tiba di tengah renungan serius saya di meja makan itu, anak kedua saya yang masih berumur 3 tahun menimpali jawaban saya ke kakaknya, “Ya kalau Bapak belum mau meninggal, kita main kartu aja!”

Perkara mati memang menunggu soal giliran dan urutan, tapi ya nggak ditungguin sambil main kartu juga dong, Nak. Mbok ya yang lain… main saham, gitu.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mahasiswa yang Ngira Dosen Tak Ngapa-ngapain selama Pandemi dan tulisan Bachtiar W. Mutaqin lainnya.