MOJOK.CO – Punya nama kepanjangan itu memang agak merepotkan. Terutama untuk ngisi lembar jawab komputer di UAN. Kolom nama nggak pernah cukup.

Membaca tulisan Pak Sugiyanto mengenai namanya sendiri yang sangat pendek karena terdiri dari satu kata saja, saya tersenyum—ngakak lebih tepatnya. Dalam hati saya bersyukur tidak mengalami hal serupa. Terutama di bagian punya nama cuma satu kata.

Sebab jika orang-orang yang punya nama satu kata “menderita” di berbagai aspek administrasi kehidupan, saya malah berkebalikan 180 derajat soal nama. Bagi saya orang yang punya nama panjangnya kayak kereta gerbong lah yang berhak merasa repot secara administrasi.

Kayak saya—misalnya, yang punya nama terdiri dari enam kata.

Karena orang dengan nama satu kata mengeluhkan kreativitas bapaknya atau orang yang kasih nama, saya awalnya juga merasa (diam-diam) bangga dengan ke-kreatif-an Bapak di rumah. Bapak saya ternyata amat kreatif, visioner, dan sangat modern.

Namain anak aja kayak lirik pantun. Cakeeep.

Tapi tunggu dulu, apa iya memiliki nama lebih dari satu kata menguntungkan? Apa iya harus disyukuri sebegitunya?

Saya pikir-pikir. Saya pikir ulang. Saya ingat lagi pengalaman masa lalu saya, “Ah, nggak juga tuh.”

Repot mah iya. Kepanjangan. Syukurnya repot-repot nama panjang itu saya rasakan mulai SMP. Sebelumnya tidak.

Kenapa gitu? Begini ceritanya.

Sebelum kenal dan ribet dengan berbagai formulir saya hanya tahu nama Nopa sebagai nama saya. Di rumah, di sekolah, di pasar, di kali, di kebun, di sana, di sini, di mana-mana orang-orang memanggil saya Nopa. Yang aselinya ditulis: Nova.

Baca juga:  Kolom: Fisika dan Kimia dalam Memasak

Oke, sejak dini saya sudah ngeh kalau saya orang Batak. Artinya saya punya marga. Jadi sudah pasti saya paham kalau saya punya nama minimal dua kata. Kalau di usia dini itu saya udah punya paspor, bisa tuh dengan sombong saya pamer punya surname.

Bapak yang keturunan Raja Lottung si sia sada ina, na pasia boruna mewariskan marga Siregar ke saya. Jadilah… Nova Siregar.

Itu nama saya yang saya ingat sampai lulus TK.

Itu baru dua ya, empat sisanya nanti. Sabar.

Lanjut!

Lalu saat hendak mendaftar les bahasa inggris, di kelas 3 SD, saya tahu nama saya yang lain: Basa.

Tante saya menyebut nama itu sebelum kata Nova. Saya ingat waktu itu yang menulis di buku induk peserta les adalah Bu Dwi. Pengajar di Omega Education Center di Liwa, Lampung Barat, saat saya sekolah.

Bu Dwi awalnya sempat salah nulis, Bossanova.

Satu komentar keluar, “Bapaknya suka jazz nih kayaknya”. Tante saya buru-buru mengoreksi, “B-A-S-A, Bu, ngga ada ‘o’ dan ‘s’-nya satu aja. Terus dipisah sama Nova, Bu.”

Jadilah… Basa Nova Siregar. Itu nama saya yang saya ingat sampai lulus SD. Oke, gerbongnya tambah satu lagi.

Lulus dari SD masa SMP pun tiba.

Di kelas saat pelajaran IPA, saya jadi bahan becandaan seru waktu materi asam-basa. Seru buat mereka dan buat saya. Ada perasaan bangga karena berpikir bahwa ada kemungkinan inilah alasan kenapa nama saya Basa.

“Bapak demen kimia nih kayaknya. Atau malah dulunya jenius kimia tersembunyi kayak Walter White di serial TV Breaking Bad? Waaah.”

Baca juga:  Kafir yang Baik dan Benar

Dan sejak SMP itu saya fine-fine aja dengan kalimat-kalimat lontaran kawan macam begini: “Weee, pH nya lebih dari 7.”

“Sini coba pegang kertas lakmus merah, pasti berubah warna.”

“Kamu itu pahit dan licin sekali, Basaaa.”

“Arrhenius itu siapamu, Bas?”; atau…

“Apa bener kalo kamu berendam dalam air bisa menghasilkan ion OH-?”

Maaf ya buat yang SMA-nya IPS kalau kalian nggak paham guyonan anak kimia. Maaf. Ini bukan mau soksokan jadi anak eksak kok.

Masa SMP itu juga adalah masa di mana saya mulai sering mengisi nama lengkap di berbagai formulir. Nama yang harus matching dengan dokumen-dokumen lain.

Di masa ini saya jadi sering melihat dokumen-dokumen pribadi seperti Akta Kelahiran, Surat Baptis, dan Ijasah dari dua jenjang pendidikan sebelumnya.

Ternyata, setelah melakukan penelusuran panjang, jeng-jeng-jeng… nama saya 3 kata lebih panjang dari yang saya ingat sejak kecil. Alamak!

Begini. Setelah Nova ternyata ada Tria. Setelah Tria ada Manambual. Setelah Manambual ada Palembang. Dan barulah Siregar ada di belakang. Benar-benar kereta gerbong ini.

Sekarang saya mikir, waktu Ujian Nasional SD harusnya saya sudah ngeh soal ini kan?

Apalagi pas ngisi kolom nama di lembar jawab komputer yang harus melingkari sampai hitam penuh itu. Sedihnya, saya ngga ngeh dan nggak inget. Cuma inget momen di mana saya harus mengisi kolom identitas saya selalu lebih lama dari kawan lain.

Baca juga:  Tujuh Alasan Penulis Mojok adalah Pendamping Hidup yang Ideal

Kalau dalam proses ngisi nama dalam lembar jawab komputer UAN sebagian orang bisa ninggalin dulu dan ngisi belakangan, saya jelas nggak bisa.

Sebab mau sepanjang apa pun kolom nama mereka sediakan untuk lembar jawab komputer, nama saya tak pernah muat. Akhirnya mungkin saat itu saya cuma kasih inisial aja di beberapa kata di nama saya. Itu pun hitungannya masih puuuanjang juga.

Saya sendiri pernah bertanya langsung ke Bapak, “Pak, namaku kok banyak banget? Kepanjangan tahu, Pak.”

“Banyak gitu karena banyak yang sayang, Nop.”

“Maksudnya?”

Bapak langsung berkisah,

“Gini, Nang. Kamu itu dulu kami tunggu lamaaa kali. Sembilan tahun setelah nikah baru datang. Semua keluarga senang waktu kamu lahir. Saking senangnya mereka semua semangat nyumbang nama.”

Saya masih nyimak.

“Opung Balige kasih nama ‘Manambual’ yang (katanya) artinya setia. Uda Simanjuntak kasih nama ‘Tria’. Mamak kasih nama ‘Palembang’ karena wangsit dalam mimpi. Nah, kalau Bapak kasih nama ‘Basa’ karena kamu itu berkat.”

“Kalau Nova?”

“Itu karena lahir di bulan November, Nang.”

“Oh.”

“Bapak ini sih pengennya namamu cuma Basa Nova Siregar, yang berarti ‘berkat bulan November di keluarga Siregar’. Tapi kan nggak boleh egois. Semua saran ya Bapak masukkan jadinya. Dang tabo bah (nggak enak lah).”

“Jadi bukan karena Bapak suka jazz aliran bossanova?”

Daong (bukan).”

“Bukan juga karena Bapak seneng kimia?”

“Ya nggak lah, kalau zaman dulu ada pembagian kelas IPA-IPS, bapakmu ini sudah pasti masuk IPS.”

Pfft, ealah. Udah kadung bangga padahal.