Jambore Mojok 2017

Saya tumbuh bersama sebuah media berbahasa Jawa, kalawarti Jaya Baya. Bagi pembacanya, Jaya Baya dipanggil dengan mesra: Jebeng. Komunitas pembacanya tumbuh dan solid. Hingga ketika media ini tutup, para pembacanya bergerak, terlibat, bekerja keras sampai kemudian Jaya Baya lahir lagi.

Tentu saja Mojok bukan Jaya Baya. Tapi pada banyak hal serupa. Termasuk ketika Mojok tutup. Para pembaca setianya memenuhi timeline Twitter dan menjadi salah satu trending topic teraneh waktu itu. Sebuah petisi online diunggah. Semua perhatian diberikan. Mungkin karena hal itu pula, kurang dari 24 jam ketika Mojok ditutup, berbagai tawaran datang untuk menghidupkan lagi. Continue reading “Jambore Mojok 2017”