Tak Dijawab

Kalau dituruti, mungkin waktu kami akan habis untuk sekian hal yang tidak pernah kami persiapkan. Hampir setiap hari undangan berdatangan via email Mojok. Dari mulai bertanya soal harga iklan, ajakan kerjasama, wawancara, sampai izin untuk berkunjung di kantor. Kantor?

Ya. Ada lusinan surat resmi kunjungan ke ‘kantor’ kami, dan saking bingungnya tak ada yang kami jawab. Karena kami tak punya ‘kantor’. Kami hanya menempati rumah mungil dengan 3 kamar. Dua kamar dipakai untuk tempat tidur bagi kru Mojok dan beberapa teman lain, sekaligus untuk menampung teman-teman kami yang sering datang ke Yogya. Kamar yang satu lagi dipakai untuk ruang komputer. Selebihnya hanya ada dapur dan ruang tamu yang menyatu. Di situ, kami kerap bekerja. Bekerja? Ah, enggak juga. Lebih tepatnya bermain. Kalau ada tamu lebih dari tiga orang, kami lebih sering mengajak mereka bertemu di Angkringan Mojok, yang memang letaknya tak terlalu jauh dari rumah mungil kami.

Coba Anda bayangkan jika yang datang adalah serombongan mahasiswa dengan naik bis, datang ke rumah kami itu. Mau diparkir di mana bisnya, mau ditampung di mana mahasiswa sejumlah 40an orang itu, dan yang lebih penting lagi: mau ngobrol atau belajar apa dari kami?

Saking bingungnya, akhirnya surat-surat yang meminta untuk studi banding dan lain sebagainya itu, tak pernah kami balas. Lagian, semua kru Mojok saling menghindar kalau urusannya berhadapan dengan orang banyak. Bana selalu punya alasan pergi, padahal ya enggak ke mana-mana. Edo selalu punya alasan, “Aku sudah punya pacar, Mas?” Dia pikir puluhan orang yang mau ketemu dia bakal terpesona lalu mau menjadikan dia pacar. Adit yang kerap mengajar pun selalu menghindar karena capek menjawab puluhan pertanyaan dalam satu sesi.

Kalau ada resolusi tahun 2016, inilah yang akan kami bahas terlebih dahulu. Sebab tak baik rasanya terus menghindari dari kunjungan-kunjungan seperti itu. Bagaimanapun, hal itu menunjukkan apresiasi yang baik dari publik kepada Mojok.

Akhir tahun 2014 lalu, rasanya kami tak punya kerepotan apapun. Setahun lalu, Mojok dibaca 5.000 orang saja dalam sehari, rasanya sudah senang bukan kepalang. Kini sehari dibaca 10.000 orang, rasanya memalukan. Sehari dibaca 20.000 orang, tidak ada rasa bangga. Kalau sudah lebih dari 40.000 pembaca dalam sehari, baru rasanya wajar dirayakan dengan satu porsi nasi goreng cakalang dan segelas wedang sereh anget.

Tapi tetap saja ada yang sama. Kami paling susah kalau sudah ada permintaan wawancara. Hampir semua stasiun televisi yang punya program wawancara mesti gigit jari kalau sudah mengundang kami. Jawaban kami pasti standar: “Kalau bisa wawancara via email saja ya, kami agak sibuk.” Memang rada bajingan jawabannya, sudah tahu teve kok ya diminta wawancara lewat email. Asu memang.

Undangan mengisi seminar atau workshop pun bernasib sama. Kalau tidak karena ada kenalan kami yang jadi panitia, undangan hanya cukup dibaca. Selebihnya semua sibuk seakan sedang membaca naskah yang masuk ke meja redaksi. Begitu saya memalingkan muka ke Edo, dia langsung jawab, “Anu eee Mas, tanggal segitu aku pacaran.” Kalau saya palingkan wajah saya ke Bana, dia juga langsung menjawab, “Aku juga ada janjian sama orang, Mas…” Kalau sudah begitu, ya terpaksa tidak dijawab.

Jadi begitulah kira-kira situasi kami, mengapa surat-surat Anda tak kami jawab. Kami tidak tahu harus menjawab apa. Termasuk kalau ada nomor telepon dengan kode 021, hakul yakin gak bakal ada yang mau mengangkat. Sebab di kepala kami langsung saja ada pikiran, “Paling permintaan wawancara…”

Kami tahu itu tidak baik. Tapi ya begitulah. Semoga tahun depan ada solusinya ya…

 

Puthut EA (Kepala Suku Mojok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.