Suksesor Edo

Saya harus agak berhati-hati memilih suksesor Eddward Edo. Ada banyak faktor yang harus saya pertimbangkan. Pertama, saya percaya bahwa setiap redaktur Mojok pasti akan memperkuat citarasa media ini. Bana dan Edo sangat memperkuat citarasa Mojok. Demikian juga dengan Agus Mulyadi. Kedua, ada beban brand yang harus disangga oleh redaktur terpilih. Terkadang hal seperti ini tidak mudah bagi beberapa orang. Sebab bisa menghantam rasa percaya diri mereka. Membenamkannya. Dan itu tidak baik bagi perkembangan mental orang-orang tertentu.

Ketiga, saya harus mempertimbangkan kekurangan Mojok. Media ini masih banyak kekurangannya. Sama seperti saya. Kadang kekurangan itu bahkan cenderung memalukan. Saya tahu tidak mungkin menutup semua kekurangan itu, tapi harus berusaha menambalnya. Sehingga redaktur terpilih harus saya lihat dalam konteks ini.

Keempat, Mojok itu kerja tim. Jadi ikatan antar-kru, bahkan antar-alumni kru pun harus kuat. Percuma pintar tapi tidak bisa menyatu dengan kami. Kelima, nah ini dia… ya mau tidak mau harus orang yang rileks dan cenderung konyol. Mojok media yang jenaka dan kritis. Tidak mungkin dikelola oleh orang yang terlalu serius dan mbentoyong, apalagi sejenis orang yang ingin mengubah dunia. Enggak. Enggak mungkin yang seperti itu.

Dengan semua pertimbangan itu, juga mengandalkan insting saya yang lebih menyerupai Conte daripada Mourinho, saya memilih pengganti Edo sekaligus tandem bagi Agus, seorang perempuan yang pekerja keras, cerdas, sekaligus konyol, dan diam-diam sering menyeringai culas…

Namanya: Prima Sulistya. Dia akan aktif mulai 1 November 2016. Apakah itu patut dirayakan? Tentu saja iya.

Kepala Suku

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.