Sang Penggedor

Dengan mata berkaca-kaca, Pimred Mojok malam ini pamitan kepada saya kalau dia akan meninggalkan Yogya untuk bergabung dengan sebuah media besar: Kumparan. Itu alasan ketiga. Alasan pertamanya, ibunya yang tinggal di Jakarta, meminta anak kesayangannya ini untuk menemani. Alasan keduanya, tahun depan dia berencana menikah dengan seorang pramugari.

Tentu saja saya melepas Sang Penggedor, begitu julukan saya untuknya, dengan hati gembira. Semua teman saya yang di KBEA tentu tahu bahwa KBEA adalah ikatan perkawanan. Bukan perusahaan. Jadi kalau ada salah satu anggota kami pergi, kami justru melepas dengan senang hati. Itu menambah jumlah keluarga kami yang berkarier di media-media besar Jakarta: Fikrie (Beritagar), Bana dan Nuran (Tirto), dan Eddward Edo (Kumparan).

Malam ini juga, seusai Edo mengelap airmata pungkasannya karena kehabisan tisu, saya memutuskan tidak ada lagi jabatan Pimred di Mojok. AS Roma didesak publik Italia agar kelak jika Totti pensiun, kesebelasan kaum serigala itu seyogianya memensiunkan juga nomor punggung 10, milik Totti. Hilangnya jabatan Pimred sebagai bentuk penghormatan saya atas dua Pimred Mojok terdahulu: Arlian Buana dan Edo.

Tapi tentu, Agus Mulyadi butuh tandem. Dan kali ini, berbeda dengan yang dulu, saya tidak membuka lowongan. Saya yang akan mendatangi orang tersebut.

Edo akan memberikan kenang-kenangan kepada kami dengan mengendalikan Mojok seminggu penuh, minggu depan, dengan tema: Pekan Teman.

Edo, jangan menangis. Teruslah menggedor.

Kepala Suku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.