Kritik Mojok

Tadi saya membaca kritikan seorang kawan terhadap Mojok, dan saya kira, ada beberapa poin yang wajib diluruskan, namun juga ada yang perlu diiyakan karena ketepatannya.

Pertama, apakah kualitas Mojok kian menurun?

Kita bisa membincang ini mulai dari hal yang sangat teknis, semisal data peringkat Alexa hingga analisis dari Google Analytics. Pun, kita juga dapat berdiskusi dengan berangkat dari konten per tulisan. Namun, melihat isi kritikan kawan tadi, tampaknya sudah cukup jelas argumennya mengarah kemana: kualitas tulisan. Wabilkhusus tulisan hari ini.

Tentu saya tak bisa serta merta membantah klaim yang menyebut Mojok mengalami penurunan, tetapi saya bisa beri gambaran begini:

Sejak berbulan-bulan lalu, Mojok telah ditinggalkan generasi awal penulis-penulis andalannya karena ada ketentuan profesionalisme kerja yang harus disepakati sebagian besar dari mereka. Jelas ini sebuah pukulan telak bagi kami, mengingat nama-nama seperti Arman Dhani, Nuran Wibisono, termasuk eks Pemred Mojok, Arlian Buana, tengah berada di masa-masa puncak kepenulisannya. Suka atau tidak, nama-nama tersebut memiliki pengaruh yang signifikan dalam perkembangan Mojok. Namun, tentu saja, kami tidak boleh menggantungkan diri semata kepada mereka.

Maka perburuan mencari penulis-penulis baru pun dilakukan oleh tim Mojok, dengan asumsi awal yang sudah diyakini masing-masing awak sebelumnya: akan terjadi tren penurunan.

Syukurlah, pelan-pelan Mojok berhasil membentuk kembali gerbong penulis-penulis baru, meski dengan identitas yang tak sekokoh generasi awal yang memang sudah punya “nama” sebelumnya. Namun yang mengejutkan, mayoritas dari generasi baru ini adalah perempuan. Terdiri dari mahasiswi (angkatan tua atau muda), mamah-mamah muda, pengusaha, pegawai negeri, jurnalis, peneliti, hingga pemusik. Tak sekali dua tulisan mereka meledak di kalangan netizen.

Sebelum melanjutkan ke poin lainnya, saya akan mempersetankan segala argumen yang menganggap fakta di atas menjurus ke persoalan gender, sebab nyatanya memang bukan. Gerbong penulis yang mayoritas perempuan ini justru menjadi kebanggaan diam-diam bagi kami dan kami pun tak merasa perlu mengais apresiasi atau simpati dari pembaca Mojok karena hal tersebut.

Dengan kemunculan generasi penulis baru ini, karakter tulisan Mojok pun menjadi lebih variatif, tidak melulu sarkas dan nyinyir, tetapi juga kadang meneduhkan. Terkait hal tersebut, Mojok pun dapat mengurangi secara drastis internal joke yang biasanya muncul di generasi awal penulis-penulis kami. Hal ini, bagi Mojok, adalah sebuah kemajuan karena internal joke dianggap cukup menyebalkan oleh para pembaca. Saya pribadi juga kerap merasa sebal, kok.

Oke, dengan sekelumit bocoran ini, saya bisa bilang bahwa dalam hal penurunan, Mojok cukup dinamis. Namun jika ditilik dari pergeseran generasi penulis tadi, kami justru mengalami peningkatan.

Kedua, tentang tulisan hari ini. Ada sepenggal klaim dari kritik tadi yang sejujurnya mengganggu saya. Apa yang dimaksud dengan Mojok memberi kesempatan kepada orang-orang Indonesia Timur untuk menulis karena selama ini mereka tak cukup mendapat “jatah” di situsweb kami? Apakah betul mereka mengais-memohon agar diberikan ruang untuk berkarya di Mojok?

Klaim tersebut, dengan penuh rasa hormat saya harus bilang, 100% salah kaprah. Dan saya merasa, justru klaim inilah yang sesungguhnya memiliki dua tendensi rasialis karena, satu, cenderung menganggap Mojok antipati terhadap orang-orang dari Timur, dan memberi kesempatan mereka hanya didasari rasa iba. Dan dua, klaim tersebut seperti menutup mata atas kemampuan orang Timur lainnya. ini jenis klaim yang sesat nalar, tendensius, dan juga konyol.

Ada banyak penulis dari Makassar yang tulisannya pernah tayang di Mojok dan tak sedikit pula yang kami tidak tayangkan. Bahwa masih sedikit orang dari belahan Timur lainnya yang menulis di Mojok, ya memang demikian faktanya.

Itu berarti sederhana saja: memang (masih) jarang penulis dari Indonesia Timur yang mengirimkan tulisannya ke redaksi kami.

Namun, jelas adalah salah total jika hal tersebut kemudian dibingkai dengan kesan seolah-olah Mojok tidak memberikan kesempatan kepada mereka atau memberi mereka kesempatan hanya karena merasa tak enak.

Anda perlu pahami ini: kami tak akan melakukan hal tersebut karena memang tak perlu. Tak ada gunanya, baik secara ideologis maupun pragmatis.

Tetapi saya tidak ingin membahas hal ini lebih jauh, karena semua hanyalah persoalan kesalahkaprahan kesan belaka yang memang rentan terjadi mengingat karakter Mojok, terlebih jika melihat pola guyonannya, memang cukup Jawa-sentris. Saya lebih tertarik membahas isi tulisan yang menjadi sentral kritikan kawan tadi.

Saya kira, penulis artikel tersebut, Muksin Kota, mampu saja menjlentrehkan isi tulisannya dengan lebih komperhensif, berbobot secara intelektual, maupun kokoh secara teoritik. Tapi ia tidak melakukannya karena pertama, ia sadar tengah menulis untuk Mojok yang memang tidak menyajikan konten demikian. Saya percaya jika ia menulis untuk Indoprogress atau Jakarta Beat, misalnya, baik penyampaian maupun isi tulisan tadi akan lebih ketat dan bernas.

Kedua, agak musykil pula menyajikan tulisan yang berbobot dengan jatah maksimal kata tak boleh lebih dari 1200. Tentu saja bisa sebetulnya, tapi akan sangat rentan terjadi misdata maupun kelemahan fondasi teoritik.

Bagi saya, pada titik ini, persoalan ihwal isi tulisan hari ini hanyalah persoalan identitas Mojok sebagai situsweb, bukan yang lain-lain.

Mengenai persoalan stereotipe fisik atau identitas kultural orang Timur yang menjadi guyonan dalam artikel tersebut, saya kira itu ada benarnya, tapi memang juga ada salahnya. Namun, pembaca, saya kira, mestinya cukup mampu menerka tulisan tersebut mengarah kemana dan apa yang sebetulnya sedang dibicarakan dengan membaca utuh konteksnya.

Jika kemudian asumsi saya ini tak sesuai dengan apa yang terjadi, Mojok tentu akan bertanggung jawab agar lebih ketat lagi dalam menyajikan tulisan-tulisan selanjutnya.

Dalam pendapat pribadi saya sebagai manusia yang menikmati humor dan bukan sebagai Pemred Mojok, saya tak pernah ada masalah dengan segala jenis humor. Apapun bentuk humor, meski ekstrim dan sensitif, saya akan tertawa jika memang lucu, dan tidak jika memang tidak. Saya tidak pernah merasa terganggu, termasuk jika humor tersebut menjadikan saya dan orang-orang terdekat saya sebagai objeknya. Dan saya tidak merasa sedang melecehkan seseorang atau apapun jika tertawa atas guyonan yang sensitif.

Sikap ini tentu tak sepenuhnya tepat, hingga derajat tertentu malah cenderung mengganggu kenyamanan banyak orang. Selain itu, sikap ini juga kadang membuat batasan antara diri saya pribadi dan sebagai awak redaksi sebuah situsweb ternama menjadi kabur. Terlebih jika saya menemui tulisan yang sangat cocok dengan selera humor pribadi. Ada dorongan subjektif yang kadang cukup kuat untuk menaikkan tulisan (yang sebetulnya) sensitif tanpa memikirkan lebih jauh efeknya. Dan itu memang cenderung memiliki risiko fatal.

Terlepas dari semuanya, saya tetap sepakat dengan apa yang pernah dikatakan George Carlin, seorang stand up comedian legendaris yang biasa membawakan tema perkosaan, pelecehan seksual, pedofilia, atau Tuhan di beberapa penampilannya.

Ia mengatakan, humor adalah tentang bagaimana Anda mengkonstruknya, menyampaikannya, dan untuk apa humor tersebut dilontarkan, lalu menyesapinya. Dan sebaik-baiknya bentuk humor, kata sebuah arif, adalah dengan menertawakan diri sendiri. Untuk hal ini, saya kira kita harus belajar dari orang Madura atau Gus Dur.

Terima kasih atas kritikannya. Semoga ini tak dianggap penutup yang basa-basi: Mojok akan menjadikan ini sebagai pelajaran penting.

Tabik.

 

Eddward S. Kennedy

Editor in Chief Mojok.Co

One Reply to “Kritik Mojok”

  1. Tulisan yang bagus dan tegas. Tapi sepertinya memang begitu adanya. Saya justru melihat, ini (MDC) menjadi sesuatu yang semoga menjadi besar saat forum sebelah (dengan pandangan sekilas pribadi yang cenderung sebagi SR) mulai “sepi”. Maju terus pokoknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.