Dari Jaya Baya Ke Mojok

Salah satu media yang mewarnai hidup saya adalah majalah berbahasa Jawa: Jaya Baya. Saya bahkan menulis di media tersebut sejak masih duduk di bangku SMP.

Jaya Baya begitu dicintai pembacanya. Saya bahkan sangat suka membaca rubrik ‘Layang Saka Warga’, semacam surat pembaca. Tapi hampir semua isi tulisan itu, baik koreksi, kritik, permintaan dll, disampaikan dengan semangat cinta yang bergelora dari para pembaca kepada Jaya Baya. Komunitas pembaca Jaya Baya pun bertumbuhan, utamanya di kota-kota Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Hebatnya lagi, ketika Jaya Baya mati suri, komunitas pembaca Jaya Baya di berbagai kota itu tetap hidup. Tetap semarak. Mereka rajin bertemu. Bahkan sibuk mengadvokasi bagaimana supaya ‘Jebeng’ (panggilan sayang mereka kepada Jaya Baya) bisa hidup lagi. Dan akhirnya, Jaya Baya bisa hidup lagi.

Bagi saya, pengalaman mengikuti Jaya Baya dari kecil sampai remaja, selalu melekat. Hingga sekarang.

Saya tidak pernah terpikir hal itu akan bisa terjadi lagi, sampai kemudian saya dkk di Akademi Kebudayaan Yogya (AKY) membuat media bernama ON/OFF. Media ini terbit sebulan sekali. Ketika tutup, edisinya sudah lumayan banyak. Kalau tidak keliru sampai 32 edisi. ON/OFF termasuk media yang dicintai pembacanya.

Sebelumnya, saya dan Rahung Nasution (sekarang di kenal sebagai koki kondang), membuat media bernama Ajaib. Sebelumnya lagi, ketika era 98, saya yang waktu itu ditunjuk menjadi ketua departemen Pendidikan dan Propaganda dari Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP), membuat selebaran Bongkar. Selebaran itu agak unik karena dulu kebanyakan organ membuat selebaran hanya dengan selembar kertas. Suatu saat, ketika saya salat Jumat, saya melihat semacam selebaran di masjid bernama ‘Waislama’, dan saya menyontek formatnya. Itu adalah selebaran pertama yang saya tahu, laku dijual. Uangnya, tentu saja untuk menghidupi kegiatan organisasi.

Ketika KPRP melebur dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), yang kelak saya ditunjuk sebagai ketua presidiumnya, menuju ke proses peleburan itu, hal pertama saya kerjakan dengan teman-teman adalah membuat terbitan yang menyatukan mereka (organ-organ mahasiswa dari seluruh Indonesia yang punya kesamaan pandangan). Namanya: Merah. Akronim dari ‘merakit sejarah’.

Ketika internet mulai tumbuh, saya dan sebagian teman mantan penggerak AKY membuat situsweb bernama ‘tandabaca’ (saya lupa waktu itu pakai dotcom atau dotnet atau dot yang lain). Di situlah saya mengisi rubrik ‘bola liar’, yang kelak tulisan-tulisan di sana saya kumpulkan menjadi sebuah buku dengan judul ‘Makelar Politik: kumpulan bola liar, terbitan Insist Press 2008).

Saya sering bingung ketika banyak orang bertanya bagaimana saya dkk bisa membuat Mojok. Tentu ada jawaban formalnya. Tapi yang belum saya berikan adalah jawaban panjangnya. Jawaban yang tidak mudah dirangkai. Hanya bisa dibaca jejaknya. Sekalipun lamat. Jawaban yang kurang-lebih poin-poinnya seperti di atas.

Semalam, ketika saya menyaksikan antusiasme para pembaca Mojok datang di acara ultah kami di Surabaya, di kepala saya langsung terbayang Jaya Baya. Saya melihat mereka datang karena media ini sendiri, bukan karena ada Agus Mulyadi, bukan karena ada acara hiburan, bukan karena ada Kepala Suku. Ketika dibuka sesi tanya-jawab, bahkan sampai harus kami hentikan karena jika dibuka sesi itu terus, acara habis waktu hanya untuk tanya-jawab.

Sampai bertemu nanti malam di Malang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.