Curhat

Hal pertama yang saya lakukan begitu memegang kendali Mojok adalah mendengarkan laporan dua redaktur Mojok: Agus Mulyadi dan Prima Sulistya. Setelah mendengar laporan mereka tentang perkembangan Mojok, saya mencoba mendengarkan keluhan mereka berdua.

“Jadi gini, Mas…” Agus memulai dengan ragu-ragu. “Mmm… menurut kami, rubrik ‘Curhat Mojok’ sebaiknya segera diakhiri.”

Saya agak kaget. “Lho kenapa? Banyak sekali orang ngirim curhat, yang baca juga banyak, engagement bagus, kok diakhiri?”

“Iya sih, Mas. Tapi…” kini Prima yang gantian jawab, “mereka itu enak curhat soal asmara. Sementara aku ini, pacaran putus melulu, masak orang yang gagal dalam urusan asmara menasihati orang-orang yang mengalami hal yang sama.”

“Kalau orang yang berhasil dalam soal urusan asmara malah gak bisa empatik. Sudah bener itu. Lha kamu, Gus. Apa masalahmu? Kamu kan punya pacar…”

“Enggak, Mas. Aku gak ada masalah. Aku hepi-hepi saja, kok.”

“Lho kok kamu sekarang ngomong gitu, Gus.” Prima menyergah ke arah rekannya. “Kan kamu yang kemarin bilang, kita usul ke Mas Puthut agar rubrik itu dihentikan?”

“Siapa bilang? Enggak.”

“Gimana sih kok gak kompak…” saya mencoba menengahi.

“Gini lho, Mas. Dulu itu, semua naskah curhat selalu dibuka dengan ‘untuk Mas Agus’. Kan aku gimana gitu…”

“Sekarang gimana?”

“Sekarang sudah banyak yang langsung ditujukan ke aku.”

“Ya bagus, kan…”

“Mmm, nah terus dulu itu, kalau Agus yang jawab selalu lucu dan bagus. Kalau aku garing.”

“Sekarang gimana?”

“Sekarang sudah mulai lucu sih. Bahkan banyak yang suka.”

“Ya bagus, kan…”

Prima kelihatan bingung. Dia menoleh ke Agus. “Piye to Gus, kok jadi gini. Kamu juga ikut ngomong dong…”

Agus akhirnya bicara. “Sejujurnya begini lho, Mas. Kami itu agak enggak terima. Mereka yang punya masalah, kenapa kami harus yang sibuk memikir masalah mereka?”

“Begini. Aku juga mau tanya: Kenapa para penulis itu yang mengirim naskah, terus kenapa kalian berdua yang harus sibuk memilih dan menyuntingnya?”

“Lha itu memang tugas kami sebagai redaktur.”

“Nah, anggap juga itu tugas kalian dalam mengelola rubrik.”

Prima dan Agus kembali saling memandang. Sebelum mereka ngomong, saya ngomong duluan. “Karena rubrik ini bagus, mestinya kita tingkatkan bukan seminggu sekali. Setidaknya seminggu dua kali.”

Muka keduanya pucat. Agus langsung menyalak, “Mas, plis. Keluhan kami cabut, Mas. Asal rubrik curhat tetap seminggu sekali.”

“Oke. Ada keluhan lagi?”

Mereka berdua kompak menggelengkan kepala.

“Oke. Sebelum Mojok tutup, aku pengen ada dua rubrik lagi. Pertama adalah ‘Horoskop Mojok’, dan kedua adalah ‘Konsultasi Memasak’ dan seputar urusan dapur.” Lalu saya paparkan konsepnya. Mereka berdua berbinar.

Kalis cocok mengisi rubrik ‘Horoskop Mojok’, Mas.” usul Agus dengan wajah merona merah.

“Untuk rubrik ‘Konsultasi Memasak’, Mas Iqbal cocok, Mas. Soalnya dia suka ngaplot makanan.” Prima ikutan usul.

“Oke. Kontak mereka ya…”

“Kalau mereka tidak mau?”

“Tugas kalian untuk membujuk. Karena yang usul kan kalian.”

Mereka berdua melongo. Sebelum kemudian sama-sama terkulai lemas di kursi masing-masing.

agus-prima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.