AADC 2 dan Pembaca Mojok

Orang selalu mudah berpikir dalam dua kutub ekstrem. Salah satunya: publik bisa didikte, dan sebaliknya bahwa elit tak punya agenda atau desain. Yang satu mau mengatakan bahwa publik bodoh, manut, mudah dibengkokkan. Sementara yang kutub lain mau bilang bahwa tak ada yang namanya desain atau lebih mudahnya disebut ‘konspirasi’.

Di satu sisi, konspirasi dianggap pasti bakal terjadi. Sebab publik tak punya daulat sama sekali. Di sisi lain, semua dianggap terjadi begitu saja. Tanpa krenteg dan greget. Tanpa pola.

Menurut saya, jangankan elit, setiap orang saja punya agenda, tujuan, berkolaborasi bahkan berkonspirasi. Desain dan skenario itu niscaya ada. Tapi apakah semua itu berjalan sesuai dengan agenda? Belum kenthu. Eh, belum tentu. Pasti ada pembiasan, perlawanan, pembengkokkan, yang dilakukan oleh publik atau audiens atau massa.

Massa atau publik, punya persepsi, perilaku, dan angan tersendiri, yang bisa membengkokkan dan membiaskan setiap skenario dan konspirasi. Tapi juga jangan pernah beranggapan bahwa tak ada agenda konspirasi di dunia ini. Hanya saja, setiap ada posisi ekstrem, berarti keduanya konyol.

Panjang ini kalau dilanjutkan. Tidak usah dilanjutkan saja. Kita langsung menuju ke pokok soal.

AADC 2 tidak akan bisa dihadang siapapun. Bukan soal filmnya. Bukan juga semata karena strategi komunikasinya. Tapi mungkin dalah satunya, para penonton AADC pertama, kini sedang dalam kondisi mayoritas punya kekuatan baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Merekalah yang terus mendengungkan AADC sebab memang film itulah salah satu pernik yang tumbuh bersama mereka.

Juga bukan soal jelek atau bagus. Jelek pasti ditonton. Bagus juga pasti ditonton. Kemampuan mereka untuk melantangkan dan memberi resonansi inilah yang ikut menyukseskan AADC 2 sehingga di hari pertama tayang saja sudah tembus 200.000 penonton. Tampaknya rekor baru jumlah penonton akan diukir oleh AADC 2. Dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kualitas film (jika kualitas sebuah karya seni, termasuk film, masih penting untuk diperjuangkan).

Walaupun tidak tekun, saya mencoba mempelajari perilaku audiens dalam hal ini netizen, lebih fokus lagi adalah pembaca Mojok. Semua yang ada urusannya dengan AADC disambar. Gak peduli AADC, AADC versi Line, atau AADC 2. Pengunjung tinggi sekali.

Wabil khusus AADC 2, mereka nyaris tidak peduli apakah film itu dipuji atau diejek. Visual di bawah ini (lihat visual 1), menunjukkan angka ketika tulisan Edo yang mengkritik AADC 2: AADC 2 Layak digugat hingga Liang Lahat.

Bahkan tulisan ‘Mengapa AADC 2 Tak Perlu Ditonton’ juga nyaris memecahkan rekor. Publik membaca kedua artikel bernada ‘negatif’ itu dengan antusias, tapi bukan berarti mereka tidak menonton AADC 2. Ini mudahnya seperti kalau Anda caci-maki kesebelasan Manchester United tapi tetap Anda tonton, sekalipun alasannya hanya supaya bisa lebih fasih dalam membuli fans MU.

Bahkan, ketika hari ini kami coba redakan dengan menurunkan artikel yang menurut kami bagus, dan kontennya punya kekuatan (Al Ghazali vs Ahmad Dhani), publik bergeming. Mereka tidak mau ‘patuh’ pada godaan dan skenario kami. Artikel yang baru tayang dengan membawa konten segar dan dua tokoh yang menarik publik, hanya bisa terengah-engah di ranking 4. (Lihat visual 2).

Jadi, selamat merayakan AADC 2. Anda bisa tidak suka. Tapi film itu tak bisa dihadang. Sama seperti para kritikus sastra tak bisa menghadang lakunya Laskar Pelangi.

Publik punya nalar, krenteg, dan greget yang kaya dan beda. Di depan mereka, Anda tidak bisa sombong.

One Reply to “AADC 2 dan Pembaca Mojok”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.